Sri Mulyani Pimpin Dana Negara Miskin Bank Dunia, Ini Rekam Jejaknya

oleh -9 Dilihat
Sri Mulyani Pimpin Dana Negara Miskin Bank Dunia, Ini Rekam Jejaknya

KabarDermayu.com – Panggung ekonomi global kembali memanggil sosok ekonom kawakan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati. Setelah masa pengabdiannya di kursi kabinet pemerintah Indonesia berakhir, ia resmi mengemban tanggung jawab strategis di level internasional, tepatnya di lembaga keuangan prestisius, Bank Dunia.

Kabar penunjukan Sri Mulyani sebagai Independent Co-Chair untuk International Development Association (IDA) Replenishment ke-22 atau IDA22 ini mencuat pada Kamis, 6 Agustus 2026. Jabatan ini menegaskan kembali kepercayaan dunia internasional terhadap kapasitas kepemimpinan dan kepakaran fiskal yang dimiliki oleh mantan Menteri Keuangan RI tersebut.

Peran Strategis dalam Penggalangan Dana Global

Sebagai Ketua Independen IDA22, Sri Mulyani tidak sekadar memegang posisi seremonial. Ia memikul tanggung jawab besar untuk memimpin proses pengisian kembali dana IDA yang krusial bagi keberlangsungan pembangunan negara-negara berkembang dan termiskin di dunia. Dalam menjalankan tugas ini, ia akan berkolaborasi dengan Direktur Pelaksana Bank Dunia, Paschal Donohoe.

Tugas utama yang menantinya adalah mengoordinasikan komitmen pendanaan dari berbagai negara donor. Proses ini melibatkan negosiasi intensif dan diplomasi ekonomi guna memastikan bahwa program-program strategis yang didanai oleh IDA tetap berjalan efektif dalam beberapa tahun ke depan hingga 2031.

International Development Association (IDA) sendiri merupakan instrumen vital di bawah Grup Bank Dunia. Lembaga ini memiliki mandat khusus untuk memberikan bantuan berupa:

  • Pinjaman dengan bunga sangat rendah atau tanpa bunga.
  • Hibah bagi negara-negara dengan pendapatan rendah.
  • Dukungan pendanaan untuk sektor pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur dasar.

Sejak pertama kali didirikan pada tahun 1960, IDA telah menjadi tulang punggung pembiayaan bagi 115 negara dengan total penyaluran dana mencapai lebih dari 632 miliar dolar AS. Keberhasilan siklus pendanaan IDA22 nantinya akan menjadi penentu nasib bagi sekitar 78 negara yang sangat bergantung pada bantuan lembaga ini.

Jejak Panjang di Lembaga Internasional

Bagi Sri Mulyani, gedung Bank Dunia bukanlah tempat yang asing. Ia memiliki sejarah karier yang mentereng di lembaga tersebut. Pada tahun 2010, ia mencatatkan sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang menduduki jabatan Direktur Pelaksana Bank Dunia. Ia bahkan sempat meninggalkan posisinya sebagai Menteri Keuangan saat itu untuk mendedikasikan diri di Washington D.C., sebelum akhirnya kembali ke tanah air pada tahun 2016 atas permintaan Presiden Joko Widodo.

Selain Bank Dunia, rekam jejak internasionalnya juga diperkuat oleh pengalamannya sebagai Direktur Eksekutif di Dana Moneter Internasional (IMF), di mana ia menjadi representasi bagi 12 negara di Asia Tenggara. Kombinasi pengalaman sebagai akademisi, pengambil kebijakan domestik, dan diplomat ekonomi internasional menjadikannya salah satu sosok yang paling disegani di kancah global.

Pengakuan Dunia atas Dedikasi

Reputasi Sri Mulyani sebagai ekonom tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga diakui secara luas di panggung internasional. Berbagai penghargaan bergengsi telah ia raih selama masa baktinya, antara lain:

“Best Minister in the World” pada ajang World Government Summit di Dubai tahun 2018, serta gelar Menteri Keuangan Terbaik Asia yang beberapa kali disematkan oleh lembaga seperti Emerging Markets dan FinanceAsia.

Selama memimpin Kementerian Keuangan, ia dikenal sebagai sosok yang disiplin dalam menjaga stabilitas fiskal dan melakukan reformasi birokrasi yang komprehensif. Kepercayaan investor terhadap Indonesia pun kerap terjaga berkat kebijakan-kebijakan yang ia terapkan di tengah gejolak ekonomi global yang tidak menentu.

Kini, dengan dimulainya babak baru di Bank Dunia, Sri Mulyani kembali membuktikan bahwa kontribusinya tidak terbatas pada batas wilayah negara. Kiprahnya dalam memimpin penggalangan dana bagi negara-negara miskin diharapkan dapat membawa dampak nyata bagi pengentasan kemiskinan ekstrem dan pembangunan ekonomi global yang lebih inklusif.