Airlangga Hartarto Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2-5,4% di Kuartal II 2026, Bantah Isu Perlambatan

oleh -6 Dilihat
Airlangga Hartarto Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2-5,4% di Kuartal II 2026, Bantah Isu Perlambatan

KabarDermayu.com – Optimisme menyelimuti pemerintah Indonesia terkait performa ekonomi nasional di tengah ketidakpastian iklim global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2026 tetap kokoh, dengan estimasi berada di kisaran 5,2 persen hingga 5,4 persen secara tahunan (year on year).

Proyeksi ini disampaikan Airlangga saat berada di Makassar, Selasa (4/8), menjelang rilis data resmi pertumbuhan ekonomi. Meskipun angka tersebut sedikit di bawah realisasi kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen, pemerintah menegaskan bahwa capaian di atas level 5 persen merupakan bukti nyata ketangguhan ekonomi domestik.

Fundamental Ekonomi yang Terjaga

Airlangga menepis kekhawatiran mengenai adanya perlambatan ekstrem pada laju ekonomi nasional. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat solid. Keyakinan ini didukung oleh sejumlah indikator makroekonomi yang menunjukkan tren positif dan stabil.

Salah satu poin krusial yang menjadi penopang adalah angka inflasi yang berhasil ditekan ke level 2,88 persen, turun dari posisi sebelumnya yang berada di kisaran 3 persen. Selain itu, sektor manufaktur tanah air juga kembali menunjukkan gairah ekspansif, yang tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia yang bertahan di atas angka 50.

“Kondisi ekonomi kita secara fundamental kuat. Inflasi sudah 2,88 persen dan PMI juga naik di atas 50. Ini sinyal bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam jalur yang positif,” ujar Airlangga.

Resiliensi di Tengah Perlambatan Global

Dalam konteks global, ekonomi dunia saat ini diperkirakan hanya tumbuh di kisaran 3 persen. Airlangga menekankan bahwa Indonesia berhasil menjaga momentum pertumbuhan yang jauh lebih baik dibandingkan rata-rata global. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia tidak serta-merta terseret dalam arus perlambatan ekonomi yang dialami oleh banyak negara lain di dunia.

Pemerintah kini berfokus untuk menjaga momentum tersebut agar tetap stabil hingga akhir tahun, baik pada kuartal ketiga maupun keempat. Tantangan ekonomi global yang dinamis memang masih menjadi perhatian, namun pemerintah optimistis bahwa daya tahan ekonomi domestik mampu meredam guncangan tersebut.

Stabilitas Sektor Energi dan Proyeksi Masa Depan

Selain sektor makro, pemerintah juga memastikan bahwa sektor energi nasional dalam kondisi aman. Stabilitas ini terbantu oleh harga minyak dunia yang saat ini masih berada di bawah rata-rata harga pembelian pemerintah, yakni di kisaran US$90 per barel. Dengan terkendalinya harga energi, tekanan terhadap stabilitas ekonomi secara keseluruhan dapat dimitigasi dengan baik.

Berikut adalah beberapa faktor kunci yang menjaga optimisme pemerintah untuk sisa tahun 2026:

  • Inflasi Terkendali: Penurunan ke level 2,88 persen memberikan ruang bagi stabilitas daya beli masyarakat.
  • Sektor Manufaktur Ekspansif: PMI di atas 50 menjadi indikator bahwa industri pengolahan terus bergerak maju.
  • Ketahanan Energi: Harga minyak dunia yang stabil membantu menjaga anggaran dan biaya produksi nasional.
  • Daya Tahan Nasional: Pertumbuhan di atas 5 persen membuktikan Indonesia tidak terjebak dalam tren perlambatan ekonomi global.

Dengan berbagai indikator positif tersebut, pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas ekonomi hingga penghujung tahun 2026. Fokus utama ke depan adalah memastikan momentum pertumbuhan tetap terjaga meskipun situasi global masih dipenuhi oleh ketidakpastian.