Rupiah Menguat ke Rp 17.661, Pasar Respons Isu Pergantian Menkeu

oleh -5 Dilihat
Rupiah Menguat ke Rp 17.661, Pasar Respons Isu Pergantian Menkeu

KabarDermayu.com – Dinamika pasar keuangan Indonesia kembali menjadi sorotan di tengah isu perombakan kabinet yang santer beredar. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami penguatan tipis pada perdagangan Selasa, 15 September 2026, meski sebelumnya sempat mengalami tekanan di awal pekan.

Berdasarkan data pasar spot pada Selasa pagi pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda diperdagangkan di level Rp 17.661 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan penguatan sebesar 8 poin atau sekitar 0,05 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp 17.669 per dolar AS.

Pergerakan ini terjadi setelah sebelumnya, pada Senin, 14 September 2026, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di level Rp 17.635, yang mencerminkan pelemahan 24 poin dari posisi akhir pekan lalu di level Rp 17.611.

Dampak Isu Pergantian Menteri Keuangan

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa fluktuasi nilai tukar saat ini tidak terlepas dari sentimen politik domestik, khususnya isu pergantian Menteri Keuangan. Nama Purbaya Yudhi Sadewa disebut-sebut dalam isu reshuffle kabinet, yang dinilai pasar sebagai momen krusial.

“Momentum saat ini Purbaya di-reshuffle sudah menjadi bom waktu yang cukup lama. Kita melihat Purbaya konsisten melakukan upaya bersih-bersih di Kementerian Keuangan, khususnya pada sektor Pajak dan Bea Cukai. Kondisi ini berpotensi memicu resistensi dari pihak-pihak yang merasa terganggu, termasuk dari kalangan partai politik,” jelas Ibrahim.

Tantangan Ekonomi Global 2026

Di luar faktor domestik, Ibrahim menambahkan bahwa pelemahan rupiah secara fundamental juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan sepanjang tahun 2026. Beberapa faktor utama yang menekan pasar antara lain tingginya harga energi dunia, kebijakan suku bunga global yang masih tertahan di level tinggi, serta tren perlambatan pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.

Dalam menyikapi kondisi ini, Ibrahim menyarankan agar pemerintah tetap waspada terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Ia menekankan pentingnya menjaga defisit tetap berada di bawah ambang batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Efisiensi Anggaran Makan Bergizi Gratis

Salah satu langkah strategis yang disoroti adalah efisiensi anggaran pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ibrahim menilai bahwa program tersebut memiliki ruang yang cukup besar untuk dikelola lebih efisien tanpa mengurangi esensi manfaatnya bagi masyarakat.

  • Pagu awal anggaran MBG yang mencapai Rp 330 triliun dinilai cukup besar dibandingkan dengan kesiapan tata kelola di lapangan.
  • Penyesuaian anggaran ke angka Rp 262,5 triliun, lalu menjadi Rp 232,5 triliun untuk 72,46 juta penerima, dinilai sebagai langkah positif.
  • Efisiensi lebih lanjut hingga di bawah Rp 200 triliun masih dimungkinkan, asalkan difokuskan pada komponen yang tidak produktif.

Ibrahim menegaskan bahwa prioritas pemerintah saat ini seharusnya bukan lagi pada besaran anggaran, melainkan pada efektivitas belanja agar dampaknya benar-benar dirasakan oleh penerima manfaat. Meski fluktuasi masih akan membayangi, pasar diprediksi akan terus mencermati kebijakan fiskal pemerintah ke depan.

Secara teknikal, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah akan terus bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Rupiah diperkirakan masih akan berada dalam rentang pergerakan antara Rp 17.660 hingga Rp 17.710 per dolar AS.