Insentif untuk 100 Ribu Pembeli Pertama Motor dan Mobil Listrik Tahun Ini

oleh -6 Dilihat
Insentif untuk 100 Ribu Pembeli Pertama Motor dan Mobil Listrik Tahun Ini

KabarDermayu.com – Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan skema insentif yang menarik bagi para pembeli kendaraan listrik, baik itu mobil maupun motor. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi untuk mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan di dalam negeri.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa insentif ini akan difokuskan pada 100 ribu unit pertama kendaraan listrik yang terjual pada tahun ini. Jika kuota tersebut habis, pemerintah siap untuk memperpanjang pemberian insentif.

Meskipun besaran pasti dari stimulus ini masih dalam tahap finalisasi, Purbaya memperkirakan bahwa insentif untuk motor listrik akan berkisar di angka Rp5 juta. Rincian lebih lanjut mengenai skema dan besaran stimulus akan diumumkan secara resmi oleh Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

“100 ribu pertama, kalau habis, kita kasih lagi (insentifnya). Nanti skemanya Pak Menteri Perindustrian (Agus Gumiwang Kartasasmita) akan menjelaskan seperti apa, Pak Menko Perekonomian (Airlangga Hartarto) juga akan memberikan seperti apa (skemanya). Motor listrik juga sama, 100 ribu pertama akan kita kasih,” ujar Menkeu Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta pada Selasa, 5 Mei 2026.

Baca juga: Ahmad Dhani Ungkap Kekecewaan pada Pernikahan El Rumi

Purbaya menambahkan bahwa ide pemberian insentif kendaraan listrik ini merupakan hasil diskusi intensif dengan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang. Ia melihat potensi besar dari program ini untuk memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.

Salah satu alasan utama di balik kebijakan ini adalah upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Dengan beralih ke kendaraan listrik, konsumsi BBM dapat ditekan, yang pada gilirannya akan mengurangi beban subsidi energi pemerintah, terutama di tengah fluktuasi harga minyak global.

“Saya tertarik dengan proposal mereka untuk memberi subsidi ke kendaraan listrik. Selain mendorong konsumsi, yang kedua kita bisa mengurangi konsumsi bahan bakar fuel BBM. Jadi ke depan seharusnya kalau itu dipercepat lebih memperkuat daya tahan anggaran ekonomi kita,” jelas Purbaya.

Lebih lanjut, Purbaya menyepakati pandangan Menteri Perindustrian yang melihat kendaraan listrik sebagai elemen krusial dalam penguatan ekonomi nasional. Program ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga daya tahan industri manufaktur, tetapi juga untuk melindungi lapangan kerja.

Pemerintah menargetkan kebijakan ini mulai diimplementasikan pada awal Juni, dengan harapan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya pada triwulan ketiga dan keempat tahun ini. “Ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi untuk jangka pendek ke depan, triwulan ke tiga dan triwulan keempat, Juni awal saya mulai jalan. Itu kebijakan yang sudah didiskusikan tapi nanti akan diumumkan lagi Menteri Perindustrian, Menko Perekonomian, dan lain-lain,” ungkap Purbaya.

Fokus pemerintah saat ini adalah memastikan seluruh roda perekonomian dapat berputar, dengan mendorong sisi permintaan (demand) dan sektor manufaktur secara bersamaan. “Tapi semangat kita sekarang kita akan memastikan semua mesin ekonomi berjalan di demand sudah kita dorong sekarang, di sektor manufaktur kita dorong,” tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah menekankan urgensi pemberian insentif kendaraan listrik. Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya sejalan dengan agenda pengurangan emisi karbon, tetapi juga merespons pergeseran tren pasar otomotif global yang semakin mengarah pada kendaraan listrik. Gejolak geopolitik dan ketidakpastian pasokan energi global turut memperkuat argumen untuk segera bertransisi.

Selain membahas stimulus kendaraan listrik, dalam pertemuan tersebut, kedua menteri juga mendiskusikan berbagai upaya strategis lainnya untuk meningkatkan ekspor produk manufaktur Indonesia, demi memperkuat posisi Indonesia di pasar global.