Teori VECI Jimmy Gani untuk Meningkatkan Daya Saing BUM Desa

oleh -7 Dilihat
Teori VECI Jimmy Gani untuk Meningkatkan Daya Saing BUM Desa

KabarDermayu.com – CEO Bakrie Center Foundation (BCF), Jimmy Gani, telah merumuskan sebuah teori inovatif bernama Village Enterprises Competitiveness Index (VECI). Teori ini dirancang khusus untuk menjawab tantangan rendahnya daya saing Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) di seluruh Indonesia.

Jimmy Gani memaparkan teori VECI ini dalam sebuah sidang terbuka disertasi yang diselenggarakannya. Sidang tersebut berjudul “Peningkatan Daya Saing Badan Usaha Milik Desa (Bum Desa)” dan berlangsung di Universitas Indonesia, Depok, pada Selasa, 5 Mei 2026.

Dalam pemaparannya, Jimmy Gani menyoroti data terbaru mengenai BUM Desa di Indonesia. Per Maret 2026, tercatat ada sebanyak 72.807 BUM Desa. Namun, dari jumlah tersebut, baru 45.245 BUM Desa yang telah berbadan hukum.

Lebih lanjut, berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDT) pada tahun 2024, terdapat 31.279 BUM Desa yang mengikuti. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya 12.690 BUM Desa yang berhasil masuk kategori berkembang, dan 1.923 BUM Desa lainnya mencapai kategori maju.

Sebagian besar BUM Desa yang tersisa masih berada dalam kategori perintis dan pemula, menandakan tingkat daya saing yang masih rendah. Salah satu akar permasalahan utama yang diidentifikasi adalah model bisnis yang belum berjalan secara optimal.

Penelitian yang dilakukan Jimmy Gani terhadap 164 BUM Desa mengungkapkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Lebih dari 40% BUM Desa tersebut dikategorikan memiliki daya saing yang cukup. Sementara itu, sisanya berada dalam kategori berdaya saing kurang, bahkan tidak memiliki daya saing sama sekali.

Hanya sebagian kecil, sekitar 14% BUM Desa, yang berhasil mencapai kategori daya saing bagus dan sangat bagus. Angka ini menunjukkan adanya jurang pemisah yang signifikan dalam tingkat keberhasilan BUM Desa.

Jimmy Gani menjelaskan bahwa meskipun Kemendes PDT telah memiliki sistem pemeringkatan BUM Desa, indeks yang ada belum sepenuhnya menggambarkan secara akurat tingkat daya saing BUM Desa itu sendiri. Ia merasa perlu ada alat ukur yang lebih komprehensif.

Menurut analisis Jimmy, terdapat beberapa faktor kunci yang memengaruhi daya saing BUM Desa. Faktor-faktor tersebut meliputi ancaman dari produk pengganti, kelayakan produk yang ditawarkan, semakin mengglobalnya kompetisi, serta peluang pasar yang ada.

Berdasarkan teori VECI yang dirumuskannya, Jimmy Gani mengusulkan empat tahapan langkah transformasi untuk meningkatkan daya saing BUM Desa. Keempat tahapan ini dirancang untuk membawa BUM Desa menuju kemandirian dan keberlanjutan yang lebih baik.

Tahap pertama adalah Reframe. Tahap ini berfokus pada perubahan cara pandang dan strategi BUM Desa. Penekanan utama adalah pada perbaikan kelayakan produk yang ditawarkan, identifikasi dan pemanfaatan peluang pasar, serta perhatian terhadap ancaman dari produk pengganti.

Tahap kedua adalah Restructure. Pada tahap ini, dilakukan restrukturisasi alokasi sumber daya yang ada. Tujuannya adalah untuk menciptakan sumber-sumber pendapatan baru yang lebih beragam dan berkelanjutan bagi BUM Desa.

Baca juga: Dedi Mulyadi Percepat Perbaikan Kota Jawa Barat dari Kabel Semrawut

Tahap ketiga adalah Revitalize. BUM Desa didorong untuk menghidupkan kembali produk dan layanan yang mungkin sudah ada. Hal ini dapat dicapai melalui segmentasi pelanggan yang lebih tepat sasaran atau dengan memperbaharui budaya kerja menjadi lebih agile, yaitu gesit dan adaptif terhadap perubahan.

Tahap keempat adalah Renew. Tahap ini bertujuan untuk membangun kapabilitas baru yang relevan untuk masa depan. Fokusnya adalah pada antisipasi terhadap ancaman produk pengganti, peningkatan kelayakan produk, menghadapi persaingan global yang semakin ketat, serta menangkap peluang-peluang baru.

Jimmy Gani menekankan pentingnya konektivitas, khususnya melalui teknologi dan internet. Ia berpendapat bahwa konektivitas dapat menerobos batasan jarak dan sekat antar wilayah. Hal ini menjadi kesempatan emas bagi desa yang sedang berupaya membangun perekonomiannya.

Dengan konektivitas, desa tidak hanya mengandalkan sumber daya internal. Mereka dapat menjalin kolaborasi, baik antar desa maupun antar wilayah. Jimmy Gani menyarankan agar BUM Desa diberikan bimbingan yang memadai agar mampu mengembangkan potensi daerahnya dan berkolaborasi secara efektif dengan para pemangku kepentingan lainnya.

Teori Village Enterprises Competitiveness Index (VECI) ini rencananya akan diimplementasikan melalui sebuah program yang disebut Collaborative Leadership Program (Bersama Membangun Desa). Program ini merupakan inisiatif dari Bakrie Center Foundation.

Fokus utama dari Collaborative Leadership Program adalah pengembangan kepemimpinan. Tujuannya adalah untuk mendukung penguatan kapasitas BUM Desa agar dapat berfungsi sebagai entitas bisnis yang lebih berdaya saing.

Program ini dirancang secara komprehensif. Meliputi integrasi antara pembekalan kepemimpinan, analisis data yang mendalam, dan pendampingan langsung di lapangan. Collaborative Leadership Program terbuka bagi lulusan baru (fresh graduate) maupun pemuda lokal yang tertarik untuk menjadi fasilitator.

Para peserta tidak hanya akan mempelajari konsep-konsep teoritis, tetapi juga akan terlibat langsung dalam proses kerja yang sistematis. Mereka akan berperan penting dalam membantu BUM Desa bertransformasi.

Lulusan baru dan pemuda lokal yang terpilih akan mengemban peran sebagai fasilitator atau project officer. Tugas mereka meliputi melakukan asesmen terhadap kondisi BUM Desa, mengidentifikasi tantangan dan potensi yang ada, serta berkontribusi dalam penguatan model bisnis BUM Desa.

Proses penguatan model bisnis ini akan dilakukan secara kolaboratif. Melibatkan para pengelola BUM Desa dan pemangku kepentingan lainnya, sehingga solusi yang dihasilkan lebih relevan dan efektif.

Jimmy Gani mengungkapkan harapannya agar dengan dilaksanakannya Collaborative Leadership Program, semakin banyak BUM Desa yang dapat disurvei. Hal ini penting untuk memahami kondisi riil mereka saat ini. Dengan demikian, intervensi yang akan dilakukan di masa mendatang dapat dipastikan benar-benar efektif dan tepat sasaran.