IHSG Anjlok 5,41% ke Level 5.860: Analisis Penyebab

oleh -8 Dilihat
IHSG Anjlok 5,41% ke Level 5.860: Analisis Penyebab

KabarDermayu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Menjelang akhir sesi kedua perdagangan, sekitar pukul 13.30 WIB, IHSG tercatat anjlok 335 poin atau 5,41 persen, sehingga kembali ke level 5.860.

Padahal, pada pukul 11.10 WIB, saat sesi pertama perdagangan akan berakhir, pelemahan IHSG baru mencapai 255,71 poin atau 4,13 persen ke posisi 5.939.

Analis saham dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengemukakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi sentimen utama yang mendorong pelemahan IHSG secara drastis.

“Kami perkirakan koreksi yang terjadi di JCI (Jakarta Composite Index) saat ini disebabkan oleh adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang saat ini sudah mencapai Rp17.928 per dolar AS,” kata Herditya di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa tekanan juga datang dari saham-saham konglomerasi yang mencatatkan pelemahan signifikan. Saham-saham ini menjadi pemberat utama IHSG mengingat kapitalisasi pasar mereka yang besar.

“Di sisi lain, pergerakan IHSG dibebani oleh emiten-emiten konglomerasi yang selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, bahkan mengalami auto reject atas (ARA),” ujar Herditya.

Menurutnya, pergerakan IHSG saat ini masih berada dalam fase pelemahan. Peluang untuk berbalik menguat (rebound) dalam waktu dekat belum terlihat.

“Dari sisi teknikal, pergerakan JCI masih berada di fase downtrend-nya, dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah yang valid,” jelasnya.

Sebagai informasi tambahan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Pada pukul 10.38 WIB pagi tadi, rupiah sudah anjlok menembus level Rp17.905 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal ini mendorong kenaikan harga minyak dunia dan pada gilirannya memperkuat posisi dolar AS.

“Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia, WTI di 94,58 (dolar AS per barel), kemudian Brent crude oil pun mengalami penguatan di 96,72,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu, 3 Juni 2026.

Selain itu, kebuntuan dalam perundingan antara AS dan Iran turut meningkatkan ketidakpastian di pasar global. Ketegangan antara Iran dan Israel juga turut memperburuk sentimen pasar.

Ibrahim menilai, kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, sehingga mendorong harga minyak untuk tetap bertahan di level tinggi.

Lebih lanjut, Ibrahim juga menyoroti potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Kenaikan harga energi yang berkelanjutan berpotensi mempertahankan tekanan inflasi di AS.

“Kita lihat bahwa salah satu pejabat dari bank sentral AS, Hammack, yang dia mengatakan bahwa mungkin perlu bertindak segera jika tren inflasi tidak meredah. Artinya apa? Bahwa ini yang mengindikasikan bahwa kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga satu kali dalam tahun 2026,” ujarnya. (Ant).