Uni Eropa Tarik Emas dari AS: Mengapa Kepercayaan Kini Pudar?

oleh -15 Dilihat
Uni Eropa Tarik Emas dari AS: Mengapa Kepercayaan Kini Pudar?

KabarDermayu.com – Selama beberapa dekade, Fort Knox di Kentucky, Amerika Serikat, telah menjadi simbol universal bagi keamanan yang tidak tergoyahkan. Julukan “seaman Fort Knox” bahkan menjadi standar emas dalam dunia finansial untuk menggambarkan tempat penyimpanan aset paling aman di muka bumi. Namun, narasi kepercayaan tersebut kini mulai retak di mata sejumlah negara Eropa.

Pergeseran paradigma ini terlihat jelas dari langkah strategis yang diambil oleh beberapa bank sentral di Eropa. Mereka mulai menarik cadangan emas fisik mereka dari Amerika Serikat dan memindahkannya kembali ke benua asal atau pusat keuangan yang lebih dekat dengan yurisdiksi mereka. Langkah ini mencerminkan kegelisahan mendalam terkait stabilitas geopolitik dan aksesibilitas aset di masa depan.

Tren Repatriasi Emas di Eropa

Salah satu langkah nyata datang dari De Nederlandsche Bank (DNB), bank sentral Belanda, yang memutuskan memindahkan sekitar 86 ton emas dari New York ke London. Langkah serupa juga diambil oleh otoritas Prancis yang menarik seluruh sisa cadangan emasnya dari Federal Reserve Bank of New York dalam periode Juli 2025 hingga Januari 2026. Meski Gubernur Bank of France, François Villeroy de Galhau, menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak bermotif politik, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari sentimen di Italia dan Jerman yang turut menyerukan langkah serupa.

Para analis melihat bahwa “gejolak geopolitik” menjadi pemicu utama. Sebastien Tillett, seorang analis dari Oxford Economics, menjelaskan bahwa meski risiko penyitaan aset secara langsung di AS dianggap sangat kecil, kekhawatiran mengenai aksesibilitas aset dalam situasi ekstrem tetap menjadi prioritas. Dalam skenario sanksi hukum atau krisis global, negara-negara Eropa khawatir aset mereka bisa menjadi tidak dapat diakses untuk sementara waktu.

Mengapa London Menjadi Pilihan?

Menariknya, banyak dari emas tersebut tidak langsung dipulangkan ke negara asal, melainkan dipindahkan ke London. Menurut Krishnan Gopaul dari World Gold Council, pilihan ini didasarkan pada pertimbangan pragmatis. London dipandang sebagai jantung pasar emas dunia dengan tingkat likuiditas yang sangat tinggi.

“Gagasannya adalah ketika terjadi krisis atau situasi sulit, emas tersebut berpotensi untuk dimobilisasi dengan cepat. London pada dasarnya adalah pusat perdagangan paling likuid, dan di sanalah Anda ingin emas Anda berada saat krisis melanda,” ungkap Gopaul.

Bank of England sendiri saat ini tercatat sebagai salah satu kustodian emas terbesar di dunia, menyimpan sekitar 400.000 batangan emas dengan estimasi nilai mencapai US$270 miliar atau setara dengan Rp4.754 triliun.

Konteks Geopolitik dan Ekonomi

Keputusan untuk memindahkan cadangan emas ini juga beriringan dengan meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi di bawah pemerintahan Donald Trump. Retorika politik yang kerap memicu ketegangan dengan Uni Eropa, ditambah dengan tantangan ekonomi seperti lonjakan utang pemerintah AS, membuat kepercayaan investor global mulai goyah. Bahkan, pengelola dana kekayaan negara Norwegia baru-baru ini menyatakan perlunya pengurangan kepemilikan surat utang pemerintah AS.

Berikut adalah beberapa faktor pendorong utama bagi bank sentral untuk melakukan diversifikasi lokasi penyimpanan:

  • Ketahanan Krisis: Memastikan emas dapat diakses dengan cepat saat sistem keuangan global mengalami guncangan.
  • Risiko Geopolitik: Menghindari ketergantungan pada satu yurisdiksi yang mungkin memiliki kebijakan luar negeri yang tidak terduga.
  • Fleksibilitas Aset: Memastikan emas berada di pusat perdagangan yang aktif untuk mempermudah transaksi jika dibutuhkan sewaktu-waktu.

Meski tren repatriasi ini terus berkembang, Amerika Serikat tetap menjadi penyimpan emas terbesar bagi beberapa negara. Sebagai contoh, Bundesbank Jerman masih menyimpan lebih dari 1.000 ton emas di fasilitas Federal Reserve, meskipun mereka telah menarik sekitar 300 ton dalam kurun waktu 2013 hingga 2017. Dalam pernyataan resminya, pihak Jerman menegaskan bahwa mereka masih memandang New York Fed sebagai mitra yang dapat diandalkan.

Secara keseluruhan, fenomena ini menunjukkan bahwa emas kini kembali menempati posisi sentral dalam strategi cadangan devisa negara. Dengan akumulasi rata-rata 1.000 ton emas per tahun oleh bank sentral global dalam empat tahun terakhir, emas bukan lagi sekadar aset statis, melainkan instrumen pertahanan yang dikelola dengan penuh kehati-hatian di tengah ketidakpastian dunia.