Starbucks Kembali PHK Karyawan, Divisi Teknologi Jadi Sasaran

by -88 Views
Starbucks Kembali PHK Karyawan, Divisi Teknologi Jadi Sasaran

KabarDermayu.com – Raksasa kopi global, Starbucks, kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Kali ini, gelombang pengurangan tenaga kerja tersebut menyasar divisi teknologi perusahaan sebagai bagian dari upaya restrukturisasi organisasi yang sedang berjalan.

Langkah ini diambil di tengah upaya besar Starbucks untuk membenahi bisnisnya di bawah kepemimpinan CEO baru, Brian Niccol. Niccol, yang bergabung pada 2024, memiliki tugas berat untuk mengatasi perlambatan penjualan, tekanan pada laba, serta berbagai masalah operasional yang dihadapi di gerai-gerai Starbucks.

Menurut laporan internal perusahaan yang diperoleh oleh The Seattle Times, Starbucks telah memulai proses pemberitahuan kepada karyawan yang terdampak PHK pada pekan ini. Isu mengenai pemangkasan tenaga kerja ini sendiri memang telah beredar selama beberapa hari sebelumnya.

Meskipun Starbucks belum merilis angka pasti mengenai jumlah karyawan yang terkena PHK atau apakah pemangkasan ini akan terpusat di Seattle, perusahaan menegaskan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas. Tujuannya adalah untuk menata ulang operasional dan memastikan alokasi sumber daya tertuju pada area-area yang paling membutuhkan.

Baca juga di sini: Respons Purbaya Soal Sisa Kas Negara Rp 120 Triliun

“Kami sedang melakukan perubahan struktural untuk bergerak lebih cepat, mempertajam fokus, dan memastikan kami siap menjalankan prioritas paling penting kami,” demikian tertulis dalam memo internal perusahaan, seperti dikutip dari Times of India pada Jumat, 24 April 2026.

Starbucks juga secara tegas menyatakan bahwa PHK ini tidak terkait dengan rencana pemindahan sebagian fungsi pekerjaan teknologi dari Seattle ke kantor baru yang berlokasi di Nashville, Tennessee. Penegasan ini disampaikan dalam laporan yang sama.

Kantor baru di Nashville tersebut diproyeksikan akan menampung hingga 2.000 pekerjaan secara bertahap. Restrukturisasi ini merupakan elemen kunci dari strategi transformasi bisnis yang digagas oleh Brian Niccol sejak mengambil alih kepemimpinan perusahaan.

Saat ini, Starbucks tengah berjuang untuk melakukan pemulihan (turnaround) setelah menghadapi tantangan dalam hal penjualan dan profitabilitas selama beberapa tahun terakhir. Selain upaya pembaruan operasional di tingkat toko dan ekspansi ke pasar-pasar baru, perusahaan juga gencar melakukan efisiensi biaya di berbagai lini bisnisnya.

Pada Desember 2025, Starbucks menunjuk Anand Varadarajan sebagai Chief Technology Officer (CTO). Sebelumnya, Varadarajan telah menghabiskan hampir dua dekade di Amazon, di mana ia memimpin bisnis grosir global perusahaan tersebut. Penunjukan ini dipandang sebagai indikasi pergeseran strategis Starbucks menuju pertumbuhan yang didorong oleh teknologi dan peningkatan efisiensi operasional.

PHK terbaru ini menambah panjang daftar pengurangan tenaga kerja yang telah dilakukan Starbucks sepanjang tahun lalu. Sebelumnya, perusahaan telah mengumumkan penutupan ratusan gerai di Amerika Serikat dan Kanada, termasuk lebih dari 30 toko di negara bagian Washington.

Selain itu, Starbucks juga telah melakukan pemangkasan terhadap hampir 1.000 pekerja, baik di lini ritel maupun non-ritel, di wilayah Seattle dan Kent. Sekitar 1.100 karyawan korporat juga turut terdampak. Laporan tersebut mengindikasikan bahwa pemangkasan lebih lanjut masih mungkin terjadi dalam beberapa minggu mendatang seiring perusahaan terus melakukan penyesuaian operasional dan struktur biaya.

Langkah efisiensi ini mencerminkan upaya perusahaan untuk menyesuaikan struktur biayanya di tengah kompleksitas tantangan bisnis yang dihadapi. Fenomena ini menunjukkan bahwa transformasi digital dan efisiensi operasional telah menjadi prioritas utama bagi banyak perusahaan besar di kancah global.

Namun demikian, langkah restrukturisasi ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai stabilitas lapangan kerja, terutama bagi para pekerja di sektor teknologi. Sektor ini sebelumnya kerap dianggap sebagai area yang relatif lebih aman dari gelombang PHK yang melanda industri lainnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.