Film Ain: Teror Tanpa Setan, Trauma Menanti Mulai 7 Mei

oleh -6 Dilihat
Film Ain: Teror Tanpa Setan, Trauma Menanti Mulai 7 Mei

KabarDermayu.com – Industri perfilman Indonesia akan segera diramaikan dengan kehadiran film horor terbaru bertajuk Ain, sebuah karya kolaborasi antara MVP Pictures dan Manara Films. Film yang dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 7 Mei 2026 ini menawarkan pendekatan yang unik dan berbeda dalam genre horor.

Berbeda dari film horor pada umumnya yang kerap menampilkan sosok gaib atau kisah mistis, Ain justru menggali unsur ketakutan dari sisi psikologis manusia. Film ini akan membawa penonton pada teror perubahan fisik yang mengerikan, yang bersumber dari obsesi dan ambisi karakter utamanya.

Disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Archie Hekagery, Ain digadang-gadang sebagai film body horror tanpa kehadiran setan pertama yang tayang di bioskop Indonesia. Konsep ini diharapkan mampu memberikan warna baru dan pengalaman menonton yang segar bagi para pecinta film horor Tanah Air.

Cerita dalam film ini berpusat pada sosok Joy Putri, seorang beauty influencer yang memiliki ambisi besar untuk meraih popularitas. Obsesinya terhadap jumlah penonton saat siaran langsung membuatnya rela melakukan apa saja demi mencapai target 10 ribu viewers.

Namun, ambisi Joy yang tak terbendung ini justru berujung pada malapetaka. Ia mengabaikan peringatan dari sahabatnya, Dini, mengenai bahaya konsep ain. Ain sendiri merujuk pada pandangan iri atau kagum yang dipercaya dapat membawa dampak buruk bagi orang yang dituju.

Sejak saat itu, tubuh Joy mulai mengalami perubahan yang mengerikan secara perlahan. Kehidupannya pun berubah menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai, menjebaknya dalam kengerian yang diciptakan oleh obsesinya sendiri.

Baca juga di sini: Infantino Akan Maju Lagi di Pemilihan Presiden FIFA 2027

Archie Hekagery menjelaskan bahwa sejak awal, visinya adalah menciptakan film yang sangat mengandalkan kekuatan akting para pemainnya, bukan sekadar kuantitas pemain. Ia ingin fokus pada pengembangan karakter yang mendalam.

“Sebenarnya konsepnya gak mau banyak pemain. Nulisnya juga cuma 2 pemain. Kuncinya memang harus dari pemainnya dulu kalau pemainnya kuat filmnya juga kuat,” ujar Archie Hekagery saat konferensi pers yang digelar di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, pada Rabu, 29 April 2026.

Ia dengan bangga mengklaim bahwa Ain merupakan film body horror tanpa unsur setan pertama yang hadir di bioskop Indonesia. Hal ini menunjukkan keberanian tim produksi dalam mengeksplorasi tema horor yang berbeda.

Tantangan terbesar selama proses produksi, menurut Archie, terletak pada penggambaran adegan transformasi tubuh Joy. Adegan-adegan ini membutuhkan tingkat detail yang sangat tinggi untuk menciptakan efek visual yang meyakinkan dan mencekam.

“Seluruh adegan topengnya joy itu susah banget. Sangat menantang setiap adegannya,” ungkapnya, menekankan betapa rumitnya menciptakan visual yang sesuai dengan visi cerita.

Pemeran utama film ini, Fergie Britanny, mengakui bahwa proyek Ain menjadi pengalaman paling menantang dalam kariernya. Selain porsi akting yang sangat dominan di layar, ia juga harus beradaptasi dengan penggunaan prostetik yang ekstensif dan menghadapi situasi syuting yang ekstrem.

“Jujur ini pengalaman pertama screentime sebanyak ini dan prostetik sebanyak ini. Yang waktu aku di bathtub itu aku masuk ke air aku panik banget karena aku udah keluar tapi airnya masih di dalem. Sama adegan pas berantem itu,” tuturnya, menggambarkan kesulitan yang ia hadapi selama syuting.

Sementara itu, aktris Putri Ayudya merasa tertarik untuk terlibat dalam film Ain sejak awal karena tema yang diangkat dianggap sangat berbeda dan memberikan perspektif baru baginya.

“Isunya menarik ya, aku gak pernah tau Ain sampai di film ini. Jadi banyak belajar,” katanya, menunjukkan apresiasinya terhadap kedalaman cerita yang ditawarkan.

Selain berperan sebagai aktris, Putri Ayudya juga mendapatkan tanggung jawab baru di balik layar. Ia dipercaya untuk masuk ke dalam departemen talenta, sebuah peran yang baru pertama kali ia jalani.

“Di sini untuk pertama kalinya aku ditunjuk untuk masuk ke talent departemen. Aku mencari talent, makanya tadi dilihat banyak yang baru,” jelasnya, menyoroti kontribusinya dalam mencari dan mengembangkan bakat-bakat baru untuk film tersebut.

Dengan mengangkat isu mengenai obsesi terhadap popularitas, tekanan media sosial, serta teror perubahan fisik yang mengerikan, Ain menawarkan sebuah pengalaman horor yang segar dan berbeda dari yang biasa disajikan. Film ini menjadi pilihan menarik bagi penonton yang mencari ketegangan dan kengerian tanpa harus bergantung pada elemen supranatural atau hantu.