KabarDermayu.com – Pemerintah Israel dilaporkan telah mengalokasikan anggaran besar senilai US$730 juta atau sekitar Rp12,67 triliun. Dana ini ditujukan untuk upaya propaganda demi memperbaiki citra negara yang buruk di mata publik global, terutama pasca-perang Gaza.
Sumber di Israel melaporkan alokasi anggaran yang belum pernah terjadi sebelumnya ini untuk tahun 2026. Anggaran ini ditujukan untuk program “diplomasi publik” atau yang dikenal sebagai “Hasbara”.
Dilansir dari The Times of Israel pada 3 Mei 2026, Knesset atau parlemen Israel pada Maret lalu telah menyetujui anggaran raksasa ini. Jumlah tersebut meningkat sekitar lima kali lipat dari anggaran tahun sebelumnya yang hanya sebesar US$150 juta, dan melonjak drastis dibandingkan tiga tahun lalu.
Pengeluaran luar biasa ini terjadi di tengah penurunan dukungan terhadap Israel di Amerika Serikat, sekutu terpentingnya. Sebuah jajak pendapat dari Pew Research Center yang dirilis awal bulan ini menunjukkan bahwa 60 persen warga Amerika kini memandang Israel secara negatif, meningkat tujuh poin dalam setahun. Hanya 37 persen yang memiliki pandangan positif.
Penurunan dukungan ini cukup mencolok, terutama bagi negara yang terbiasa dengan dukungan bipartisan dari Amerika. Tercatat, 57 persen dari Partai Republik di bawah usia 50 tahun memiliki pandangan negatif terhadap Israel.
Dukungan juga dilaporkan merosot tajam di kalangan individu yang tidak berafiliasi secara agama, Protestan kulit hitam, dan Katolik. Di antara komunitas Yahudi Amerika sendiri, tingkat dukungan telah turun di bawah dua pertiga.
Di media sosial, istilah Ibrani “hasbara” telah menjadi ungkapan yang merendahkan untuk menggambarkan upaya advokasi pro-Israel. Hal ini menunjukkan betapa luasnya upaya Israel dalam membentuk citranya di mata publik global.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, menyatakan bahwa Israel sedang terlibat dalam perang global untuk “merebut hati dan pikiran”. Ungkapan ini mengindikasikan ketergantungan yang semakin besar pada alat-alat propaganda, selain kelanjutan operasi militer.
“Kita telah mencapai terobosan besar tahun ini, tetapi sebagai negara kita harus berinvestasi jauh lebih banyak,” ujar Sa’ar pada bulan Desember saat pemerintah membahas anggaran. Ia menambahkan bahwa investasi ini seharusnya setara dengan investasi pada jet tempur, bom, dan pencegat rudal.
“Dalam menghadapi apa yang dihadapi dan apa yang diinvestasikan untuk melawan kita, itu masih jauh dari cukup. Ini adalah masalah eksistensial,” tegasnya.
Bersamaan dengan anggaran tersebut, Sa’ar juga memperoleh persetujuan untuk membentuk unit diplomasi publik khusus di dalam Kementerian Luar Negeri. Unit ini akan dipimpin oleh seorang direktur yang setara dengan pejabat politik tertinggi di kementerian. Langkah ini bertujuan untuk mengkonsolidasikan pekerjaan hasbara yang selama ini tersebar di berbagai kementerian yang bersaing.
Diplomasi Publik dan Anggaran Buzzer
Pengajuan publik, kesaksian di Knesset, dan laporan bisnis Israel menunjukkan alokasi sebagian dari dana tahun 2025.
Pembelian iklan media sosial internasional senilai US$50 juta (sekitar Rp868,05 miliar) akan dibagi antara platform seperti Google, YouTube, X, dan Outbrain. Selain itu, US$40 juta (sekitar Rp694,44 miliar) lainnya dialokasikan untuk menjadi tuan rumah bagi ratusan delegasi asing.
Delegasi asing ini mencakup politisi, akademisi, pemimpin agama, dan influencer. Tujuannya adalah untuk memperluas jaringan pendukung narasi Israel.
Rezim Zionis juga mendirikan “media war room” untuk memantau sekitar 250 outlet media dan 10.000 item konten terkait Israel setiap harinya.
Kementerian Luar Negeri juga menandatangani kontrak senilai US$1,5 juta per bulan dengan perusahaan milik mantan ahli strategi kampanye Donald Trump, Brad Parscale. Kontrak ini bertujuan untuk menggunakan alat AI dalam melawan antisemitisme daring.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini: Antam Turun Sedikit, Pasar Global Melemah
Selain itu, terdapat kampanye senilai US$4,1 juta yang ditujukan kepada gereja-gereja evangelis. Terdapat pula “Proyek Esther,” sebuah jaringan influencer berbayar yang mencapai US$900.000 melalui perusahaan PR bernama Bridges Partners.





