Negosiasi Iran-AS Gagal, Harga Minyak Meroket

by -6 Views
Negosiasi Iran-AS Gagal, Harga Minyak Meroket

KabarDermayu.com – Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu, memicu kenaikan tajam pada harga minyak dunia.

Ketegangan geopolitik yang memuncak di kawasan Timur Tengah ini secara langsung memberikan tekanan pada pasar energi global. Harga minyak mentah global terpantau bergejolak akibat situasi tersebut.

Dalam perdagangan terkini, harga minyak Brent dilaporkan melonjak lebih dari 2 persen. Nilainya mencapai US$107,89 per barel, yang jika dikonversikan dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS, setara dengan Rp1.834.130 per barel.

Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat (WTI) juga tidak ketinggalan. Harganya tercatat naik lebih dari 2 persen, mencapai US$96,63 per barel atau sekitar Rp1.642.710.

Lonjakan harga ini utamanya dipicu oleh kegagalan rencana putaran kedua perundingan damai antara kedua negara. Situasi semakin memanas menyusul laporan mengenai pasukan Garda Revolusi Iran yang menaiki dua kapal kargo di sekitar Selat Hormuz.

Insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan pada jalur perdagangan energi global yang krusial. Hal ini tentu saja berdampak langsung pada stabilitas pasokan minyak dunia.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan mengambil keputusan untuk membatalkan rencana pengiriman utusan khusus, Steve Witkoff dan Jared Kushner. Mereka dijadwalkan akan melakukan perjalanan ke Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran.

Trump menyampaikan alasannya melalui unggahan di platform Truth Social. Ia menyatakan bahwa terlalu banyak waktu yang terbuang untuk perjalanan tersebut, dan adanya pekerjaan yang harus diselesaikan. Selain itu, ia juga menyoroti adanya perselisihan internal dan kebingungan besar di dalam “kepemimpinan” Iran.

Baca juga di sini: Perkembangan Rupiah dan Fokus Fiskal Indonesia di Tengah Geopolitik Timur Tengah

“Terlalu banyak waktu yang terbuang untuk perjalanan, terlalu banyak pekerjaan! Selain itu, ada perselisihan internal dan kebingungan besar di dalam ‘kepemimpinan’ mereka,” tulis Trump, sebagaimana dikutip dari CNBC, Senin, 27 April 2026.

Lebih lanjut, Trump menekankan posisi Amerika Serikat. “Tidak ada yang tahu siapa yang bertanggung jawab, termasuk mereka sendiri. Selain itu, kami memiliki semua kartu; mereka tidak punya! Jika mereka ingin berbicara, mereka hanya perlu menelepon!!!”

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memang sempat melakukan perjalanan ke Islamabad pada akhir pekan. Namun, perjalanannya tersebut hanya menghasilkan pertemuan dengan pejabat Pakistan.

Tidak ada agenda pertemuan dengan pihak Amerika Serikat yang terkonfirmasi. Hal ini semakin memperjelas mandeknya proses diplomasi yang diharapkan dapat meredakan ketegangan di antara kedua negara.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, juga turut menegaskan posisi resmi negaranya. “Tidak ada pertemuan yang direncanakan antara Iran dan AS,” ujarnya.

Kondisi ini secara otomatis menempatkan pasar energi global dalam posisi yang sangat waspada. Selat Hormuz, yang dikenal sebagai jalur utama pengiriman minyak dunia, kembali menjadi titik krusial yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan.

Potensi gangguan pasokan ini semakin meningkat jika konflik yang ada terus berlanjut dan memburuk. Para pelaku pasar kini memantau dengan cermat setiap perkembangan geopolitik yang dapat memicu volatilitas harga minyak lebih lanjut dalam waktu dekat.

No More Posts Available.

No more pages to load.