KabarDermayu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan melanjutkan tren penurunannya pada awal Mei 2026. Posisi terakhir IHSG tercatat di level 6.956,80 setelah mengalami koreksi sebesar 2,03 persen pada Kamis, 30 April 2026.
Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, menyatakan bahwa IHSG telah mengonfirmasi pembentukan subwave v dalam skenario utamanya. Konfirmasi ini terjadi setelah indeks menembus level 6.942 pada hari Kamis lalu.
Menurut Ivan, tren bullish baru hanya akan terlihat jika IHSG mampu menembus ke atas level 7.126. Ia menambahkan bahwa target dari subwave v di level 6.727 berpotensi tercapai apabila IHSG menembus di bawah level support mingguan di 6.838.
Adapun level-level support IHSG berada di area 6.838, 6.727, dan 6.587. Sementara itu, level resistance yang perlu diperhatikan berada di angka 7.126, 7.277, 7.403, dan 7.582.
Meskipun ada proyeksi penurunan, Ivan memperkirakan beberapa emiten akan menunjukkan kinerja yang solid pada sesi perdagangan hari ini. Berikut adalah rekomendasi saham potensial yang menarik untuk diperhatikan oleh para investor:
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR)
- Rekomendasi: Buy on Weakness
- Area Beli: 1.690-1.750
- Target Harga: 1.950
PT Astra International Tbk (ASII)
- Rekomendasi: Buy on Weakness
- Area Beli: 5.850-5.950
- Target Harga: 6.375
PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Baca juga: Arus Kendaraan di GT Cikampek Utama Saat Libur Panjang
- Rekomendasi: Trading Buy
- Area Beli: 226-232
- Target Harga: 266
PT Indah Kiat Pulp Paper Tbk (INKP)
- Rekomendasi: Trading Buy
- Area Beli: 9.050-9.250
- Target Harga: 10.525
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
- Rekomendasi: Trading Buy
- Area Beli: 1.610-1.650
- Target Harga: 1.830
Dalam riset hariannya pada Senin, 4 April 2026, Ivan Rosanova juga menyoroti pentingnya memantau level-level kunci tersebut untuk mengambil keputusan investasi yang tepat di tengah tren koreksi yang masih berlangsung.
“Pergerakan IHSG masih menunjukkan volatilitas yang perlu diwaspadai. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan melakukan analisis mendalam sebelum melakukan transaksi,” ujar Ivan.
Koreksi yang terjadi pada IHSG ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sentimen global dan domestik. Analis lain juga menambahkan bahwa fluktuasi harga komoditas, seperti minyak, dapat memberikan tekanan tambahan pada pasar saham.
Meskipun IHSG diproyeksikan masih dalam tren bearish, rekomendasi saham-saham di atas menawarkan potensi keuntungan bagi investor yang jeli melihat peluang di tengah pelemahan pasar. Strategi “Buy on Weakness” menyarankan investor untuk membeli saham ketika harganya sedang turun, dengan harapan akan terjadi pembalikan arah ke atas.
Sementara itu, “Trading Buy” lebih cocok untuk investor yang memiliki horizon waktu lebih pendek dan fokus pada pergerakan harga jangka pendek. Penting untuk dicatat bahwa rekomendasi ini bersifat analisis dan bukan jaminan keuntungan. Investor tetap perlu melakukan riset mandiri dan mempertimbangkan toleransi risiko masing-masing.
Faktor-faktor ekonomi makro, seperti kebijakan suku bunga, inflasi, dan stabilitas politik, juga akan terus memengaruhi pergerakan IHSG ke depannya. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif terhadap kondisi pasar sangatlah krusial bagi para pelaku pasar modal.





