PLN Ungkap Kendala Teknis Integrasi Energi Terbarukan di Sistem Jamali

oleh -5 Dilihat
PLN Ungkap Kendala Teknis Integrasi Energi Terbarukan di Sistem Jamali

KabarDermayu.com – Pengembangan energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, menjadi prioritas strategis dalam peta jalan energi hijau nasional. Namun, sifat intermiten atau fluktuatif dari energi baru terbarukan (EBT) menghadirkan tantangan teknis yang signifikan dalam pengelolaan sistem kelistrikan.

Untuk memastikan kelancaran transisi energi tanpa mengorbankan kualitas pasokan listrik, PT PLN (Persero) telah menyiapkan tiga pilar teknologi utama. Ketiga pilar tersebut meliputi implementasi Smart Grid, digitalisasi sistem proteksi, serta pengembangan Battery Energy Storage System (BESS).

Teknologi-teknologi ini dirancang untuk memungkinkan penyerapan daya dari EBT secara lebih fleksibel. Selain itu, teknologi ini juga berperan penting dalam menjaga stabilitas tegangan sistem kelistrikan secara real-time.

Senior Manager Operasi Sistem PLN Unit Induk Pembangunan Pembangkit dan Jaringan (UIP2B) Jamali, Elvanto Yanuar Ikhsan, menyatakan bahwa dinamika frekuensi yang berubah-ubah dan potensi penurunan inersia sistem merupakan perhatian utama bagi para operator jaringan listrik.

Baca juga: Telkomsel Siapkan Uji Coba di GBK untuk 50 Ribu Pengunjung

“Kompleksitas beban di sistem Jamali kian meningkat seiring masuknya variabel Energi Baru dan Terbarukan. Sistem harus siap menghadapi variabilitas dan stabilitas kelistrikan,” ujar Elvanto, dikutip dari keterangan resminya pada Selasa, 5 Mei 2026.

Dalam upaya mempercepat transisi energi terbarukan, PLN UIP2B Jamali menggelar program “PLN Mengajar” di Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DTE FTUI). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman publik mengenai transisi energi nasional.

Program yang mengusung tema “Dampak Beroperasinya Pembangkit Energi Baru dan Terbarukan pada Keandalan Sistem Jawa, Madura, dan Bali” ini merupakan bagian dari komitmen PLN untuk mencapai target net zero emission pada tahun 2060.

Dalam kegiatan tersebut, Elvanto Yanuar Ikhsan hadir sebagai dosen tamu. Ia didampingi oleh Manager Analisis dan Evaluasi Operasi Sistem, Suci Rositawati, serta Assistant Manager Pengelolaan Data Aplikasi dan Data Operasi Real Time, Bilkis Mukhlisoti.

Para mahasiswa mendapatkan wawasan teknis langsung mengenai berbagai tantangan dan strategi yang dihadapi dalam mengintegrasikan EBT ke dalam sistem tenaga listrik berskala besar. Diskusi ini sangat penting untuk mempersiapkan generasi insinyur masa depan.

Saat ini, sistem Jamali memiliki bauran energi yang didominasi oleh pembangkit batubara sebesar 60,2%, diikuti oleh pembangkit gas sebesar 30,5%. Porsi EBT baru mencapai 8,4%, sementara sisanya sebesar 0,9% berasal dari sumber energi lainnya.

Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki ruang yang signifikan untuk memperbesar porsi EBT dalam bauran energinya. Hal ini perlu diiringi dengan kesiapan teknis yang matang, mengingat negara tetangga seperti Thailand telah mencapai 22,3% EBT dan Malaysia sebesar 7%.

Program PLN Mengajar menjadi wujud nyata komitmen PLN dalam membangun ekosistem sumber daya manusia (SDM) yang siap mengawal transisi energi. Diharapkan, mahasiswa Teknik Elektro UI dapat menjadi generasi insinyur yang tidak hanya memahami aspek teknis EBT, tetapi juga mampu berkontribusi dalam riset dan inovasi.

Kontribusi tersebut sangat penting untuk mendukung ketahanan energi nasional di masa depan. Kolaborasi antara industri dan akademisi ini menegaskan bahwa percepatan peta jalan energi hijau bukan hanya soal pembangunan infrastruktur.

Lebih dari itu, hal ini juga sangat krusial dalam membangun kapasitas manusia yang andal dan mampu mengelola sistem energi masa depan secara berkelanjutan. PLN UIP2B Jamali berkomitmen untuk terus mendorong inovasi dan pengembangan SDM di sektor energi.