KabarDermayu.com – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengambil langkah strategis untuk memperkuat kepercayaan investor di pasar modal.
Langkah tersebut diwujudkan melalui persetujuan aksi pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai fantastis mencapai Rp1,17 triliun.
Keputusan penting ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan pada tanggal 29 April 2026.
Periode pelaksanaan buyback ini akan berlangsung selama 12 bulan, terhitung sejak persetujuan RUPST, yaitu hingga 29 April 2027.
Saham-saham yang berhasil dibeli kembali nantinya akan dialokasikan sebagai saham treasuri.
Selanjutnya, saham treasuri ini akan didistribusikan kembali melalui program kepemilikan saham yang ditujukan bagi karyawan, direksi, dan dewan komisaris non-independen.
Tindakan ini dilakukan sesuai dengan regulasi yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Manajemen Bank Mandiri menyatakan bahwa aksi korporasi ini bertujuan utama untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan investor.
Hal ini didasari oleh keyakinan kuat terhadap prospek jangka panjang perseroan yang didukung oleh fundamental bisnis yang kokoh.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Manajemen Perseroan melalui keterangan tertulis pada Kamis, 30 April 2026.
Keputusan buyback ini tidak terlepas dari catatan kinerja finansial Bank Mandiri yang sangat solid selama periode 2025 hingga kuartal I 2026.
Sepanjang tahun buku 2025, Bank Mandiri berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp56,3 triliun.
Pencapaian laba tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit yang impresif, mencapai 13,4 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Total penyaluran kredit pada tahun 2025 mencapai Rp1.895 triliun.
Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, yaitu sebesar 23,9 persen secara tahunan, mencapai Rp2.106 triliun.
Kinerja positif ini berlanjut memasuki awal tahun 2026.
Hingga kuartal I 2026, emiten dengan kode saham BMRI ini berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp15,4 triliun.
Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 16,6 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Profitabilitas perseroan tetap terjaga dengan baik, tercermin dari Return on Equity (ROE) bank only yang berada di level 22,1 persen.
Sementara itu, posisi permodalan Bank Mandiri juga sangat kuat, ditunjukkan oleh Capital Adequacy Ratio (CAR) yang mencapai 19,7 persen.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit bank only mencapai Rp1.530 triliun.
Angka ini melonjak 17,4 persen secara tahunan (yoy) dan bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan industri perbankan.
Kualitas aset Bank Mandiri tetap terjaga dengan baik, yang tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) gross yang hanya sebesar 0,98 persen.
Sementara itu, DPK hingga Maret 2026 menunjukkan pertumbuhan yang solid sebesar 21,1 persen secara tahunan (yoy).
Total DPK pada periode tersebut mencapai Rp1.675 triliun.
Selain aksi buyback, Bank Mandiri juga menyetujui pembagian dividen tunai.
Total dividen yang akan dibagikan mencapai Rp44,47 triliun, yang setara dengan 79 persen dari laba bersih Tahun Buku 2025.
Jumlah dividen ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah perseroan.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menegaskan bahwa pembagian dividen yang besar ini mencerminkan komitmen perseroan.
Komitmen tersebut adalah untuk memberikan nilai optimal bagi negara selaku pemegang saham mayoritas dan seluruh pemegang saham lainnya.
Hal ini dilakukan tanpa mengurangi kapasitas Bank Mandiri untuk terus bertumbuh dan mengembangkan usahanya di masa depan.
Hingga penutupan perdagangan pada Kamis, 30 April 2026, harga saham BMRI mengalami sedikit koreksi.
Penurunan ini sejalan dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari yang sama.
Saham BMRI tercatat merosot 0,90 persen atau setara dengan 40 poin.
Baca juga di sini: BPH Migas Optimalkan Distribusi BBM Subsidi di Tasikmalaya dengan XStar
Pada penutupan perdagangan tersebut, saham BMRI diperdagangkan pada level Rp4.390.





