BRIN Buka Suara Soal Keamanan Data Satelit Lampung-1, Aman?

oleh -11 Dilihat
BRIN Buka Suara Soal Keamanan Data Satelit Lampung-1, Aman?

KabarDermayu.com – Isu keamanan data yang sempat mencuat di tengah kolaborasi riset antariksa antara Indonesia dan China melalui proyek satelit Lampung-1 akhirnya mendapatkan respon resmi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa seluruh kendali atas pengelolaan serta penyimpanan data yang bersifat strategis bagi tanah air tetap berada di bawah otoritas penuh lembaga tersebut.

Kekhawatiran publik muncul seiring dengan keterlibatan pihak asing dalam pengembangan satelit tersebut. Menanggapi hal itu, Kepala BRIN, Arif Satria, memastikan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan antara Pemerintah Provinsi Lampung dan berbagai pemangku kebijakan terkait di Indonesia guna memitigasi risiko kebocoran data.

Berbicara di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis, Arif menjelaskan bahwa proses diskusi mengenai protokol keamanan data telah menjadi prioritas sejak awal. Ia menekankan bahwa BRIN memegang kendali penuh atas data yang dihasilkan untuk kepentingan nasional, sehingga masyarakat tidak perlu merasa cemas mengenai potensi penyalahgunaan informasi oleh pihak luar.

“Semua yang terkait dengan soal penyimpanan data dan lain sebagainya untuk kepentingan Indonesia, itu BRIN yang akan memiliki otoritas. Insyaallah aman,” tegas Arif kepada awak media.

Sebagai informasi, proyek satelit Lampung-1 merupakan bagian dari misi kerja sama internasional yang melibatkan perusahaan antariksa komersial asal China, STAR.VISION, serta Universitas Wuhan. Satelit yang merupakan bagian dari konstelasi Oriental Smart Eye (OSE) Hyperspectral ini dirancang untuk mendukung penginderaan jauh, pengembangan kecerdasan buatan (AI), serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor teknologi antariksa.

Satelit ini baru saja meluncur ke orbit pada Rabu pagi, 5 Agustus, menggunakan roket pengangkut Jielong-3 Y12 yang diluncurkan dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China. Keberhasilan peluncuran ini menandai langkah awal bagi Provinsi Lampung dalam memanfaatkan teknologi satelit untuk pemetaan wilayah dan analisis data berbasis AI.

Di samping mengawal proyek kerjasama tersebut, BRIN juga tengah fokus memperkuat kemandirian teknologi antariksa nasional. Arif Satria membocorkan rencana besar lembaga tersebut untuk meluncurkan satelit karya anak bangsa yang diberi nama BRIN NEO-1. Satelit ini sepenuhnya diproduksi di fasilitas riset BRIN yang berlokasi di Bogor.

Rencananya, BRIN NEO-1 akan mulai mengorbit pada awal tahun 2027. Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi satelit asing sekaligus membangun kapabilitas industri antariksa dalam negeri yang lebih berdaulat.

Pengembangan teknologi satelit sendiri menjadi salah satu agenda prioritas BRIN dalam beberapa tahun terakhir. Selain proyek satelit, lembaga ini juga aktif melakukan inovasi di berbagai sektor lain, termasuk teknologi energi seperti teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG). Teknologi ANG ini diklaim mampu memberikan efisiensi yang signifikan, dengan potensi penghematan subsidi LPG bagi negara hingga mencapai Rp26 triliun per tahun.

Dengan adanya penegasan dari BRIN terkait keamanan data satelit Lampung-1 serta rencana peluncuran satelit mandiri, diharapkan kepercayaan publik terhadap tata kelola riset dan teknologi di Indonesia semakin meningkat. Fokus utama ke depan tetap pada pemanfaatan data satelit untuk kemajuan ekonomi daerah dan efektivitas kebijakan berbasis data.