KabarDermayu.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang terus terjadi belakangan ini mulai dirasakan dampaknya oleh berbagai sektor industri. Fenomena ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu efek berantai yang signifikan terhadap perekonomian nasional secara keseluruhan.
Anggota Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Shanty Alda Nathalia, menyoroti bahwa kenaikan harga energi ini tidak hanya membebani pelaku usaha, tetapi juga berisiko meluas ke berbagai lini aktivitas ekonomi.
“Dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan DPR RI, kami mencermati kenaikan harga BBM non-subsidi yang menunjukkan tren signifikan dan mulai memberikan tekanan langsung terhadap biaya energi di berbagai sektor produktif,” ujar Shanty dalam keterangannya pada Selasa, 5 Mei 2026.
Baca juga: Safrie Ramadan Minta Maaf kepada Na Daehoon Setelah Lelucon yang Melibatkan Anak-anak Jule
Dampak kenaikan harga BBM ini sudah mulai terlihat nyata di masyarakat, terutama pada sektor perikanan. Salah satu contoh konkret terjadi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Tegalsari, Tegal.
Di pelabuhan tersebut, sejumlah nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut mereka. Penyebab utamanya adalah lonjakan biaya operasional yang tidak lagi ekonomis, terutama dengan harga Solar Non Subsidi yang dikabarkan mencapai sekitar Rp30.000 per liter.
“Kondisi ini sudah terlihat nyata di Pelabuhan Perikanan Nusantara Tegalsari, Kota Tegal, di mana nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut karena terkendala harga Solar Non Subsidi yang mencapai sekitar Rp30.000 per liter, sehingga biaya operasional tidak lagi ekonomis dan aktivitas ekonomi pesisir terganggu,” jelas Shanty.
Shanty menegaskan bahwa situasi ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah. Potensi efek berantai terhadap perekonomian nasional sangat mungkin terjadi, terutama melalui jalur distribusi barang dan kenaikan harga komoditas.
“Kami menekankan perlunya kewaspadaan terhadap potensi multiplier effect terhadap ekonomi nasional, mengingat tekanan biaya energi dapat menjalar ke rantai pasok, mendorong kenaikan harga komoditas, serta berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat,” tegasnya.
Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terkait untuk segera mengambil langkah-langkah antisipatif. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas harga energi dan memastikan keberlangsungan aktivitas sektor-sektor produktif yang vital bagi perekonomian.
Lebih lanjut, Shanty menekankan pentingnya kebijakan yang adaptif dan responsif terhadap dinamika harga energi global. Dengan demikian, dampak negatif terhadap masyarakat dan pelaku usaha dapat diminimalisir secara efektif.





