IHSG Membuka Perdagangan dengan Penurunan Akibat Ketegangan di Selat Hormuz

oleh -5 Dilihat
IHSG Membuka Perdagangan dengan Penurunan Akibat Ketegangan di Selat Hormuz

KabarDermayu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Senin, 11 Mei 2026, dibuka melemah tipis. IHSG tercatat turun 9 poin atau 0,14 persen ke level 6.959.

Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, memprediksi IHSG berpotensi untuk rebound pada perdagangan hari ini. Namun, ia menyarankan agar investor tetap berhati-hati dan memanfaatkan momentum sell on high.

Menurut Fanny, IHSG berpotensi mengalami short term technical rebound ke kisaran 7.070-7.130. Meskipun demikian, IHSG masih dinilai rentan untuk kembali mengalami koreksi.

Riset harian BNI Sekuritas pada Senin, 11 Mei 2026, menunjukkan bahwa support IHSG berada di level 6.650-6.850, sementara level resistance berada di rentang 7.070-7.130.

Pelemahan IHSG ini terjadi bersamaan dengan anjloknya mayoritas bursa saham Asia. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, yang kembali memunculkan kekhawatiran investor.

Ketegangan di Timur Tengah ini menguji ketahanan rally pasar saham yang telah terjadi belakangan ini. Investor global cenderung mengambil posisi wait and see atau melakukan aksi jual.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 tercatat turun 0,19 persen, sementara Topix melemah 0,29 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi menunjukkan pergerakan yang berbeda dengan menguat 0,11 persen, dan Kosdaq menguat 0,71 persen.

Baca juga: Ribuan Warga Kendari Terkena Dampak Banjir, Ratusan Rumah Terendam

Sementara itu, bursa saham utama lainnya di Asia mengalami pelemahan. Hang Seng Hong Kong turun 0,87 persen, Taiex Taiwan melemah 0,79 persen, CSI 300 China turun 0,58 persen, dan ASX 200 Australia mengalami koreksi cukup dalam sebesar 1,51 persen.

Bursa di Asia Tenggara juga tidak luput dari tekanan. Straits Times Singapura menurun 0,41 persen, dan FTSE Malaysia berkurang 0,61 persen.

Pemicu ketegangan di Timur Tengah adalah laporan dari komando pasukan Amerika Serikat. Mereka menyatakan bahwa serangan Iran terhadap kapal perusak Angkatan Laut AS saat berlayar di Selat Hormuz telah menimbulkan protes.

Peristiwa ini menambah daftar ketidakpastian geopolitik yang dapat mempengaruhi stabilitas pasar keuangan global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran yang sangat vital bagi perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di area tersebut selalu menjadi perhatian serius pasar.

Sebagai perbandingan, indeks utama Wall Street di Amerika Serikat ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat pekan lalu. Penguatan ini didorong oleh kenaikan saham-saham teknologi, terutama Nvidia, Sandisk, dan saham lain yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).

Laporan pekerjaan di Amerika Serikat yang menguat dari perkiraan juga turut berkontribusi pada penguatan pasar modal AS, menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja di sana.

Indeks S&P 500 tercatat naik 0,84 persen, Nasdaq menguat 1,71 persen, dan Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,02 persen. Saham Nvidia sendiri melonjak 1,8 persen, sementara saham produsen memori dan penyimpanan seperti Micron Technology dan Sandisk masing-masing melonjak lebih dari 15 persen.

Lonjakan saham-saham teknologi di AS tersebut didorong oleh permintaan yang kuat untuk pembangunan pusat data AI yang berkembang pesat. Hal ini menunjukkan bahwa sektor teknologi, khususnya AI, masih menjadi motor penggerak utama pasar saham di AS.

Namun, sentimen positif dari bursa Wall Street tampaknya belum mampu menular sepenuhnya ke pasar Asia. Investor di Asia lebih memilih untuk mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.

Faktor ketegangan geopolitik memang seringkali menjadi penekan utama pergerakan pasar saham, terutama ketika melibatkan negara-negara produsen minyak besar atau jalur perdagangan vital.

Dalam konteks ini, pergerakan IHSG dan bursa Asia akan sangat bergantung pada perkembangan lebih lanjut di Selat Hormuz dan respons dari negara-negara terkait. Jika ketegangan mereda, pasar saham berpotensi pulih. Sebaliknya, jika eskalasi berlanjut, tekanan jual dapat semakin meningkat.

Investor dihimbau untuk tetap memantau berita terkini dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Diversifikasi portofolio juga menjadi strategi penting untuk mengelola risiko di tengah ketidakpastian pasar.

Perlu dicatat bahwa data waktu yang disebutkan dalam artikel ini (Senin, 11 Mei 2026) merujuk pada informasi yang tersedia pada saat artikel asli diterbitkan dan harus tetap dipertahankan sesuai sumbernya.

Secara keseluruhan, kondisi pasar pada Senin, 11 Mei 2026, menunjukkan adanya sentimen negatif yang dominan di bursa Asia, dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Meskipun ada potensi rebound teknikal untuk IHSG, investor disarankan untuk berhati-hati dan mencermati perkembangan situasi global.