Struktur Utang Luar Negeri RI Sehat: BI Pastikan USD 439,8 M

oleh -4 Dilihat
Struktur Utang Luar Negeri RI Sehat: BI Pastikan USD 439,8 M

KabarDermayu.com – Bank Indonesia (BI) memastikan bahwa struktur utang luar negeri (ULN) Indonesia tetap sehat, meskipun totalnya mendekati angka US$440 miliar per April 2026. Kesehatan ini didukung oleh dominasi utang jangka panjang dan kepercayaan investor asing yang terus terjaga terhadap perekonomian Indonesia.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa posisi ULN Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar US$439,8 miliar. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 1,9 persen secara tahunan (year on year/yoy).

“Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 439,8 miliar dolar AS, atau secara tahunan tumbuh sebesar 1,9 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 1,0 persen (yoy),” ujar Ramdan dalam keterangan tertulisnya pada Selasa, 16 Juni 2026.

Peningkatan ini, menurut BI, terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan utang sektor publik. Sementara itu, utang luar negeri sektor swasta masih mengalami kontraksi, meskipun terlihat adanya perbaikan.

“Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN sektor publik di tengah kontraksi ULN sektor swasta yang berlanjut,” jelas Ramdan.

Dari sisi pemerintah, posisi ULN pada April 2026 tercatat sebesar US$216,4 miliar, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 3,7 persen. Meskipun masih meningkat, laju pertumbuhan ini sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,8 persen.

“Posisi ULN pemerintah pada April 2026 sebesar 216,4 miliar dolar AS, atau secara tahunan tumbuh sebesar 3,7 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 3,8 persen (yoy),” papar Ramdan.

BI mencatat bahwa perlambatan ini dipengaruhi oleh mulai melambatnya pertumbuhan pinjaman luar negeri pemerintah. Namun demikian, minat investor asing terhadap instrumen keuangan Indonesia tetap kuat.

“Sementara itu, aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN) tetap mencatatkan net inflow, yang mencerminkan terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia,” katanya.

Pemerintah, lanjut Ramdan, terus mengarahkan pemanfaatan utang luar negeri untuk membiayai sektor-sektor produktif yang memiliki dampak langsung terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

“Sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan ULN,” tegasnya.

Berdasarkan data BI, porsi terbesar utang luar negeri pemerintah digunakan untuk mendukung sektor kesehatan dan kegiatan sosial, mencapai 22 persen dari total ULN pemerintah. Selanjutnya, sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib menyerap 20,5 persen, sektor pendidikan 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5 persen.

Struktur utang pemerintah juga dinilai relatif aman karena hampir seluruhnya merupakan utang jangka panjang.

“Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah,” ungkap Ramdan.

Sementara itu, utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$193,2 miliar pada April 2026. Secara tahunan, sektor ini masih mengalami kontraksi sebesar 0,7 persen, menunjukkan perbaikan dibandingkan kontraksi 1,4 persen pada bulan sebelumnya.

“Posisi ULN swasta pada April 2026 tercatat sebesar 193,2 miliar dolar AS, atau secara tahunan mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,7 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 1,4 persen (yoy),” ujarnya.

Perbaikan ini terutama didorong oleh berkurangnya tekanan pada kelompok lembaga keuangan yang sebelumnya mengalami kontraksi cukup dalam.

Secara sektoral, mayoritas ULN swasta berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan dan penggalian. Keempat sektor ini menyumbang sekitar 79,6 persen dari total utang luar negeri swasta.

BI menegaskan bahwa indikator kesehatan utang Indonesia masih berada dalam batas yang aman. Salah satu indikatornya terlihat dari rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tetap stabil.

“Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang stabil sebesar 29,6 persen pada April 2026 dan didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 84,5 persen dari total ULN,” kata Ramdan.

Untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan utang, BI dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang luar negeri serta berbagai risiko global yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.

“Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN,” pungkasnya.