Menlu AS: Operasi Epic Fury Tuntas, Misi Baru di Selat Hormuz Menanti

oleh -5 Dilihat
Menlu AS: Operasi Epic Fury Tuntas, Misi Baru di Selat Hormuz Menanti

KabarDermayu.com – Amerika Serikat secara resmi mengumumkan penghentian operasi militer yang ditujukan kepada Iran. Operasi yang dikenal sebagai Epic Fury ini telah berlangsung sejak Februari lalu.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyampaikan langsung pengumuman ini dalam sebuah pengarahan resmi di Gedung Putih.

“Kita sudah selesai dengan tahap itu,” ujar Rubio dalam pernyataannya.

Menurutnya, operasi tersebut telah berhasil mencapai tujuannya sebagaimana yang telah dilaporkan kepada Kongres. Prioritas Amerika Serikat kini tidak lagi pada serangan militer langsung.

Fokus utama Washington beralih pada upaya memastikan jalur perdagangan global tetap terbuka. Hal ini akan diwujudkan melalui sebuah inisiatif baru yang diberi nama Project Freedom.

“Sekarang kita sedang menjalankan Proyek Freedom. Itulah yang sedang kita jalani sekarang. Apa yang mungkin akan terjadi di masa depan masih bersifat spekulatif,” tambah Rubio.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur pelayaran yang sangat vital, dilalui oleh sebagian besar distribusi minyak dunia.

Iran dilaporkan telah mengimplementasikan sistem baru untuk mengatur lalu lintas kapal di kawasan tersebut. Hal ini disertai dengan peringatan dari Korps Garda Revolusi Islam kepada kapal-kapal yang melintas.

Meskipun operasi utama telah dihentikan, situasi di lapangan belum sepenuhnya stabil. Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa gencatan senjata masih berlaku.

Namun, aktivitas militer tetap dilakukan dalam kerangka defensif. Rubio menyebut operasi selama masa gencatan senjata sebagai “operasi defensif.”

Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga telah menyatakan bahwa gencatan senjata belum sepenuhnya berakhir. Sikap serupa terlihat dari Presiden Donald Trump yang tidak memberikan batasan jelas mengenai pelanggaran gencatan senjata.

Baca juga: Ketua DPRD Indramayu Bahas Revisi UU Cipta Kerja dan Perlindungan Lahan Pertanian Bersama Mahasiswa

Trump bahkan secara terbuka tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan serangan jika negosiasi menemui kegagalan atau jika Iran dianggap melanggar kesepakatan.

Di sisi lain, isu nuklir tetap menjadi poin krusial dalam perundingan antara Washington dan Teheran. Rubio menekankan bahwa pembahasan tidak hanya mencakup pengayaan uranium, tetapi juga nasib material nuklir yang telah dimiliki oleh Iran.

“Saya tidak ingin membahayakan negosiasi, tetapi cukuplah dikatakan bahwa presiden dan seluruh tim ini menyadari pentingnya pertanyaan itu, dan itu harus ditangani dengan satu atau lain cara,” katanya.

Rubio juga menyampaikan peringatan keras mengenai potensi ancaman global yang ditimbulkan Iran jika mereka memiliki senjata nuklir.

“Mereka akan melakukan hal yang sama kepada dunia dengan senjata nuklir seperti yang mereka lakukan sekarang dengan Selat Hormuz,” ujar Menlu AS tersebut.

Meskipun fase operasi militer telah resmi diakhiri, ketegangan antara Washington dan Teheran justru memasuki babak baru. Fokus kini sepenuhnya bergeser ke Selat Hormuz, jalur maritim yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.

Dampak ekonomi dari konflik ini sudah terlihat jelas. Sejak ketegangan meningkat pada Februari lalu, permintaan minyak global dilaporkan mengalami penurunan tajam.

Di Amerika Serikat, harga bensin melonjak hingga 50 persen. Angka ini menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah kali ini bukan hanya isu keamanan regional, melainkan telah menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi internasional.

Project Freedom kini menjadi ujian tersendiri bagi Amerika Serikat. Negara tersebut harus mampu menjaga agar Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas internasional.

Upaya ini harus dilakukan sambil menghindari setiap langkah yang berpotensi memicu konfrontasi langsung dengan Teheran.