Bayi 2 Bulan Meninggal di IGD RSUD Syekh Yusuf Gowa, Pihak Rumah Sakit Berikan Tanggapan

oleh -8 Dilihat
Bayi 2 Bulan Meninggal di IGD RSUD Syekh Yusuf Gowa, Pihak Rumah Sakit Berikan Tanggapan

KabarDermayu.com – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syekh Yusuf Gowa memberikan tanggapan terkait kasus kematian seorang bayi berusia dua bulan bernama Athar Ismail. Bayi tersebut meninggal dunia di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada Sabtu, 12 Juni, yang kemudian menjadi viral di media sosial karena dugaan kelalaian dan minimnya pelayanan.

Kepala Bidang Pelayanan RSUD Syekh Yusuf, Nur Wahyudi, menyatakan bahwa penanganan terhadap bayi Athar telah dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan tindakan yang tepat sesuai dengan penyakit yang dideritanya.

Menurut penjelasannya, korban pertama kali masuk ke IGD pada Sabtu malam, 12 Juni, pukul 20.30 WITA. Saat itu, kondisi bayi dalam keadaan kritis akibat demam tinggi yang tidak kunjung turun selama tiga hari.

Sebelumnya, bayi Athar sempat mendapatkan perawatan di Puskesmas Barombong sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Syekh Yusuf Gowa.

Di RSUD Syekh Yusuf, bayi tersebut sempat menerima perawatan medis. Namun, kondisinya terus memburuk, sehingga direncanakan untuk dirujuk ke rumah sakit tipe A lain di Kota Makassar.

Sayangnya, sebelum proses rujukan dapat diselesaikan, bayi Athar dinyatakan meninggal dunia pada Minggu dini hari, 13 Juni, pukul 03.00 WITA.

Dalam sebuah video yang beredar, terlihat orang tua korban dalam keadaan histeris memeluk buah hatinya yang telah tiada. Pihak keluarga korban menduga adanya kelalaian dan buruknya pelayanan rumah sakit, termasuk lambatnya proses rujukan ke rumah sakit yang lebih besar.

Menanggapi tuduhan tersebut, manajemen RSUD Syekh Yusuf membantah adanya kelalaian dari pihak medis dalam penanganan pasien di ruang IGD.

Wahyudi menjelaskan bahwa berdasarkan laporan, kondisi bayi sejak awal masuk rumah sakit memang sudah dalam keadaan kritis.

“Kondisi pasien dalam keadaan berat, menurut penyampaian dari tim dokter kami dan tim perawat. Dia datang dari rumah, dalam kondisi demam di hari keempat, disertai sesak berat, dan kondisi yang agak kuning pada seluruh tubuh,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa sejak awal, tim medis telah menjalankan standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan. Ini meliputi pemberian bantuan pernapasan, infus cairan, serta pemberian obat-obatan melalui suntikan, sesuai dengan protokol penanganan pasien.

“Bahkan tim dokter sejak menit pertama tiba di IGD sudah dilibatkan. Dari hasil pemeriksaan setelah menilai kondisi terakhir korban direncanakan dirujuk ke rumah sakit lain dengan layanan lebih memadai. Namun pada saat belum dirujuk, itu sudah meninggal dunia,” tambahnya.

Terkait isu lambatnya proses rujukan, Wahyudi menjelaskan bahwa pihak rumah sakit telah mengikuti sistem yang berlaku. Rekomendasi rujukan telah diberikan dengan menghubungi tiga rumah sakit tujuan melalui Sistem Rujukan Terintegrasi (Sisrute), yaitu RSUP Wahidin Sudirohusodo, RS Islam Faisal, dan RSUD Labuang Baji.

“Itu dalam keadaan masa kritis. Masih dalam penanganan yang belum stabil, kita tetap stabilkan, sementara proses pengajuan rujukan tetap berjalan saat itu. Tugas kami mengirim, dan penerimaan tergantung sistem yang ada di Sisrute, menunggu konfirmasi dari rumah sakit tujuan.

Kami tidak punya kewenangan (mempercepat), karena itu keweangan rumah sakit penerima. Kita tidak tahu faktor apa yang membuat lambat diterima. Ketika rumah sakit penerima meminta konfirmasi untuk dikirim, keadaan pasien sudah meninggal dunia,” jelasnya.

Atas kejadian ini, pihak RSUD Syekh Yusuf tetap berkeyakinan bahwa tidak ada kelalaian dalam kasus tersebut. Mereka menegaskan bahwa seluruh penanganan telah dilaksanakan sesuai standar medis yang berlaku di IGD oleh tim medis.