KabarDermayu.com – Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah kembali berlanjut pada perdagangan pekan ini. Mata uang Garuda terpantau melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), seiring dengan tantangan berat yang dihadapi pemerintah dalam menyeimbangkan target pertumbuhan ekonomi dengan komitmen menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs rupiah tercatat berada di level Rp 17.712 pada Rabu, 16 September 2026. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 25 poin dibandingkan posisi perdagangan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.687.
Tren pelemahan tersebut berlanjut pada Kamis, 17 September 2026. Hingga pukul 09.07 WIB, rupiah ditransaksikan di level Rp 17.764 per dolar AS. Nilai ini mencerminkan koreksi sebesar 68 poin atau sekitar 0,38 persen dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp 17.696 per dolar AS.
Tantangan Fiskal di Tangan Suahasil
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti peran strategis Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, dalam mengelola kebijakan fiskal di tengah kondisi yang menantang. Menurutnya, Suahasil kini berada di persimpangan dua kepentingan besar: menggenjot pertumbuhan ekonomi domestik sekaligus menjaga disiplin anggaran agar tetap kredibel di mata pasar.
“Fokus yang lebih krusial adalah mempertahankan kapasitas fiskal untuk mendorong pertumbuhan, sembari memastikan penggunaan instrumen fiskal berlangsung dengan aturan dan koordinasi yang jelas,” jelas Ibrahim.
Ibrahim menambahkan bahwa kredibilitas fiskal bukan sekadar menjaga neraca pemerintah agar terlihat sehat secara administratif. Lebih dari itu, kesehatan fiskal merupakan modal penting agar pemerintah memiliki ruang gerak yang cukup untuk melakukan intervensi atau memberikan stimulus ketika terjadi guncangan ekonomi yang tidak terduga.
Pemerintah juga dituntut untuk menjaga defisit APBN tetap berada di bawah batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski komitmen ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor, Ibrahim mengingatkan bahwa kondisi global yang masih diwarnai dengan tingginya durasi biaya global serta permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih, menuntut kehati-hatian dalam mengambil kebijakan konsolidasi fiskal.
Utang Luar Negeri dan Dinamika Global
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per Juli 2026 mencapai US$453,4 miliar, atau setara dengan Rp8.211,8 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 4,9 persen secara tahunan (yoy).
Peningkatan ini didorong oleh kenaikan ULN sektor publik sebesar 3,2 persen (yoy), sementara ULN sektor swasta justru mencatatkan penurunan. BI menyatakan bahwa posisi ULN pemerintah saat ini masih dalam kategori aman dan terkendali, mengingat mayoritas utang tersebut memiliki tenor jangka panjang.
Selain faktor domestik, pelemahan rupiah juga tidak terlepas dari dinamika geopolitik global. Gangguan pasokan minyak dunia kembali menjadi perhatian setelah adanya laporan penutupan pipa minyak Timur-Barat (East-West pipeline) oleh Arab Saudi pasca-serangan di pelabuhan Yanbu. Ketegangan yang melibatkan kelompok Houthi di Yaman serta eskalasi di Selat Hormuz antara Iran dan AS turut memberikan sentimen negatif bagi pasar uang global, yang berdampak pada fluktuasi nilai tukar di berbagai negara, termasuk Indonesia.





