KabarDermayu.com – Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa Iran tidak melanggar gencatan senjata yang rapuh, meskipun terjadi baku tembak sehari sebelumnya ketika pasukan AS berupaya membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Militer AS melaporkan telah menghancurkan enam kapal kecil Iran, serta sejumlah rudal jelajah dan drone. Tindakan ini diambil setelah Presiden Donald Trump mengerahkan armada laut untuk mengawal kapal tanker yang terjebak di selat tersebut dalam operasi yang diberi nama “Project Freedom”.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menekankan bahwa operasi pengawalan kapal komersial ini bersifat sementara dan tidak menandakan berakhirnya gencatan senjata yang telah berlangsung selama kurang lebih empat pekan.
Baca juga: Siapkan Dana Pendidikan Anak Jangka Panjang, Ini 5 Tips dari Prudential Syariah
“Kami tidak mencari pertempuran. Gencatan senjata saat ini tetap berlaku, tetapi kami akan memantaunya dengan sangat, sangat cermat,” ujar Hegseth dalam sebuah konferensi pers yang dilansir CNA pada Selasa, 5 Mei 2026.
Pada hari Senin, Iran dilaporkan menembakkan rudal ke arah kapal-kapal AS. Selain itu, Iran juga meluncurkan serangan rudal dan drone ke Uni Emirat Arab, yang merupakan sekutu utama Washington di kawasan tersebut. Tak lama setelah pernyataan Hegseth, Kementerian Pertahanan UEA mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara mereka kembali menghadapi serangan rudal dan drone yang berasal dari Iran.
Eskalasi ini terjadi tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan inisiatif baru yang diberi nama “freedom project”. Inisiatif ini bertujuan untuk mengawal kapal tanker dan kapal dagang agar dapat melintasi selat tersebut dengan perlindungan militer.
Namun, langkah tersebut justru semakin memperkeruh situasi. Hingga Senin, sejumlah kapal dagang melaporkan adanya ledakan dan kebakaran di perairan Teluk. Militer AS mengklaim telah berhasil menghancurkan enam kapal kecil milik Iran. Sementara itu, sebuah pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab dilaporkan terbakar akibat serangan rudal yang dilancarkan Iran.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menuding bahwa pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh AS dan sekutunya justru membahayakan pelayaran di Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur yang sangat vital bagi pasokan minyak dan pupuk dunia.
“Kami tahu betul bahwa kelanjutan situasi saat ini tidak dapat ditoleransi oleh Amerika Serikat, sementara kami bahkan belum memulai,” tulisnya dalam sebuah unggahan di media sosial.





