Mahasiswa Gunakan AI Sebagai Partner Diskusi

oleh -5 Dilihat
Mahasiswa Gunakan AI Sebagai Partner Diskusi

KabarDermayu.com – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai mentransformasi cara mahasiswa di Indonesia dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Dulu, mahasiswa sangat bergantung pada dosen, buku, maupun diskusi dengan teman sebaya untuk memahami materi kuliah. Namun kini, AI telah menjelma menjadi mitra diskusi yang krusial.

AI membantu mahasiswa dalam mendalami materi perkuliahan, mengembangkan gagasan baru, hingga menciptakan inovasi berdasarkan pengetahuan yang diperoleh di kelas.

Fenomena ini menandai pergeseran signifikan dalam pola belajar di kalangan mahasiswa. Teknologi AI tidak lagi hanya dipandang sebagai alat untuk mendapatkan jawaban instan.

Sebaliknya, AI kini menjadi ruang yang subur untuk berdiskusi dan mengeksplorasi berbagai ide secara mendalam.

Country Marketing Manager Google Indonesia, Muriel M, mengonfirmasi tren penggunaan AI di lingkungan kampus ini. Menurutnya, AI tidak hanya berfungsi sebagai pembantu penyelesaian tugas akademik.

Lebih dari itu, AI juga berperan dalam menumbuhkan kreativitas dan mendorong pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab di kalangan mahasiswa.

Google terus mengembangkan teknologi AI dengan berbagai fitur inovatif yang dirancang khusus untuk mendukung proses pembelajaran mahasiswa.

Beberapa teknologi yang disebutkan antara lain Veo 3, Lyria, dan NotebookLM, yang menawarkan kapabilitas baru untuk eksplorasi dan kreasi.

Baca juga: Trump Ajukan Banding atas Tarif Global 10 Persen dalam Kebijakan Perdagangan Kontroversialnya

“Kami ingin melihat mahasiswa mampu memanfaatkan teknologi AI ini untuk tiga hal,” ujar Muriel dalam acara Inagurasi Google Student Ambassador 2026 di Jakarta.

Ia melanjutkan, “Yang pertama adalah untuk mendorong produktivitas perkuliahan. Itu nomor satu. Nomor dua adalah menciptakan solusi yang relevan di kampus. Ketiga adalah untuk menjadi role model.”

Syahdika Kurnia Azhari, yang akrab disapa Dika, seorang mahasiswa Teknik Elektro di Politeknik Negeri Medan, adalah salah satu contoh mahasiswa yang menjadikan AI sebagai teman diskusinya.

Dika memiliki kebiasaan mendalami berbagai aspek praktikal dalam bidang teknik elektro, mulai dari perancangan rangkaian listrik hingga sistem teknik yang memerlukan pengujian langsung.

Selama bertahun-tahun, Dika melihat bidang teknik sebagai ranah yang sangat fisik dan bergantung pada praktik di laboratorium. Namun, pandangannya mulai berubah ketika ia diperkenalkan dengan Gemini, sebuah AI yang dikembangkan oleh Google.

Bagi Dika, AI bukanlah pengganti proses belajar utamanya, melainkan sebuah alat bantu yang memperluas wawasannya. Ia memanfaatkan Gemini untuk merumuskan ide, mengeksplorasi konsep-konsep teknik, dan memahami sistem teknik secara lebih komprehensif.

“AI membantu saya melihat suatu sistem dari perspektif yang lebih luas. Jadi bukan hanya memahami teori, tetapi juga bagaimana konsep itu bisa dikembangkan,” jelas Dika saat sesi Talkshow Inagurasi Google Student Ambassador 2026 di Jakarta.

Dika juga menggunakan Gemini untuk mensimulasikan konsep sistem pengisian daya kendaraan listrik secara langsung dalam proses belajarnya. Hal ini sangat memudahkan, karena simulasi yang sebelumnya memerlukan perangkat lunak khusus kini dapat dieksplorasi dengan lebih cepat berkat bantuan AI.

Bersama timnya, Dika mengembangkan aplikasi bernama She Success. Aplikasi ini dirancang untuk membantu para perempuan pelaku usaha kecil dalam mengembangkan bisnis mereka, khususnya di daerah Sei Rotan.

Inspirasi untuk proyek ini muncul dari pengalaman pribadi Dika yang menyaksikan langsung perjuangan ibunya dan banyak perempuan wirausaha kecil lainnya.

Bagi Dika, AI secara signifikan mempercepat proses berpikir dan eksplorasi ide menjadi inovasi nyata yang memberikan dampak positif. Sebagai alumni Google Student Ambassador (GSA) angkatan 2025, program GSA memberinya wadah untuk mengubah gagasan menjadi solusi yang memiliki dampak sosial.

Google Indonesia terus berupaya mendorong individu seperti Dika untuk menularkan pemanfaatan AI sebagai mitra diskusi, bukan sekadar alat bantu untuk menyelesaikan tugas secara instan. Antusiasme tinggi dari para pelajar terhadap teknologi ini memotivasi penyelenggaraan program Student Ambassador kembali pada tahun 2026.

Program ini akan melibatkan 2.000 mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia, dengan tujuan membentuk generasi yang tidak hanya mahir dalam teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menjawab tantangan-tantangan nyata di masyarakat.

“Kalian semua adalah role model yang dapat menginspirasi mahasiswa lain tentang bagaimana memanfaatkan AI secara optimal dan bertanggung jawab,” tutur Muriel.

Ia menambahkan, “Dan ini semua dari tiga hal ini kita harapkan bisa membentuk komunitas mahasiswa yang literasi AI-nya unggul dan bagus.”

Kehadiran fitur-fitur AI yang terus berkembang menunjukkan bahwa teknologi ini tidak lagi hanya sebatas alat pencari informasi.

AI kini telah berevolusi menjadi partner belajar yang mampu membantu mahasiswa dalam memahami materi, menyusun gagasan, hingga menghasilkan karya kreatif dengan lebih efisien.