Harga Bensin AS Melonjak Rp71 Ribu Akibat Perang, Krisis Energi Dunia Kian Memanas

oleh -6 Dilihat
Harga Bensin AS Melonjak Rp71 Ribu Akibat Perang, Krisis Energi Dunia Kian Memanas

KabarDermayu.com – Harga bensin di Amerika Serikat dilaporkan menembus rekor tertinggi tahun ini, mencapai rata-rata US$4,23 per galon, atau setara dengan Rp71.910 per galon dengan kurs Rp17.000. Angka ini berdasarkan data terbaru dari AAA.

Kenaikan signifikan ini terjadi di tengah memanasnya konflik perang yang kini telah memasuki bulan ketiga. Ketegangan geopolitik yang semakin dalam menjadi pemicu utama lonjakan harga bahan bakar tersebut.

Salah satu faktor krusial adalah blokade yang terjadi di Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini merupakan arteries vital untuk pengiriman minyak mentah dari Teluk Persia ke pasar global.

Terhambatnya pasokan minyak akibat blokade tersebut secara langsung menyebabkan harga minyak mentah melonjak drastis.

Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga minyak internasional, kini diperdagangkan di level US$114,60 per barel, atau sekitar Rp1.948.200. Angka ini menunjukkan kenaikan hampir 25 persen dibandingkan titik terendahnya pada pertengahan April lalu.

Harga minyak Brent saat ini hanya berjarak beberapa dolar dari rekor tertingginya yang sempat menyentuh US$118 per barel.

Sebelumnya, AAA mencatat adanya kenaikan harga bensin sebesar US$0,07 atau sekitar Rp1.190 per galon dalam satu hari.

Secara keseluruhan, harga bensin di AS telah mengalami lonjakan sekitar US$1,25 atau Rp21.250 per galon sejak sebelum perang dimulai.

Situasi ini diperparah oleh beberapa faktor domestik Amerika Serikat. Musim perawatan rutin di kilang minyak membatasi kapasitas produksi.

Selain itu, permintaan bahan bakar juga meningkat seiring mendekatnya musim panas, periode di mana mobilitas masyarakat biasanya lebih tinggi.

Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar dilaporkan berupaya menahan kenaikan harga dengan mengorbankan margin keuntungan mereka. Namun, upaya ini diperkirakan tidak akan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Seorang analis energi, Tom Kloza, menggambarkan kondisi saat ini sebagai tekanan margin terberat bagi para pengecer dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebutkan tekanan ini adalah yang paling serius sejak tahun 2020.

Kondisi ini juga menarik perhatian Bank of America. Dalam sebuah laporan analis, mereka menyoroti potensi risiko yang lebih luas terhadap anggaran rumah tangga di Amerika Serikat.

Risiko terbesar muncul jika kenaikan harga bensin dan minyak ini mulai merembet ke sektor kebutuhan pokok lainnya. Kebutuhan seperti bahan makanan dan utilitas berpotensi mengalami kenaikan harga, meskipun saat ini bukti mengenai hal tersebut masih terbatas.

Bank of America juga memperingatkan bahwa sebagian masyarakat mungkin terpaksa mengandalkan utang untuk menghadapi lonjakan harga ini.

Mereka berpendapat bahwa kemampuan sebagian orang untuk bertahan dari guncangan harga energi dengan lebih mengandalkan pinjaman kartu kredit kemungkinan besar terbatas, terutama bagi rumah tangga dengan tingkat pendapatan rendah.

Dampak kenaikan harga energi ini mulai terasa pada daya beli masyarakat. Namun, beberapa analis berpendapat bahwa pengeluaran rumah tangga untuk bahan bakar saat ini masih relatif lebih rendah dibandingkan periode krisis energi sebelumnya, seperti pada tahun 2008 dan awal dekade 2010-an.

Meskipun demikian, kekhawatiran tetap membayangi. Jika harga energi terus merangkak naik, efek domino terhadap harga kebutuhan pokok seperti makanan dan utilitas bisa semakin memperburuk tren inflasi global.

Baca juga di sini: Menlu Iran: Biaya Perang AS Capai Triliunan Rupiah

Kepercayaan konsumen di Amerika Serikat juga masih menunjukkan tren yang lemah. Meskipun sempat ada sedikit perbaikan pasca-berita gencatan senjata sementara, ketidakpastian ekonomi global masih menjadi bayangan besar yang mempengaruhi pasar.