Industri Migas Nasional Didorong Jadi Pemain Global Tanpa Impor

oleh -5 Dilihat
Industri Migas Nasional Didorong Jadi Pemain Global Tanpa Impor

KabarDermayu.com – Industri minyak dan gas (migas) nasional saat ini berada di persimpangan jalan yang krusial. Ketergantungan pada impor alat strategis, kurangnya penguasaan teknologi, dan lemahnya industri dalam negeri menjadi hambatan serius untuk bersaing di pasar global.

Indonesia masih terjebak dalam model ekstraksi sumber daya, belum sepenuhnya beralih ke penguatan kapabilitas industri. Menyadari urgensi ini, Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) dan Komunitas Migas Indonesia (KMI) mendorong transformasi industri penunjang migas nasional.

Langkah konkret diwujudkan melalui kunjungan kerja ke fasilitas produksi pipa seamless PT Artas Energi Petrogas di Kawasan Industri Krakatau Steel, Cilegon. Kunjungan ini dipimpin oleh Sekjen IAFMI, Gede Pramona, didampingi pengurus IAFMI dan Chairman KMI, S Herry Putranto.

Fokus utama pertemuan adalah merumuskan strategi penguatan daya saing produk pipa seamless dalam negeri. Produk ini telah mencapai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 46% dan diharapkan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global. Kita harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal,” ujar Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas, Hendrik Kawilarang Luntungan.

PT Artas Energi Petrogas telah membuktikan kapabilitas industri nasional sebagai satu-satunya produsen seamless tube di Tanah Air. Produk IST dipercaya dalam berbagai proyek Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan standar kualitas global API 5CT dan API 5L.

Perusahaan ini tidak hanya melakukan substitusi impor, tetapi juga berhasil mengekspor produknya ke pasar Asia hingga Timur Tengah, serta menyumbang devisa negara sebesar Rp 15 triliun.

Melalui kolaborasi strategis ini, IAFMI dan KMI menargetkan lima dampak signifikan bagi industri migas. Ini termasuk penurunan tajam impor peralatan migas, efisiensi cost recovery, peningkatan TKDN yang berorientasi kualitas, lahirnya national champions, dan pengukuhan Indonesia sebagai basis industri migas utama di Asia Tenggara.

Meskipun demikian, para pelaku industri menyadari tantangan besar yang masih membentang. Beberapa di antaranya adalah tingginya impor komponen kritikal, kurangnya penguasaan teknologi, dan keterbatasan Research & Development (R&D).

Selain itu, terdapat kesenjangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan regulasi yang dinilai belum cukup kompetitif untuk mendongkrak citra industri nasional di kancah global. Chairman Komunitas Migas Indonesia, S Herry Putranto, menambahkan bahwa PT Artas Energi memiliki sumber daya dan pasar.

“Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membangun industri sendiri, dengan regulasi yang berpihak kepada kepentingan industri nasional serta investasi teknologi yang serius ditambah kesiapan SDM yang siap bersaing di kancah global,” katanya.

Baca juga di sini: Tips Membawa Hewan Peliharaan ke Festival dengan Aman dan Nyaman

Kunjungan industri di Cilegon ini berujung pada seruan terbuka kepada pemerintah. Para pemangku kepentingan mendesak percepatan reformasi regulasi dan komitmen nyata dalam memperkuat kedaulatan rantai pasok. Tujuannya adalah terciptanya ekosistem industri migas yang mandiri, tangguh, dan berdaya saing tinggi.