Perkembangan Rupiah dan Fokus Fiskal Indonesia di Tengah Geopolitik Timur Tengah

by -8 Views
Perkembangan Rupiah dan Fokus Fiskal Indonesia di Tengah Geopolitik Timur Tengah

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan terus bergerak fluktuatif, namun pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah tercatat melemah.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs rupiah terhadap dolar AS pada Jumat, 24 April 2026, berada di angka Rp 17.278. Posisi ini menunjukkan penguatan sebesar 30 poin dibandingkan kurs sebelumnya yang tercatat Rp 17.308 pada Kamis, 23 April 2026.

Sementara itu, pada perdagangan pasar spot per Senin, 27 April 2026, hingga pukul 09.01 WIB, rupiah diperdagangkan pada level Rp 17.211 per dolar AS. Angka ini merupakan penguatan sebesar 18 poin atau 0,10 persen dari posisi sebelumnya di Rp 17.229 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa konflik yang terjadi di kawasan Asia Barat Daya telah menimbulkan situasi krisis energi di banyak negara di dunia. Selain itu, ancaman inflasi yang ditimbulkannya juga tidak dapat diremehkan.

Meskipun pemerintah Indonesia memilih untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), hal ini tidak berarti tanpa dampak sama sekali. Kondisi fiskal yang sudah rentan sebelum pecahnya perang kini kembali dihadapkan pada tantangan yang signifikan.

Namun, pemerintah menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini berada dalam posisi yang kuat untuk menghadapi tekanan ekonomi akibat perang di Timur Tengah, yang menyebabkan lonjakan harga komoditas energi.

Ketika harga minyak mentah bergejolak tinggi dan melampaui asumsi makro APBN 2026, yaitu di atas US$100 per barel, pemerintah masih mampu menahan kenaikan harga, terutama untuk BBM bersubsidi dalam negeri. Hal ini dapat dilakukan tanpa menguras cadangan APBN dalam bentuk Saldo Anggaran Lebih (SAL).

Saat ini, SAL pemerintah tercatat mencapai Rp 423 triliun dan belum terpakai sama sekali untuk menahan tekanan belanja subsidi akibat kenaikan harga komoditas energi.

SAL berfungsi sebagai sumber dana terakhir bagi pemerintah apabila anggaran belanja tidak lagi mampu menahan target defisit di bawah 3 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan kemampuan APBN yang masih bisa melakukan efisiensi dan realokasi belanja ke sektor-sektor prioritas, pemerintah menyatakan tetap tenang dalam mengelola defisit APBN 2026 sesuai target yang ditetapkan dalam Undang-Undang Keuangan Negara, yaitu di bawah 3 persen PDB.

Bank Indonesia (BI) juga berkomitmen untuk memaksimalkan seluruh bauran kebijakan moneter yang tersedia. Intervensi dilakukan secara simultan di pasar offshore NDF, pasar spot, dan pasar domestik DNDF. Lebih lanjut, BI akan memperluas operasi moneter valas, termasuk melalui transaksi spot dan swap berbasis yuan offshore. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk memperkuat nilai rupiah dan mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi.

Ibrahim Assuaibi menambahkan, “Mata uang rupiah mengalami fluktuasi namun ditutup melemah di rentang Rp 17.220 hingga Rp 17.260.”

Sebagai informasi tambahan, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih tetap tinggi. Laporan menunjukkan bahwa negosiator utama Teheran untuk pembicaraan yang dimediasi Pakistan dengan Washington telah mengundurkan diri. Presiden Trump sebelumnya menyatakan kepada wartawan pada Kamis malam bahwa ia tidak ingin “terburu-buru” mencapai kesepakatan dengan Iran, sambil membantah penggunaan senjata nuklir.

Dalam konteks lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Senin, 27 April 2026. Penguatan ini terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia yang kembali terjadi akibat kebuntuan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat.

Baca juga di sini: Sopir Angkot di Tanah Abang Selamat dari Upaya Pembakaran Akibat Perselisihan Ngetem

IHSG tercatat dibuka menguat 36 poin atau 0,51 persen, mencapai level 7.165 pada pembukaan perdagangan. Indeks diprediksi akan mengalami rebound dengan potensi terkoreksi pada perdagangan hari ini.