Israel Ingin Serang Iran Setelah Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat

oleh -6 Dilihat
Israel Ingin Serang Iran Setelah Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat

KabarDermayu.com – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan tengah berkoordinasi dengan Amerika Serikat terkait potensi serangan baru terhadap Iran. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz yang berpotensi mengancam gencatan senjata yang rapuh.

Sumber Israel yang dikutip oleh CNN menyebutkan bahwa koordinasi tersebut mencakup persiapan untuk serangan singkat yang ditargetkan pada infrastruktur energi dan pejabat senior Iran. Tujuannya adalah untuk menekan Iran agar memberikan konsesi lebih lanjut dalam negosiasi.

Berbagai rencana serangan telah disiapkan sebelum gencatan senjata pada awal April. Namun, keputusan untuk melanjutkan permusuhan sepenuhnya bergantung pada Presiden AS, Donald Trump.

Pada Minggu malam, Netanyahu telah memberikan pengarahan kepada para komandan militer senior. Ia menginstruksikan agar Israel bersiap menghadapi konfrontasi dengan Iran. Selain itu, Israel akan terus berupaya untuk membubarkan Hamas.

Baca juga: Dampak Berantai Kenaikan BBM Non-Subsidi pada Ekonomi Nasional Perlu Diperhatikan Pemerintah

Dalam pertemuan dengan pejabat militer tingkat atas, Netanyahu menyatakan keyakinannya bahwa Iran akan keluar dari perang saat ini dalam kondisi yang lebih lemah. Sebaliknya, Israel akan menjadi jauh lebih kuat.

Menanggapi klaim mengenai kemungkinan keruntuhan rezim Iran yang cepat, Netanyahu mengakui tidak ada jaminan. Namun, ia menekankan bahwa tekanan ekonomi yang berat dapat menciptakan kondisi yang mengarah pada hasil tersebut.

Netanyahu menilai kepemimpinan Iran saat ini sangat memprihatinkan. Ia menambahkan bahwa keruntuhan ekonomi dapat secara langsung mengancam stabilitas rezim, merujuk pada protes yang terjadi setelah operasi sebelumnya.

Terkait program nuklir Iran, Netanyahu menyebut Presiden AS Donald Trump memiliki keyakinan besar bahwa tekanan ekonomi intens dapat memungkinkan ekstraksi bahan-bahan yang diperkaya yang terkubur dalam di Iran.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas pada Senin, 4 Mei 2026. Kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran runtuhnya gencatan senjata yang selama ini rapuh.

Bentrok terbaru terjadi di sekitar Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Jalur ini kini praktis lumpuh akibat blokade dan aksi militer dari kedua pihak. Serangan rudal dan drone dilaporkan menghantam sejumlah target, termasuk kapal dan fasilitas energi.

Eskalasi ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan inisiatif baru bernama “freedom project”. Inisiatif ini bertujuan untuk mengawal kapal tanker dan kapal dagang agar dapat melintasi selat tersebut dengan perlindungan militer.

Namun, langkah tersebut justru memperkeruh situasi. Hingga Senin, sejumlah kapal dagang melaporkan ledakan dan kebakaran di perairan Teluk. Militer AS mengklaim telah menghancurkan enam kapal kecil milik Iran.

Sementara itu, sebuah pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab dilaporkan terbakar akibat serangan rudal Iran. Insiden ini semakin menambah daftar panjang ketegangan di kawasan strategis tersebut.