Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak Saat Trump Bahas Perdamaian Iran

by -3 Views
Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak Saat Trump Bahas Perdamaian Iran

KabarDermayu.com – Fluktuasi harga minyak mentah dunia kembali menjadi sorotan investor menyusul ketidakpastian yang menyelimuti negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Situasi ini memicu kenaikan harga energi dalam sesi perdagangan di Asia pada Selasa pagi, di mana para pelaku pasar menunjukkan sikap kehati-hatian.

Pemicunya adalah adanya sinyal positif terkait pembahasan proposal perdamaian yang diajukan oleh Iran.

Menurut Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, Donald Trump dan tim keamanan nasional AS dilaporkan tengah mengkaji syarat-syarat yang diajukan Teheran.

Syarat tersebut meliputi pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade serta pengakhiran permusuhan oleh Washington.

Mengutip laporan CNBC Internasional, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,66 persen.

Pada perdagangan Selasa, 28 April 2026, harganya mencapai US$97,03 per barel, atau setara dengan sekitar Rp 1,67 juta (dengan estimasi kurs Rp 17.240 per dolar AS).

Sementara itu, minyak acuan global, Brent crude, juga menunjukkan penguatan sebesar 0,44 persen.

Baca juga di sini: Daftar Rumah Sakit Penolong Korban Kecelakaan Kereta Bekasi Timur

Harganya berada di level US$108,67 per barel, yang setara dengan Rp 1,87 juta.

Dalam konferensi pers pada Senin sore, 27 April 2026, Karoline Leavitt mengonfirmasi pertemuan tersebut.

“Saya akan mengkonfirmasi bahwa presiden telah bertemu dengan tim keamanan nasionalnya pagi ini,” ujar Leavitt.

Meskipun demikian, Donald Trump sebelumnya telah menegaskan bahwa pencabutan sanksi hanya akan dilakukan setelah kesepakatan tercapai sepenuhnya.

Ketidakjelasan arah negosiasi ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan di pasar energi global.

Selain itu, gangguan pasokan juga masih menjadi bayang-bayang kekhawatiran.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis penting bagi sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair dunia, masih mengalami disrupsi yang signifikan.

Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, berpendapat bahwa pemulihan pasar minyak tidak akan terjadi dalam waktu singkat, bahkan jika konflik mereda dalam waktu dekat.

Menurutnya, diperlukan waktu berbulan-bulan untuk kembali ke kondisi normal.

Proses ini meliputi pembersihan ranjau laut, penguraian kemacetan tanker, serta pemulihan produksi dan pengolahan minyak.

Lipow memperkirakan pasar minyak global membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam bulan untuk mencapai stabilitas kembali.

Selama periode tersebut, harga minyak berpotensi tetap tinggi seiring dengan menipisnya cadangan yang tersedia.

“Semakin lama konflik berlangsung, semakin tinggi harganya, terutama karena persediaan berkurang hingga ke tingkat operasional kritis,” imbuh Lipow.

Ia memproyeksikan, jika konflik berakhir pada hari ini, harga minyak mentah diperkirakan bisa turun sekitar US$10 per barel.

Namun, jika tidak ada negosiasi baru, harga minyak mentah WTI diprediksi akan kembali naik ke level US$100, dan minyak mentah Brent akan melampaui US$110.