Inovasi Medis untuk Bantu Penderita Obesitas Mengendalikan Nafsu Makan

oleh -7 Dilihat
Inovasi Medis untuk Bantu Penderita Obesitas Mengendalikan Nafsu Makan

KabarDermayu.com – Mengatasi tantangan berat badan, terutama bagi penderita obesitas, bukan hanya sekadar menahan keinginan makan. Tantangan terbesarnya justru terletak pada kemampuan mengendalikan pikiran yang terus-menerus terfokus pada makanan, fenomena yang dikenal sebagai food noise.

Food noise digambarkan sebagai dorongan pikiran yang tak henti-hentinya tentang makanan, bahkan ketika tubuh tidak secara fisik membutuhkan asupan nutrisi. Fenomena ini merupakan refleksi kompleks dari bagaimana otak merespons berbagai rangsangan, mulai dari stres, kebiasaan yang terbentuk, hingga pengaruh lingkungan sekitar.

Demikian dijelaskan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI), dr. Iflan Nauval. Ia menekankan bahwa bagi banyak individu yang berjuang dengan obesitas, kesulitan yang mereka hadapi bukanlah semata-mata masalah kedisiplinan.

“Banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras, tetapi tetap merasa kesulitan karena tantangannya bukan hanya soal disiplin, melainkan juga biologi tubuh yang kompleks,” ungkap dr. Iflan dalam sebuah keterangan pada Jumat, 8 Mei 2026.

Beliau menambahkan, pemahaman mendalam mengenai food noise sangat krusial. Hal ini penting agar kita tidak lagi menyederhanakan obesitas sebagai sebuah kegagalan pribadi semata, melainkan melihatnya sebagai kondisi medis yang memerlukan penanganan komprehensif.

Paradigma penanganan obesitas saat ini telah mengalami pergeseran signifikan. Pendekatan yang dulunya berfokus pada ‘menghitung kalori’ kini beralih kepada ‘memperbaiki biologi’ tubuh.

Dalam kerangka baru ini, intervensi gaya hidup dan terapi medis dianggap sebagai dua komponen yang saling melengkapi. Tujuannya adalah untuk memperbaiki mekanisme tubuh yang seringkali tidak dapat diatasi hanya dengan diet semata.

Fokus utama penanganan tidak lagi sekadar pada penurunan angka di timbangan. Sebaliknya, perhatian diarahkan pada perlindungan fungsi organ vital dan peningkatan kualitas hidup pasien secara keseluruhan.

Salah satu inovasi medis yang berperan penting dalam perubahan paradigma ini adalah GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) dari Novo Nordisk. Obat ini bekerja dengan cara membantu mengatur sinyal rasa lapar dan kenyang melalui pusat pengaturan nafsu makan di otak.

Dengan menargetkan jalur biologis yang mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, terapi inovatif ini telah terbukti secara klinis mampu memperbaiki kontrol makan. Hal ini terwujud melalui penurunan rasa lapar yang signifikan, pengurangan keinginan untuk makan, serta peningkatan rasa kenyang yang lebih berkelanjutan.

“Hal ini secara langsung membantu mengurangi asupan kalori dan meredakan dorongan makan berlebih, termasuk food noise,” jelas dr. Iflan.

Riyanny Meisha Tarliman, Associate Director, Clinical, Medical, and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, menyambut baik kehadiran inovasi GLP-1 RA ini. Ia melihatnya sebagai sumber harapan yang sangat berarti bagi individu yang tengah berjuang menghadapi gangguan pikiran terkait makanan.

Terapi ini dipandang sebagai pelengkap penting bagi perubahan gaya hidup, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari penanganan obesitas yang lebih komprehensif dan holistik.

Riyanny menambahkan bahwa terapi GLP-1 RA Novo Nordisk telah menunjukkan manfaat yang signifikan dalam mendukung penurunan berat badan. Data klinis menunjukkan bahwa satu dari tiga pasien yang menjalani terapi ini mampu kehilangan lebih dari 20 persen dari total berat badan mereka.

Untuk itu, dr. Iflan mendorong masyarakat, khususnya yang berjuang melawan obesitas, untuk mencari informasi yang akurat. Ia menyarankan untuk mengakses situs NovoCare.id sebagai sumber terpercaya yang dapat membedakan antara mitos dan fakta seputar obesitas.

Baca juga: Istri Pelatih Persija Jadi Korban Pencurian Ponsel, Kini Telah Kembali

“Sekaligus mendapatkan panduan untuk memperoleh pendampingan medis yang tepat dalam perjalanan pengelolaan berat badan,” tutupnya.