KabarDermayu.com – Transformasi digital di Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kemajuan teknologi, melainkan sebuah pergeseran fundamental dalam cara berpikir. Hal ini menjadi sorotan utama dalam Studium Generale Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) – DIGDAYA x Hackathon 2026, yang mengusung tema “Berinovasi untuk Masa Depan, Memberdayakan Talenta Digital”.
Acara ini merupakan inisiatif berskala nasional yang digagas oleh Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pelaku industri, serta berbagai mitra strategis. Tujuannya adalah untuk memperkuat dan mendorong percepatan transformasi ekonomi dan keuangan digital di tanah air.
Rafi Putra Arriyan, selaku Co-Founder Flip, turut berbagi pengalaman dalam sesi bertajuk ‘Turning Mindset into Real-World Innovation’. Ia menekankan bahwa inovasi sejati tidak selalu bermula dari gagasan besar yang revolusioner. Sebaliknya, inovasi yang efektif lahir dari pemahaman yang mendalam mengenai permasalahan nyata yang dihadapi oleh para pengguna.
“Flip diawali dengan memberikan solusi inovatif untuk satu masalah finansial yang paling riil, yaitu mengirim uang. Namun, seiring kami semakin memahami kebutuhan pengguna, inovasi yang sesungguhnya terjadi ketika kita tetap dekat dengan mereka dan memahami kebutuhan mereka. Dengan begitu, kita bisa menemukan berbagai masalah lain yang berkaitan dengan cara mereka berbelanja hingga menabung,” ujar Rafi dalam keterangannya pada Kamis, 7 Mei 2026.
Berawal dari solusi sederhana untuk menghilangkan biaya transfer antar bank, Flip terus beradaptasi dan berkembang mengikuti kompleksitas kebutuhan pengguna. Layanan mereka kini mencakup pembayaran berbagai tagihan, transfer dana ke luar negeri, hingga fitur-fitur yang terintegrasi secara mulus dengan ekosistem digital di Indonesia.
Saat ini, Flip telah berhasil melayani lebih dari 16 juta pengguna di seluruh Indonesia. Angka pertumbuhan yang signifikan ini menjadi cerminan dari meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan keuangan yang praktis, mudah diakses, dan relevan dalam aktivitas sehari-hari.
Rafi juga menyoroti sebuah fenomena umum di dunia inovasi, di mana banyak ide brilian gagal di pasaran karena hanya menarik secara konsep, namun tidak memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan pasar yang sesungguhnya. Pengalaman awal Flip membuktikan bahwa menggali dan memahami “pain point” atau titik sakit pengguna jauh lebih krusial dibandingkan sekadar membangun solusi yang terlihat canggih secara teknologi.
“Start small mindset. Dulu kami berpikir inovasi berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Ternyata, inovasi yang paling sulit adalah memberikan solusi yang tetap relevan terhadap masalah yang terus berubah. Bagi kami, inovasi membutuhkan keberanian, kerendahan hati, kolaborasi, dan kesabaran,” pungkas Rafi.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa melalui berbagai inisiatif seperti ini, Bank Indonesia berupaya membekali para talenta digital muda dengan kompetensi teknis yang mumpuni, baik di bidang inovasi digital maupun kewirausahaan.
“Ini adalah momentum bagi kita semua untuk berubah, belajar, dan untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk berbagai kepentingan yang bermanfaat,” ujar Perry saat peluncuran PIDI di Jakarta.
Pada sesi Studium Generale PIDI yang bertema “Shaping Indonesia’s Digital Minds: Building Talent for an Innovation-Driven Economy”, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Stella Christie, menekankan pentingnya mempersiapkan talenta digital. Di tengah pesatnya perkembangan AI, generasi muda tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu mengevaluasi dan mengarahkannya dengan kritis.
Mengacu pada berbagai proyeksi global, termasuk dari World Economic Forum, diperkirakan hingga tahun 2030 akan tercipta sekitar 170 juta lapangan pekerjaan baru. Namun, di sisi lain, sekitar 92 juta pekerjaan juga diproyeksikan akan terdampak atau bahkan hilang akibat perubahan lanskap pekerjaan. Lebih lanjut, sekitar 39% dari keterampilan inti yang dimiliki pekerja saat ini diproyeksikan akan mengalami perubahan signifikan.
Baca juga: Swiss Konfirmasi Kasus Hantavirus dari Kapal Pesiar
“Transformasi digital dimulai dari cara berpikir, bukan teknologinya. Di tengah perubahan yang begitu cepat, kita tidak boleh terjebak pada hype. Yang perlu dikembangkan adalah keterampilan yang berpusat pada manusia, seperti creative and analytical thinking, talent management, kepemimpinan, hingga kemampuan beradaptasi. Jika kita tidak ingin tergantikan dalam jangka pendek, kita harus melatih keterampilan yang tidak mudah direplikasi oleh AI,” jelas Prof. Stella.





