KabarDermayu.com – Meta Platforms Inc., perusahaan induk dari raksasa media sosial seperti Facebook dan Instagram, mengambil langkah berani dengan mengalokasikan dana investasi yang sangat besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). Langkah ini diambil meskipun divisi metaverse mereka, Reality Labs, baru saja melaporkan kerugian yang fantastis.
Reality Labs dilaporkan mengalami kerugian sebesar US$80 miliar atau setara dengan Rp 1.389,6 triliun (menggunakan kurs estimasi Rp 17.370 per dolar AS) sejak tahun 2020. Angka kerugian ini menjadi sorotan utama bagi para investor.
Namun, Meta tidak gentar dan justru menaikkan proyeksi belanja modal (capex) mereka hampir sebesar US$10 miliar. Proyeksi terbaru kini berada di kisaran US$125 miliar hingga US$145 miliar, yang dinilai sebagai pengeluaran yang tidak dapat dihindari untuk mengejar ketertinggalan di era AI.
Chief Financial Officer Meta, Susan Li, menjelaskan bahwa perusahaan terus menerus meremehkan kebutuhan komputasi mereka. Hal ini terjadi meskipun kapasitas komputasi telah ditingkatkan secara signifikan, seiring dengan kemajuan pesat di bidang AI dan penemuan proyek serta inisiatif baru yang menarik oleh tim mereka.
“Kami terus meremehkan kebutuhan komputasi kami meskipun kapasitas telah kami tingkatkan secara signifikan, seiring kemajuan AI yang terus berlanjut dan tim kami terus menemukan proyek serta inisiatif baru yang menarik,” ungkap Susan Li, seperti dikutip dari Yahoo Finance pada Senin, 4 Mei 2026.
Investasi besar tidak hanya difokuskan pada AI, tetapi juga pada divisi metaverse melalui Reality Labs. Pada kuartal pertama tahun 2026 saja, unit bisnis metaverse ini mencatat kerugian operasional sebesar US$4,03 miliar. Sejak Reality Labs mulai melaporkan kinerjanya secara terpisah pada akhir tahun 2020, total kerugian yang diderita divisi ini telah mencapai sekitar US$80 miliar.
Tekanan biaya yang signifikan mendorong Meta untuk melakukan efisiensi besar-besaran. Perusahaan melakukan pemangkasan tenaga kerja global sekitar 10 persen, yang berarti sekitar 8.000 karyawan terkena dampaknya. Khusus di Reality Labs, jumlah karyawan juga dipangkas sekitar 10 persen dari total 15.000 orang yang bekerja di divisi tersebut.
Selain masalah finansial, Meta juga menghadapi tantangan penurunan jumlah pengguna. Perusahaan kehilangan sekitar 20 juta pengguna global dalam tiga bulan pertama tahun ini. Penurunan ini menjadi perhatian utama, terutama mengingat perusahaan selama ini sangat mengandalkan basis pengguna yang besar sebagai mesin pertumbuhan utamanya.
Susan Li menjelaskan bahwa penurunan jumlah pengguna ini dipicu oleh beberapa faktor. Gangguan internet di Iran dan pembatasan akses WhatsApp di Rusia menjadi penyebab utama. Meskipun demikian, Meta masih mencatat lebih dari 3,5 miliar pengguna aktif harian di seluruh portofolio aplikasinya, termasuk Facebook dan Instagram.
“Gangguan internet di Iran, serta pembatasan akses ke WhatsApp di Rusia,” tegas Susan.
Kerugian jumbo yang dialami perusahaan, penurunan puluhan juta pengguna, serta laporan kinerja kuartal I-2026 memberikan tekanan berat pada pergerakan saham Meta di pasar. Saham Meta Platforms terkoreksi tajam sebesar hampir 9 persen pada sesi perdagangan Kamis, 29 April 2026.
Meskipun demikian, kinerja keuangan Meta yang melampaui ekspektasi analis, baik dari sisi laba bersih maupun pendapatan, tidak mampu menopang harga sahamnya di pasar. Dalam laporan yang disampaikan ke Securities and Exchange Commission (SEC), perusahaan yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg ini membukukan pendapatan sebesar US$56,3 miliar dan laba bersih mencapai US$26,8 miliar.
Sebagian dari laba bersih tersebut didorong oleh manfaat pajak satu kali sebesar US$8 miliar. Jika dilihat secara tahunan, pendapatan perusahaan tumbuh 33 persen, yang sekaligus menandai lonjakan kenaikan tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Kinerja saham Meta berbanding terbalik dengan rivalnya, Alphabet Inc. Saham Alphabet justru melonjak lebih dari 9 persen dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Hal ini terjadi meskipun Alphabet juga meningkatkan proyeksi belanja modalnya menjadi US$180 miliar hingga US$190 miliar.
Analis dari Hargreaves Lansdown, Matt Britzman, menilai bahwa investor kini mulai bersikap lebih hati-hati terhadap agresivitas belanja AI. Menurutnya, pasar tidak lagi sepenuhnya sepakat dalam menilai rencana belanja untuk pengembangan bisnis AI.
“Investor masih mencoba menyeimbangkan besarnya peluang AI dengan kebutuhan dana yang diperlukan untuk mengejarnya,” kata Britzman.
Meski demikian, Britzman berpendapat bahwa investor berpotensi melewatkan kekuatan fundamental Meta yang sebenarnya masih solid. Hal ini terutama terlihat dari bisnis iklan dan monetisasi yang berbasis AI.
Baca juga: Mitsubishi Pajero Terdaftar di Indonesia, Tampilannya Terungkap
“Meta masih terlihat sebagai salah satu contoh paling jelas dari investasi besar yang mampu diterjemahkan menjadi keuntungan bagi bisnis inti,” pungkasnya.





