Membongkar Desain AI dari Tatapan Mata

oleh -5 Dilihat
Membongkar Desain AI dari Tatapan Mata

KabarDermayu.com – Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai sektor industri di Indonesia.

Teknologi ini tidak hanya membuka pintu bagi inovasi dan peluang baru, tetapi juga menghadirkan kompleksitas tantangan tersendiri.

Meskipun AI mampu memfasilitasi pembuatan desain yang rumit dan penyelesaian masalah teknis secara efisien, kemampuannya masih belum dapat sepenuhnya menggantikan peran dan keahlian manusia.

Arsitek Senior dan Pendiri PT Arya Cipta Garaha, Cosmas Gozali, menekankan bahwa sentuhan emosi, pengaruh budaya, serta pengalaman unik individu adalah esensi seni yang tidak dapat ditiru oleh algoritma.

“Kemampuan manusia dalam menerjemahkan emosi, pengaruh budaya, dan pengalaman individu yang unik adalah jiwa seni yang tidak bisa ditandingi oleh algoritma,” ujar Cosmas Gozali di Jakarta pada Kamis malam, 30 April 2026.

Beliau berpesan kepada para seniman muda untuk menggali dan mengembangkan keindahan yang bersumber dari hati dan jiwa mereka.

Bagi Cosmas Gozali yang kini berusia 60 tahun, esensi menjadi seorang arsitek terletak pada kemampuan merancang bangunan yang tampil sederhana dari luar, namun memancarkan keindahan hati dan jiwa dari dalamnya.

“Saya ingin setiap keindahan karya sebaiknya muncul dari dalam hati. Makanya, karya-karya arsitek yang mampu menghasilkan desain unik adalah yang memiliki ‘jiwa’, emosi. Bukan sekadar hasil replikasi mesin,” tuturnya.

Cosmas Gozali turut ambil bagian sebagai salah satu dewan juri dalam ajang Daikin Designer Award (DDA) 2026.

Kompetisi ini diikuti oleh peserta dari empat negara di kawasan ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

DDA 2026 tidak hanya terbuka bagi para profesional, tetapi juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berpartisipasi.

Dalam kesempatan tersebut, Cosmas Gozali secara tegas mengingatkan seluruh peserta agar tidak menggunakan alat bantu AI dalam proses pembuatan desain.

Beliau menegaskan bahwa peserta yang terbukti menggunakan AI dalam karyanya dipastikan akan tereliminasi dari seleksi.

Lantas, bagaimana Cosmas Gozali dan juri lainnya dapat mendeteksi desain yang dibuat oleh AI?

“Wawancara langsung. Dari situ kita bisa melihat gesture, tatapan mata peserta, apakah menjiwai karyanya atau tidak,” jelasnya.

Menurutnya, jika seorang peserta benar-benar menjiwai karyanya, akan terlihat proses berpikir yang mendalam dan kemampuan untuk menjelaskan karyanya secara detail.

Hal ini berbeda dengan penggunaan teknologi AI, di mana peserta kemungkinan besar tidak akan menguasai detail karya tersebut.

“Kalau menjiwai maka akan terjadi proses berfikir dan bisa menjelaskan karyanya dengan detail, yang mungkin, di mata juri tidak terlihat. Beda jika menggunakan teknologi (AI), pasti tidak menguasai,” tegasnya.

Setiap kategori peserta yang berpartisipasi dalam DDA 2026 memiliki peluang untuk berkompetisi berdasarkan aplikasi bangunan yang dirancang.

Kategori tersebut meliputi bangunan hunian dan bangunan komersial F&B.

Tidak hanya terbatas pada karya yang sudah terbangun, kompetisi ini juga mencakup rancangan konseptual desain arsitektur maupun desain interior.

Khusus untuk kategori karya yang sudah terbangun pada bangunan hunian, sebagai pertimbangan terhadap perkembangan hunian vertikal, kompetisi ini menambahkan sub-kategori untuk bangunan apartemen atau kondominium.

Selain Cosmas Gozali, jajaran dewan juri DDA 2026 lainnya berasal dari Indonesia, yaitu Tan Tik Lam dan Alex Bayusaputro, serta Wenky Handono.

Perwakilan dari Malaysia dan Singapura adalah IDr Tay Ei Ling dan IDr Henry Yew.

Baca juga di sini: Membangun Karier Tahan Banting di Zaman Penuh Ketidakpastian

Sementara itu, IDr Cecil Ravelas mewakili Filipina dalam dewan juri.