KabarDermayu.com – Pelari asal Kenya, Sabastian Sawe, berhasil mengukir sejarah baru di ajang London Marathon yang diselenggarakan pada Minggu, 26 April 2026.
Ia menaklukkan lintasan sejauh 42,2 kilometer dengan catatan waktu impresif 1 jam 59 menit 30 detik. Prestasi ini menjadikannya sebagai pemegang rekor tercepat dalam sejarah lomba maraton resmi.
Rekor sebelumnya yang dipegang oleh Kelvin Kiptum, yaitu 2 jam 00 menit 35 detik, berhasil dilampaui oleh Sawe.
Keberhasilan Sawe tidak datang begitu saja. Ia menunjukkan performa luar biasa dengan menjaga kecepatan tinggi secara konsisten sepanjang lomba.
Menariknya, ia mampu mencatatkan *negative split*, yang berarti ia menyelesaikan paruh kedua perlombaan dengan waktu lebih cepat dibandingkan paruh pertama.
Pencapaian fenomenal ini sontak mendapatkan berbagai reaksi dari dunia olahraga. Mantan atlet lari Inggris, Steve Cram, bahkan mengungkapkan kekagumannya, menyebut performa Sawe sebagai sesuatu yang “sulit dipercaya” namun terbukti nyata di lintasan.
Dalam kompetisi yang sama, pelari asal Ethiopia, Yomif Kejelcha, juga berhasil menembus rekor dua jam. Ia mencatatkan waktu 1 jam 59 menit 41 detik dan finis di posisi kedua.
Namun, di balik catatan waktu yang luar biasa ini, isu doping yang belakangan marak di dunia atletik tidak bisa dihindari. Sejumlah kasus doping sebelumnya, termasuk yang melibatkan nama-nama besar seperti Ruth Chepngetich dan Wilson Kipsang, membuat publik dan para pengamat cenderung lebih berhati-hati dalam menilai performa ekstrem.
Menyadari hal tersebut, Sabastian Sawe memilih untuk menempuh jalan yang berbeda. Ia secara proaktif meminta agar dirinya diuji lebih sering oleh Athletics Integrity Unit (AIU).
Sebagai gambaran, dalam persiapan menuju Berlin Marathon 2025, Sawe tercatat menjalani tes doping hingga 25 kali dalam kurun waktu dua bulan. Langkah ini diambilnya sebagai bentuk komitmen kuat terhadap transparansi dan integritas dalam olahraga.
“Alasan utamanya adalah untuk menunjukkan bahwa saya bersih, dan saya melakukannya dengan cara yang benar,” ungkap Sawe, seperti dikutip dari ABC News pada Senin, 27 April 2026.
Pelatihnya, Claudio Berardelli, menambahkan bahwa pengujian intensif ini merupakan bagian dari protokol khusus yang terus dijalankan hingga kini. Meskipun frekuensi tes disesuaikan seiring berjalannya musim, komitmen terhadap integritas tetap terjaga.
Baca juga di sini: Juara Umum Taekwondo di Jepang: Tim Garbha Presisi Kalahkan Lawan Internasional
Tidak hanya di sektor putra, rekor baru juga tercipta di kategori putri. Pelari Tigst Assefa berhasil mencatatkan waktu 2 jam 15 menit 41 detik, yang juga merupakan sebuah pencapaian luar biasa.





