KabarDermayu.com – Semangat nasionalisme terpancar jelas dari lapangan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Depok, Jawa Barat. Di antara derap langkah tegap para calon anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional, terselip kisah inspiratif dari seorang siswi asal Sulawesi Barat, Ismi Ulfaida.
Gadis berusia 16 tahun ini mencatatkan sejarah sebagai siswi pertama dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar yang berhasil menembus seleksi Paskibraka tingkat nasional. Pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga simbol keberhasilan program pendidikan yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.
Perjalanan Menuju Istana Merdeka
Langkah Ismi menuju panggung nasional bukanlah hal yang instan. Ia harus melewati serangkaian seleksi ketat, mulai dari lingkup sekolah, kabupaten, hingga provinsi. Ketekunannya dalam mengasah kemampuan baris-berbaris serta persiapan fisik dan mental menjadi kunci utama baginya untuk bersaing dengan ratusan siswa lainnya di Indonesia.
“Saya sendiri awalnya tidak menyangka bisa sampai ke tingkat nasional, karena target awal saya sebenarnya hanya sampai di tingkat provinsi,” ungkap Ismi di sela-sela jadwal latihannya yang padat. Keinginan untuk menjadi bagian dari Paskibraka ini ternyata sudah tertanam sejak ia masih duduk di bangku SMP, didorong oleh keinginan kuat untuk memupuk rasa cinta tanah air.
Adaptasi Disiplin dan Kerinduan
Menjadi bagian dari calon Paskibraka Nasional menuntut perubahan gaya hidup yang signifikan. Selama tiga pekan menjalani pelatihan, Ismi harus terbiasa dengan rutinitas militeristik. Hari-harinya dimulai sejak pukul 04.00 WIB, mencakup olahraga pagi, latihan PBB yang intens dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB, hingga sesi evaluasi di malam hari.
Bagi siswi kelas 11 ini, tantangan terbesar bukanlah fisik, melainkan rasa rindu kepada orang tuanya yang bekerja sebagai petani di Polewali Mandar. Saat rasa sepi melanda di tengah asrama, Ismi memiliki cara tersendiri untuk tetap tegar. “Kalau kangen rumah, saya biasanya menenangkan diri di kamar. Saya ingat wajah orang tua, itu yang membuat saya kuat kembali,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Inspirasi bagi Sekolah Rakyat
Kehadiran Ismi di barisan Paskibraka 2026 mendapatkan apresiasi positif dari berbagai pihak. Wakil Kepala BPIP, Rima Agristina, menyatakan bahwa keberhasilan Ismi menjadi pintu pembuka bagi siswa dari Sekolah Rakyat lainnya di seluruh pelosok negeri.
- Program Paskibraka bersifat inklusif bagi seluruh jenjang SMA sederajat.
- Keterlibatan Ismi diharapkan menjadi pemantik motivasi bagi sekolah di daerah untuk turut aktif dalam kegiatan kepaskibrakaan.
- Pengalaman disiplin dan tanggung jawab yang didapat selama pelatihan menjadi bekal berharga bagi pengembangan karakter siswa.
Saat ini, Ismi terus mematangkan kesiapannya bersama 75 rekan terpilih lainnya. Mereka dijadwalkan akan bertolak ke Jakarta pada 11 Agustus untuk mengikuti gladi bersih, sebelum akhirnya dikukuhkan pada 15 Agustus di Istana Kepresidenan. Bagi Ismi, momen 17 Agustus 2026 nanti bukan sekadar tugas mengibarkan bendera, melainkan pembuktian bahwa siswa dari Sekolah Rakyat mampu berdiri sejajar dan berkontribusi nyata bagi bangsa.
Cita-citanya menjadi seorang polisi wanita (polwan) di masa depan tampak semakin terarah dengan pengalaman yang ia dapatkan saat ini. Ismi Ulfaida kini bukan sekadar perwakilan dari Sulawesi Barat, melainkan inspirasi bagi jutaan siswa lainnya bahwa impian besar dapat diraih dengan kerja keras dan doa restu orang tua.





