Bocoran Tes Kepribadian EPPS untuk Memilih Calon Karyawan yang Loyal

oleh -7 Dilihat
Photo by id.scribd.com - Bocoran Tes Kepribadian EPPS untuk Memilih Calon Karyawan yang Loyal

KabarDermayu.com – Tes Kepribadian EPPS atau Edwards Personal Preference Schedule adalah instrumen psikometri yang dirancang untuk mengukur 15 kebutuhan dasar manusia guna memprediksi kecenderungan perilaku, loyalitas, dan kecocokan kandidat dengan budaya kerja perusahaan.

Dalam dunia rekrutmen profesional, mencari karyawan yang tidak hanya kompeten secara teknis tetapi juga memiliki komitmen jangka panjang adalah tantangan besar. Perusahaan sering kali terjebak pada kandidat yang pintar di atas kertas namun memiliki nilai personal yang bertolak belakang dengan visi organisasi. EPPS hadir sebagai alat evaluasi untuk memetakan motivasi internal seseorang yang sering kali tidak muncul dalam sesi wawancara biasa.

Memahami 15 Variabel dalam Tes EPPS

Tes EPPS bekerja berdasarkan teori kebutuhan Henry Murray. Tes ini menyajikan pasangan pernyataan yang memaksa calon karyawan memilih satu dari dua opsi yang sama-sama menarik atau sama-sama tidak menarik. Dari pilihan tersebut, psikolog dapat melihat profil psikologis subjek secara objektif. Terdapat 15 variabel utama yang diukur, di antaranya adalah kebutuhan akan prestasi (achievement), dominasi (dominance), keteraturan (order), hingga afiliasi (affiliation).

Bocoran Tes Kepribadian EPPS untuk Memilih Calon Karyawan yang Loyal

📷 Photo by id.scribd.com

Untuk perusahaan yang mencari loyalitas, variabel seperti Order (keteraturan) dan Endurance (daya tahan) menjadi indikator krusial. Seorang kandidat dengan skor Endurance tinggi cenderung lebih sabar dalam menghadapi tekanan pekerjaan dan tidak mudah menyerah atau berpindah haluan saat menghadapi tantangan di awal masa kerja.

Tabel Perbandingan Profil Kebutuhan untuk Loyalitas

Variabel EPPS Indikator Perilaku Kaitan dengan Loyalitas
Endurance Ketekunan menyelesaikan tugas Memprediksi stabilitas dan komitmen jangka panjang.
Order Kerapihan dan keteraturan kerja Kandidat lebih mudah beradaptasi dengan sistem perusahaan.
Abasement Penerimaan terhadap kesalahan Menunjukkan kemauan untuk belajar dan tidak arogan.
Change Keinginan mencari hal baru Skor rendah menandakan stabilitas, skor tinggi rentan bosan.

Pentingnya Membaca Profil Secara Komprehensif

Kesalahan umum yang sering dilakukan oleh HRD adalah hanya melihat satu variabel secara terisolasi. Padahal, loyalitas adalah hasil dari kombinasi beberapa variabel. Sebagai contoh, seorang kandidat mungkin memiliki skor Achievement yang sangat tinggi, namun jika skor Change juga sangat tinggi, ada risiko karyawan tersebut akan segera mencari tantangan baru di perusahaan lain setelah merasa mahir di posisi saat ini.

Sebaliknya, kandidat dengan skor Order dan Endurance yang stabil biasanya menunjukkan pola kerja yang konsisten. Mereka adalah tipe karyawan yang menghargai prosedur dan merasa nyaman dengan lingkungan yang terstruktur. Dalam jangka panjang, tipe ini cenderung lebih loyal karena mereka tidak mencari sensasi atau perubahan drastis dalam karier mereka.

Langkah Praktis Menggunakan Hasil EPPS dalam Rekrutmen

Agar hasil tes EPPS efektif dalam menyaring kandidat loyal, berikut adalah langkah praktis yang bisa diterapkan oleh tim rekrutmen:

  1. Tentukan profil ideal (job profile) yang dibutuhkan untuk posisi tersebut, misalnya apakah posisi ini membutuhkan inovator (skor Change tinggi) atau eksekutor stabil (skor Endurance tinggi).
  2. Lakukan tes EPPS di tahap awal sebelum wawancara mendalam untuk menyaring kandidat yang profil psikologisnya tidak sesuai dengan budaya perusahaan.
  3. Validasi hasil tes dengan pertanyaan berbasis perilaku (behavioral event interview) saat wawancara untuk mengonfirmasi apakah kecenderungan dalam tes tercermin dalam pengalaman kerja masa lalu mereka.
  4. Bandingkan skor kandidat dengan rata-rata skor karyawan berkinerja tinggi yang sudah ada di perusahaan untuk melihat pola kecocokan (culture fit).
  5. Gunakan hasil EPPS sebagai bahan pertimbangan, bukan satu-satunya penentu, karena integritas dan nilai moral tetap perlu digali melalui referensi kerja.

Risiko Interpretasi yang Salah

Ada bahaya besar ketika penguji terlalu kaku dalam membaca angka. Tes EPPS bukanlah tes lulus atau gagal seperti tes matematika. Skor yang tinggi di satu variabel tidak selalu berarti positif bagi semua posisi. Misalnya, variabel Dominance yang terlalu tinggi pada staf administrasi mungkin justru memicu konflik internal, meskipun orang tersebut sangat berprestasi.

Bocoran Tes Kepribadian EPPS untuk Memilih Calon Karyawan yang Loyal

📷 Photo by id.scribd.com

Oleh karena itu, HRD harus memahami bahwa loyalitas bersifat situasional. Seorang karyawan bisa menjadi sangat loyal jika kebutuhan dasarnya terpenuhi oleh perusahaan. Jika hasil EPPS menunjukkan kandidat memiliki kebutuhan Affiliation yang tinggi, mereka akan loyal selama lingkungan kerja mendukung hubungan interpersonal yang harmonis.

Kesalahan Umum dalam Penggunaan EPPS

Kesalahan fatal yang sering terjadi adalah mengasumsikan bahwa tes kepribadian bisa mendeteksi kejujuran. EPPS bukan tes kejujuran (seperti tes kejujuran atau lie scale). Kandidat bisa saja melakukan manipulasi jawaban jika mereka mengetahui profil pekerjaan yang diinginkan. Untuk itu, penting untuk memberikan instruksi bahwa tidak ada jawaban benar atau salah, sehingga kandidat lebih rileks dan memberikan jawaban yang lebih jujur.

Selain itu, jangan mengabaikan faktor stres saat tes. Jika kandidat mengerjakan tes dalam kondisi lelah atau tertekan, hasilnya mungkin tidak merepresentasikan kepribadian asli mereka. Pastikan lingkungan tes kondusif agar data yang diperoleh akurat.

Tanya Jawab Seputar Tes EPPS

Q: Apakah tes EPPS bisa menjamin 100 persen bahwa seorang kandidat akan loyal?

A: Tidak ada tes psikologi yang menjamin 100 persen perilaku masa depan. EPPS hanya memberikan gambaran kecenderungan psikologis yang membantu HRD membuat keputusan berbasis data, bukan sekadar intuisi.

Q: Variabel mana yang paling penting untuk posisi kepemimpinan?

A: Untuk posisi pemimpin, kombinasi antara Dominance (untuk mengarahkan), Achievement (untuk target), dan Intraception (untuk memahami orang lain) biasanya menjadi indikator yang sangat kuat.

Q: Apakah hasil tes EPPS berlaku selamanya bagi seseorang?

A: Kepribadian memang cenderung stabil, namun kebutuhan dan motivasi seseorang dapat berubah seiring bertambahnya usia, pengalaman hidup, dan jenjang karier. Hasil tes biasanya disarankan untuk divalidasi ulang jika sudah lebih dari dua tahun.

Mengintegrasikan tes EPPS dalam proses rekrutmen adalah langkah cerdas bagi perusahaan yang ingin membangun tim yang solid. Dengan memahami apa yang memotivasi karyawan di balik layar, perusahaan dapat menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat, yang pada akhirnya akan meningkatkan retensi karyawan dan meminimalkan angka perputaran tenaga kerja (turnover).

📷 Photo by id.scribd.com