Gen Z dan Strategi Bertahan di Tengah Krisis Ekonomi

oleh -5 Dilihat
Gen Z dan Strategi Bertahan di Tengah Krisis Ekonomi

KabarDermayu.com – Perubahan drastis dalam lanskap ekonomi global telah memberikan dampak signifikan, tidak hanya pada dunia bisnis tetapi juga pada cara generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), memandang prospek finansial mereka di masa depan.

Gen Z kini dihadapkan pada kenyataan ekonomi yang penuh dengan tantangan, mulai dari lonjakan biaya hidup yang terus meningkat hingga ketidakpastian yang berkepanjangan di pasar kerja.

Dalam konteks inilah, muncul sebuah fenomena baru yang dikenal sebagai “disillusionomics”. Istilah ini merangkum bagaimana Gen Z beradaptasi dan merespons sistem ekonomi yang mereka anggap tidak lagi sesuai dengan harapan dan cita-cita konvensional.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung mengikuti jalur tradisional seperti mencari pekerjaan tetap dan membuat perencanaan finansial jangka panjang, banyak dari Gen Z kini mengadopsi pendekatan yang lebih dinamis dan fleksibel.

Konsep disillusionomics ini pertama kali diperkenalkan oleh Alice Lassman, seorang ekonom muda yang mengamati adanya pola perilaku baru di kalangan generasinya.

Lassman berpendapat bahwa Gen Z tumbuh di tengah siklus krisis ekonomi yang berulang, yang pada gilirannya membentuk pandangan mereka yang berbeda terhadap stabilitas ekonomi. Ia mengutip bahwa “Sistem ekonomi yang dibicarakan orang tua mereka sebenarnya tidak akan berjalan dengan cara yang sama bagi mereka,” sebagaimana dilaporkan oleh Fortune pada Sabtu, 2 Mei 2026.

Terdapat kesenjangan yang jelas antara ajaran ekonomi tradisional yang mereka terima dan realitas ekonomi yang mereka alami saat ini. “Saya pikir ada perasaan umum di kalangan anak-anak di sekolah dan dari konten yang mereka konsumsi, bahwa semuanya tidak berjalan sebagaimana mestinya,” tambah Lassman.

Situasi ini mendorong banyak anggota Gen Z untuk merevolusi strategi keuangan pribadi mereka. Konsep-konsep seperti kepemilikan rumah, perencanaan pensiun, bahkan pembentukan keluarga kini tidak lagi menjadi tujuan utama yang dianggap realistis oleh sebagian besar dari mereka.

Sebagai gantinya, mereka mulai merangkul strategi diversifikasi sumber pendapatan. Tren memiliki lebih dari satu pekerjaan atau aliran pemasukan menjadi semakin marak. Ini mencakup pekerjaan utama, pekerjaan sampingan (side hustle), hingga partisipasi aktif dalam gig economy dan ekonomi digital, seperti menjadi kreator konten atau membangun usaha kecil-kecilan.

Pendekatan ini membuat pengelolaan keuangan Gen Z terlihat seperti portofolio investasi, di mana setiap aktivitas memiliki potensi untuk menghasilkan keuntungan finansial. Kemajuan teknologi yang memungkinkan monetisasi berbagai aspek kehidupan sehari-hari turut memperkuat tren ini.

Selain itu, sikap skeptisisme terhadap institusi-institusi tradisional, baik pemerintah maupun korporasi, semakin mengemuka di kalangan Gen Z. Hal ini secara langsung memengaruhi pengambilan keputusan finansial mereka, termasuk dalam hal pola konsumsi dan strategi investasi.

Kyla Scanlon, seorang pengamat ekonomi, melihat fenomena ini sebagai bagian dari transformasi perilaku ekonomi yang lebih luas di kalangan generasi muda. “Ketika semua jalur konvensional semakin sempit, orang mulai mencari alternatif. Dalam praktiknya, itu berarti beralih ke beberapa peluang yang masih terlihat menjanjikan, meskipun risikonya tinggi,” jelasnya.

Perubahan juga terlihat pada pola konsumsi Gen Z. Mereka cenderung lebih cermat dalam memilih barang dan jasa, serta lebih mengutamakan nilai intrinsik produk dibandingkan sekadar merek. Tren mencari alternatif produk yang lebih terjangkau menjadi semakin umum.

Meskipun demikian, tekanan ekonomi tetap menjadi tantangan fundamental yang dihadapi generasi ini. Beban utang yang tinggi, dikombinasikan dengan ketidakpastian masa depan, memaksa Gen Z untuk terus beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika ekonomi yang berubah.

Baca juga di sini: Aksi Pria Bergelantungan di Sedan Mewah yang Melaju Kencang di Jakarta Barat, Ini Penyebabnya

Fenomena disillusionomics pada dasarnya merupakan cerminan dari upaya Gen Z untuk bertahan hidup dan berkembang dalam sistem ekonomi yang mereka pandang tidak lagi menawarkan jalur kesuksesan yang jelas dan terjamin. Pendekatan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah pergeseran fundamental yang berpotensi membentuk arah baru perilaku ekonomi global seiring dengan meningkatnya peran Gen Z di pasar kerja dan sebagai konsumen.