KabarDermayu.com – JP Morgan Asset Management dalam laporan terbarunya, ‘Eye on the Market’, menempatkan Indonesia pada peringkat kedua sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia. Peringkat ini diberikan di tengah ketidakpastian pasokan energi global yang tengah melanda berbagai negara.
Laporan tersebut menganalisis konsumsi energi dari 52 negara terbesar, yang mencakup sekitar 82 persen dari total konsumsi energi dunia. Dalam daftar tersebut, Indonesia berada satu tingkat di bawah Afrika Selatan yang menduduki posisi teratas, dan satu tingkat di atas Tiongkok yang berada di peringkat ketiga.
Menanggapi hal ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan rasa syukurnya. Ia menekankan bahwa di tengah kondisi geopolitik yang penuh ketidakpastian pasokan energi global, Indonesia dinilai memiliki ketahanan energi yang kuat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Bahlil, penilaian JP Morgan ini merupakan bukti bahwa Indonesia dinilai sebagai negara yang mampu menghadapi krisis energi. Ketahanan ini didukung oleh beberapa faktor utama. Produksi domestik minyak dan gas bumi (migas) yang cukup besar menjadi salah satu pilar utama.
Selain itu, cadangan dan produksi batubara Indonesia yang masih memadai juga berkontribusi signifikan dalam memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Potensi energi baru dan terbarukan (EBT) yang melimpah di seluruh wilayah Indonesia juga berperan penting dalam menopang kemandirian energi negara.
Bahlil merinci lebih lanjut mengenai capaian di subsektor migas. Ia menyebutkan bahwa target lifting minyak Indonesia pada tahun 2025 berhasil dicapai sebesar 605 ribu barel per hari (bph), sesuai dengan target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Untuk tahun 2026, target ini bahkan ditingkatkan menjadi 610 ribu bph.
Baca juga di sini: Pendapatan Konsolidasi TBS Energi Naik 20,5 Persen di Kuartal I-2026
Peningkatan produksi lifting ini didorong oleh berbagai upaya pemerintah. Optimalisasi produksi dilakukan melalui penerapan teknologi lanjutan, reaktivasi sumur-sumur migas yang idle, serta eksplorasi potensi migas di wilayah Indonesia Timur.
Salah satu temuan eksplorasi terbaru yang diungkapkan Bahlil adalah dari sumur Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur. Penemuan ini menunjukkan potensi sumber daya gas sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) dan 300 juta barel kondensat. Temuan ini berada di Wilayah Kerja (WK) Ganal yang saat ini dioperasikan oleh ENI dan Sinopec.
“Satu tahun setengah kita melakukan eksplorasi, kita dapat lagi gas di Kalimantan Timur, namanya Geliga. Itu 5 TCF, 5 triliun mm. Dengan mendapatkan 300 juta kondensat, ekuivalen dengan 375 juta barel minyak. Ini akan produksi di 2028-2029,” ujar Bahlil.
Selain upaya peningkatan produksi migas, pemerintah juga gencar melakukan pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM). Salah satu strategi utamanya adalah pengembangan program Biodiesel 50 persen (B50), yang ditargetkan akan diimplementasikan secara nasional mulai 1 Juli 2026.
Bahlil optimistis bahwa implementasi B50 ini akan memberikan dampak signifikan dalam mengurangi impor BBM nasional, khususnya untuk solar. “Kebutuhan BBM solar pada tahun 2026 itu, kita butuh kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter (KL). Dari 40 juta KL ini, dengan B40 dan B50 Alhamdulillah mulai tahun 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar pertama sejak Republik ini berdiri. Dari solar, kita sudah tidak impor,” jelasnya.
Upaya pengurangan impor juga terus dilakukan untuk sektor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Pemerintah sedang mengkaji berbagai substitusi LPG, seperti Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG). Khusus CNG, pemanfaatannya sudah cukup luas di berbagai sektor industri, termasuk perhotelan, restoran, dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). Bahan baku untuk CNG ini sebagian besar diperoleh dari sumber daya domestik.





