KabarDermayu.com – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpotensi terjadi akibat terganggunya pasokan minyak dunia memberikan sinyal kenaikan tarif tiket pesawat. Induk perusahaan maskapai British Airways, International Airlines Group (IAG), mengindikasikan bahwa biaya operasional yang meningkat ini kemungkinan akan dibebankan kepada penumpang.
Peringatan ini muncul seiring dengan dampak penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak global. Gangguan pada lalu lintas tanker di kawasan strategis tersebut telah mendorong harga minyak mentah dunia melonjak tajam.
Kenaikan harga avtur (bahan bakar pesawat) secara langsung memengaruhi biaya operasional maskapai penerbangan. IAG mengakui bahwa strategi lindung nilai (hedging) bahan bakar yang mereka miliki tidak sepenuhnya mampu menahan dampak krisis energi ini.
Baca juga di sini: Iran Kembali Sita Dua Kapal di Selat Hormuz, Gejolak Energi Global Meningkat
Situasi ini juga menjadi perhatian serius pemerintah Inggris. Otoritas penerbangan setempat dilaporkan memantau ketersediaan bahan bakar secara ketat untuk mencegah potensi gangguan yang lebih luas pada sektor transportasi udara.
Sebagai langkah antisipasi, regulator penerbangan di Inggris bahkan telah melonggarkan aturan terkait slot bandara. Kebijakan ini memungkinkan maskapai untuk membatalkan penerbangan tanpa kehilangan hak slot lepas landas dan mendarat apabila terjadi kekurangan pasokan bahan bakar.
Meskipun beberapa maskapai seperti Jet2 menyatakan operasional mereka masih berjalan normal saat ini, para pelaku industri penerbangan memperingatkan bahwa kondisi dapat berubah sewaktu-waktu. Jika krisis pasokan energi berlanjut, kenaikan harga tiket dan potensi pembatalan penerbangan dalam beberapa pekan mendatang menjadi ancaman nyata.
Para penumpang perlu bersiap menghadapi biaya perjalanan udara yang lebih mahal, terutama untuk rute-rute internasional. Hal ini menjadi konsekuensi langsung dari ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasar energi global.





