Junanto Herdiawan Dilantik Jadi Kakanwil BI Jabar, Thomas Djiwandono Tetapkan Target

oleh -6 Dilihat
Junanto Herdiawan Dilantik Jadi Kakanwil BI Jabar, Thomas Djiwandono Tetapkan Target

KabarDermayu.com – Deputi Gubernur Bank Indonesia, Thomas A. M. Djiwandono, pada hari ini secara resmi mengukuhkan Junanto Herdiawan sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat. Junanto menggantikan posisi Muhamad Nur yang telah menjabat selama dua setengah tahun.

Dalam sambutannya, Thomas Djiwandono menyatakan bahwa pergantian kepemimpinan ini merupakan bagian dari upaya penguatan kapasitas kepemimpinan di Bank Indonesia. Tujuannya adalah untuk memperkuat peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dan mendukung ketahanan ekonomi.

Estafet kepemimpinan ini juga diharapkan dapat terus memperkuat sinergi Bank Indonesia sebagai mitra utama Pemerintah Daerah. Hal ini penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.

“Guna mencapai proyeksi pertumbuhan ekonomi Jawa Barat di kisaran 4,9% – 5,7% (yoy) serta menjaga inflasi tetap pada rentang sasaran 2,5%±1% pada akhir tahun ini, Bank Indonesia secara konsisten mendukung penguatan sinergi kebijakan yang mencakup pengendalian harga, akselerasi investasi dan reformasi struktural, pengembangan ekonomi kerakyatan serta digitalisasi sistem pembayaran,” ujar Thomas, dikutip dari keterangannya pada Senin, 11 Mei 2026.

Acara pengukuhan Kepala Kantor Perwakilan BI ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan. Turut hadir Anggota Komisi XI DPR RI, pimpinan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perbankan, serta tokoh pimpinan lintas sektor yang tergabung dalam ekosistem pentahelix Jawa Barat.

Gubernur Provinsi Jawa Barat, Dedy Mulyadi, dalam kesempatan tersebut menyampaikan harapannya kepada Bank Indonesia. Ia menekankan agar Bank Indonesia, sebagai lembaga independen, terus menjaga stabilitas nilai rupiah dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan memfokuskan penguatan tugas kelembagaan keuangan dan pemerintahan. Dedy Mulyadi menggarisbawahi pentingnya memperkuat peredaran uang agar distribusinya lebih merata di tengah masyarakat.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas peran Bank Indonesia sebagai mitra strategis Pemerintah Provinsi dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan di Jawa Barat. “Ke depan, sinergi dan kolaborasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat diharapkan semakin kuat untuk mewujudkan Jawa Barat yang istimewa,” pungkasnya.

Secara umum, kinerja makroekonomi Jawa Barat pada Triwulan I (Q1) 2026 tercatat sangat solid. Ekonomi provinsi ini tumbuh sebesar 5,79% (yoy), angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga di Jawa Barat juga tetap terjaga. Realisasi inflasi pada April 2026 terkendali di angka 2,49% (yoy). Pencapaian ini merupakan hasil dari koordinasi yang efektif dalam koridor Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Strategi 4K, yaitu Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif, menjadi kunci dalam pengendalian inflasi tersebut. Implementasi strategi ini secara konsisten dilakukan oleh TPID.

Sinergi antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah juga diperkuat melalui platform kolaboratif West Java Economic Society (WJES). Platform ini secara berkala menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif untuk mendorong transformasi ekonomi yang inklusif di Jawa Barat.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat terus berupaya mengakselerasi penarikan investasi. Hal ini dilakukan melalui West Java Investment Challenge (WJIC), yang saat ini menawarkan sekitar 150 proyek strategis dengan total nilai investasi mencapai lebih dari Rp200 triliun.

Junanto Herdiawan mengungkapkan bahwa langkah-langkah strategis ini berjalan beriringan dengan pengembangan sumber ekonomi baru. Pengembangan tersebut mencakup perluasan Ekonomi Syariah dan Ekonomi Hijau.

Selain itu, pemberdayaan ekonomi pondok pesantren sebagai pusat Halal Value Chain juga menjadi fokus. Penguatan inklusi keuangan melalui peran aktif dalam Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) juga terus dilakukan.

“Strategi ini diharapkan mampu memperkuat daya saing daerah di tengah dinamika ekonomi global,” ungkap Junanto.

Dalam aspek sistem pembayaran, Bank Indonesia Jawa Barat akan terus memacu efisiensi ekonomi. Hal ini dilakukan melalui penguatan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) untuk mendorong elektronifikasi transaksi pemerintah.

Jawa Barat ditargetkan tetap menjadi pemimpin dalam digitalisasi nasional. Saat ini, tercatat sekitar 13,38 juta pengguna dan 8,15 juta merchant telah menggunakan QRIS di wilayah tersebut.

Di sisi lain, Bank Indonesia tetap memastikan ketersediaan uang tunai. Penyediaan Uang Layak Edar (ULE) yang mencukupi hingga pelosok daerah dilakukan sebagai bentuk pelayanan publik yang optimal.

Melalui semangat kemitraan yang inovatif dan dengan kepemimpinan yang baru, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat akan terus bersinergi. Tujuannya adalah untuk memitigasi risiko global dan memperkuat ketahanan ekonomi daerah.

Setiap kebijakan yang diambil akan selalu bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat. Bagi Bank Indonesia, Jawa Barat bukan sekadar angka dalam statistik, melainkan jantung inovasi ekonomi yang harus terus berdenyut.

Baca juga: Rocky Gerung di Sidang Nadiem Makarim: Jaksa Dinilai Pintar, Namun Terlalu Lelah Menghubungkan Fakta

Denyut inovasi ini diharapkan dapat membawa kemakmuran yang inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Jawa Barat.