Pertumbuhan Laba BRI Didorong oleh Kredit dan UMKM

oleh -3 Dilihat
Pertumbuhan Laba BRI Didorong oleh Kredit dan UMKM

KabarDermayu.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang impresif di Triwulan I 2026.

Bank BUMN ini membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 15,5 triliun, yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 13,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).

Pencapaian gemilang ini didukung oleh fundamental bisnis yang kuat, pertumbuhan kredit yang selektif, efisiensi biaya dana, serta terjaganya kualitas aset.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa situasi ekonomi global masih diwarnai oleh peningkatan risiko geopolitik. Namun, perekonomian Indonesia dinilai tetap tangguh.

Ketahanan ekonomi Indonesia didukung oleh permintaan, pasokan, dan kebijakan fiskal yang memberikan bantalan terhadap ketidakpastian global. Hal ini menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Kondisi ini juga tercermin dalam industri perbankan nasional yang stabil. Intermediasi perbankan kuat, likuiditas memadai, dan risiko terkendali, memungkinkan bank untuk ekspansi secara hati-hati.

“Kinerja solid Perseroan tersebut ditopang oleh pertumbuhan bisnis yang konsisten di berbagai lini,” ujar Hery dalam konferensi pers Kinerja Keuangan BRI Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis, 30 April 2026.

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp 1.555 triliun, tumbuh 9,4 persen yoy. Kontribusi dana murah (CASA) menunjukkan peningkatan solid.

CASA BRI meningkat dari Rp 934,9 triliun pada Triwulan I 2025 menjadi Rp 1.058,6 triliun pada Triwulan I 2026, atau tumbuh 13,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, total kredit dan pembiayaan BRI melonjak 13,7 persen yoy menjadi Rp 1.562 triliun. Segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tetap menjadi pilar utama penyaluran kredit.

Total penyaluran kredit ke segmen UMKM mencapai Rp 1.211 triliun. Secara keseluruhan, total aset BRI tumbuh 7,2 persen yoy menjadi Rp 2.250 triliun.

Kinerja operasional BRI juga terjaga baik, yang tercermin dari Pre-Provision Operating Profit (PPOP) yang tumbuh 7,7 persen secara tahunan menjadi Rp 32,2 triliun.

Perbaikan kinerja ini turut didukung oleh kualitas aset yang semakin terkendali. Indikator Loan at Risk (LAR) tercatat menurun dari 11,1 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 9,7 persen pada Triwulan I 2026.

Di sisi lain, strategi penguatan CASA berhasil mendorong efisiensi biaya dana. Hal ini tercermin dari penurunan cost of fund (CoF) dari 3 persen menjadi 2,3 persen.

Capaian positif di berbagai aspek tersebut pada akhirnya mendorong peningkatan profitabilitas BRI.

Return on Assets (ROA) BRI meningkat menjadi 2,8 persen. Sementara itu, Return on Equity (ROE) naik dari 17,1 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 18,4 persen pada Triwulan I 2026.

Ke depan, Hery Gunardi menyatakan BRI akan terus memperkuat komitmennya yang berfokus pada DNA ekonomi kerakyatan, dengan UMKM sebagai pusat pertumbuhan.

Penguatan ekosistem UMKM akan dilakukan secara menyeluruh (end-to-end).

Ini mencakup pembiayaan, pendampingan usaha, hingga integrasi dengan pasar dan ekosistem digital.

Tujuannya adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Baca juga di sini: Strategi DPR dalam Menyelesaikan Konflik Agraria yang Melibatkan Buruh

“Kami meyakini bahwa pertumbuhan harus diikuti dengan dampak yang nyata. Karena itu, transformasi BRIvolution Reignite diarahkan untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan, tidak hanya bagi perusahaan dan pemegang saham, tetapi juga bagi masyarakat luas,” tutup Hery.