Wanita Kritis Akibat Ditembak Sniper Israel, H-10 Pernikahan

oleh -6 Dilihat
Wanita Kritis Akibat Ditembak Sniper Israel, H-10 Pernikahan

KabarDermayu.com – Hari pernikahan seharusnya menjadi momen puncak kebahagiaan, namun tidak bagi Hala Salem Darwish dan tunangannya, Mohammed Shreihi. Sepuluh hari sebelum hari bahagia mereka, Hala harus berjuang melawan maut setelah peluru sniper Israel menembus kepalanya.

Peristiwa tragis ini terjadi ketika Hala, yang berusia 19 tahun, sedang membantu keluarganya mempersiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Tiba-tiba, sebuah peluru melesat masuk melalui jendela rumahnya dan menghantam bagian belakang kiri kepalanya, membuat Hala seketika jatuh di hadapan keluarganya.

Mohammed Shreihi, sang tunangan, menggambarkan insiden ini sebagai mimpi buruk yang menghancurkan harapan mereka. Pernikahan yang telah lama dinantikan kini terancam batal akibat kekejaman yang tidak terduga.

“Tinggal 10 hari lagi menuju pernikahan kami. Dalam sekejap, semuanya berubah,” ujar Mohammed kepada Anadolu Agency.

Ia menambahkan bahwa peluru tersebut masih bersarang di kepala Hala, menyebabkan kerusakan parah pada jaringan otaknya. Kondisi Hala saat ini kritis dan belum stabil, membuatnya belum dapat menjalani operasi. Para dokter masih menunggu kondisinya membaik sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.

Baca juga: Perjuangan 22 Tahun Banditoz Yaow 86 di Balik Fenomena Kicau Mania Sambil Merawat Anak Spesial

“Dia seperti calon pengantin lainnya, penuh kebahagiaan dan harapan. Sekarang kami hanya berharap dia bisa selamat,” tutur Mohammed dengan nada pilu.

Bagi keluarga Hala, insiden ini juga meninggalkan luka mendalam dan kenangan pahit yang sulit dilupakan. Salim, ayah Hala, masih teringat jelas detik-detik mengerikan saat putrinya tertembak.

“Kami sedang menyiapkan makanan, lalu tiba-tiba peluru Israel masuk lewat jendela dan mengenainya. Dia jatuh di depan kami. Saya tidak bisa melupakan kejadian itu,” ungkap Salim.

Salim menjelaskan bahwa pernikahan Hala dijadwalkan berlangsung pada awal Mei, sebuah tanggal yang telah dipersiapkan matang oleh keluarga meskipun di tengah situasi perang yang sulit.

Sistem Kesehatan di Tepi Jurang

Kasus yang menimpa Hala merupakan cerminan suram dari kondisi sistem kesehatan di Gaza yang berada di ambang kehancuran. Dokter menyatakan bahwa perawatan yang dibutuhkan Hala tidak tersedia di wilayah tersebut, sehingga ia memerlukan rujukan medis ke luar negeri sesegera mungkin.

Diperkirakan, sekitar 22.000 warga Palestina di Gaza yang terluka dan sakit membutuhkan perawatan di luar wilayah mereka. Kondisi ini diperparah oleh kelangkaan obat-obatan dan peralatan medis yang sangat parah.

Tunangan Hala telah mengajukan permohonan kepada Komite Internasional Palang Merah dan berbagai organisasi kemanusiaan lainnya untuk segera turun tangan. Harapan terbesar mereka adalah agar Hala dapat dievakuasi tepat waktu untuk mendapatkan perawatan yang menyelamatkan nyawanya.

Saat ini, gaun pengantin yang seharusnya dikenakan Hala masih tersimpan rapi, sementara masa depan yang telah mereka rencanakan bersama kini diselimuti ketidakpastian.

Sementara itu, Israel dilaporkan terus melanggar kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada Oktober lalu. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, pelanggaran ini telah menyebabkan 830 warga Palestina tewas dan 2.345 lainnya terluka.

Gencatan senjata tersebut awalnya bertujuan untuk mengakhiri serangan Israel selama dua tahun di Gaza, yang telah merenggut lebih dari 72.000 nyawa, melukai 172.000 orang, dan menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi pasca-konflik ini mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.