Tantangan Telak Presiden Iran untuk Trump: Kami Muslim Hanya Takluk pada Allah

oleh -4 Dilihat
Tantangan Telak Presiden Iran untuk Trump: Kami Muslim Hanya Takluk pada Allah

KabarDermayu.com – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memberikan respons tegas terkait tekanan internasional, khususnya dari Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa bangsa Iran tidak akan tunduk pada intimidasi, sejalan dengan keyakinan agama mereka.

Dalam sebuah percakapan telepon dengan Perdana Menteri Irak yang baru ditunjuk, Ali Faleh al-Zaydi, pada Selasa, 5 Mei 2026, Pezeshkian menyatakan, “Kami umat Islam hanya menyerah kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tidak ada orang lain yang dapat membuat kami menyerah.” Pernyataan ini dilansir oleh kantor berita IRNA pada Rabu, 6 Mei 2026.

Presiden Iran juga menyampaikan ucapan selamat kepada Ali Faleh al-Zaydi atas pengangkatannya sebagai Perdana Menteri Irak. Ia mendoakan kesuksesan dalam upaya pembentukan pemerintahan Irak yang baru.

Lebih lanjut, Pezeshkian menekankan perlunya Amerika Serikat untuk menghentikan ancaman militer di kawasan tersebut. Ia berargumen bahwa pengikut mazhab Syiah tidak dapat dipaksa dengan cara kekerasan, yang menyiratkan penolakan terhadap intervensi militer.

Baca juga: Sorotan Tata Kelola Desa Eretan Kulon: Dugaan Rangkap Jabatan dan Pengelolaan Aset Desa Dipertanyakan

Presiden Iran sebelumnya telah menyerukan adanya kerja sama regional dengan Irak. Ia menegaskan bahwa Iran tidak memiliki keinginan untuk berkonflik dengan negara-negara tetangganya. Iran mendukung penyelesaian perbedaan regional, termasuk di Teluk Persia, melalui jalur dialog.

Pezeshkian menyoroti bahwa salah satu isu krusial yang dihadapi kawasan saat ini adalah kebutuhan untuk mengakhiri perang dan tekanan asing. Ia mengkritik kontradiksi yang ditunjukkan oleh Amerika Serikat, yang menerapkan kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran namun di saat yang sama mengharapkan adanya negosiasi.

Ia berpendapat bahwa dialog yang bermakna menjadi tidak mungkin terjadi ketika adanya ancaman militer. Oleh karena itu, Pezeshkian mendesak penghapusan ancaman militer dari kawasan tersebut. Ia menyatakan bahwa stabilitas yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui penghormatan terhadap hak-hak Iran dan penghentian kebijakan koersif.

Trump Mendesak Iran untuk Menyerah dan Mengibarkan Bendera Putih

Sebelumnya, mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan yang meremehkan kemampuan militer Iran. Trump mengatakan bahwa Teheran seharusnya “mengibarkan bendera putih tanda menyerah,” namun menuding Iran terlalu bangga untuk melakukannya.

Saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval pada Selasa, Trump mengklaim bahwa militer Iran telah mengalami penurunan drastis, bahkan hanya mampu menembakkan “senjata mainan.” Ia juga berpendapat bahwa Iran, secara pribadi, ingin mencapai kesepakatan, meskipun secara publik mereka menunjukkan sikap mengancam.

“Mereka bermain-main, tetapi izinkan saya memberi tahu Anda, mereka ingin membuat kesepakatan. Dan siapa yang tidak mau, ketika militer Anda benar-benar hancur?” ujar Trump, menyiratkan keraguan terhadap kekuatan militer Iran.

Trump memuji kebijakan blokade yang diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di kawasan tersebut. “Ini seperti sepotong baja. Tidak ada yang akan menantang blokade tersebut. Dan saya pikir itu berjalan dengan sangat baik,” katanya, merujuk pada efektivitas blokade tersebut.

Ketika ditanya mengenai tindakan yang perlu dilakukan Iran untuk pelanggaran gencatan senjata, Trump memberikan jawaban yang ambigu. “Yah, Anda akan mengetahuinya, karena saya akan memberi tahu Anda… Mereka tahu apa yang tidak boleh dilakukan,” jelasnya.

Trump kembali menekankan pandangannya bahwa Iran “seharusnya menyimpan bendera putih penyerahan diri.” Ia menambahkan, “Jika ini adalah pertempuran, mereka akan menghentikannya,” yang menyiratkan bahwa Iran akan mengalah jika menghadapi konfrontasi militer yang sesungguhnya.