Wamentan Sudaryono Mengaku Dipukul dan Dilempar Air dalam Diskusi UGM yang Ricuh

oleh -8 Dilihat
Wamentan Sudaryono Mengaku Dipukul dan Dilempar Air dalam Diskusi UGM yang Ricuh

KabarDermayu.com – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono melaporkan adanya insiden yang tidak menyenangkan saat menghadiri forum diskusi bersama mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Senin malam, 15 Juni 2026.

Forum tersebut juga dihadiri oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko.

Sudaryono mengaku mengalami pemukulan dan pelemparan air di tengah berlangsungnya forum yang diadakan di kawasan Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.

“Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga,” ujar Sudaryono dalam keterangan resminya pada Selasa, 16 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa situasi menjadi tidak kondusif, sehingga pihak keamanan menyarankan para narasumber untuk segera meninggalkan lokasi.

Menurut Sudaryono, acara diskusi tersebut bukanlah agenda mendadak, melainkan telah direncanakan sebelumnya dan telah mendapatkan izin dari pihak kampus. Ia menekankan bahwa diskusi tersebut awalnya berjalan lancar dan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pandangan serta kritik mereka.

“Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa sesi diskusi tersebut berlangsung selama kurang lebih 30 hingga 40 menit. Namun, situasi mulai memanas ketika sekelompok peserta menyatakan keinginan agar kegiatan tersebut dihentikan.

“Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog,” ungkap Sudaryono.

Meskipun situasi memanas, Sudaryono dan Nusron Wahid tetap berada di lokasi. Mereka meyakini bahwa dialog adalah cara terbaik untuk menjembatani perbedaan pendapat. Namun, setelah terjadi pelemparan air dan dugaan aksi fisik, aparat keamanan meminta para narasumber untuk meninggalkan area diskusi demi keselamatan mereka.

Terkait tudingan bahwa dirinya meninggalkan lokasi untuk menghindari pertanyaan mahasiswa, Sudaryono dengan tegas membantahnya. Ia menegaskan kembali bahwa kehadirannya sejak awal memang bertujuan untuk berdialog secara terbuka dengan mahasiswa.

“Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog,” pungkasnya.

Setelah forum utama terhenti akibat kericuhan, dialog disebut tetap berlanjut secara informal. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa menyampaikan berbagai kritik terkait persoalan agraria dan dugaan penggusuran di sejumlah wilayah.

Menanggapi berbagai masukan dan kritik tersebut, Sudaryono menyatakan kesediaannya untuk melakukan pengecekan langsung terhadap laporan yang disampaikan oleh mahasiswa.

“Kalau memang ada penggusuran atau persoalan agraria tertentu, ayo kita cek bersama. Saya bahkan siap menggunakan dana pribadi untuk mendatangi lokasi dan melihat langsung persoalannya,” kata Sudaryono.

Ia menekankan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak anti terhadap kritik dan siap melakukan perbaikan apabila ditemukan kekeliruan dalam pelaksanaan kebijakan.

“Kalau ada yang keliru, kita perbaiki. Itu cerminan demokrasi. Orang boleh punya pendapat, tetapi juga harus menghargai pendapat orang lain,” ujarnya.

Sudaryono juga menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang sebenarnya ingin mengikuti diskusi hingga selesai, namun terpaksa tidak dapat melakukannya karena kondisi forum yang tidak lagi kondusif.

“Saya minta maaf kepada adik-adik mahasiswa yang sebetulnya ingin berdialog secara baik. Kami siap jika diundang kembali, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Yang penting kita berdiskusi,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah akan terus membuka ruang komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat dan siap menerima masukan demi perbaikan kebijakan yang ada.

“Atas dasar cinta kepada negara, kami siap berdialog dengan siapa pun. Ini bukti bahwa pemerintah demokratis dan terbuka terhadap kritik maupun masukan,” tutupnya.