Bapanas: Indonesia Swasembada Pangan, Impor Hanya 5% untuk 11 Komoditas

by -18 Views
Bapanas: Indonesia Swasembada Pangan, Impor Hanya 5% untuk 11 Komoditas

KabarDermayu.com – Indonesia telah mencapai status swasembada pangan, yang ditandai dengan angka impor yang sangat rendah, yaitu hanya sekitar 5 persen dari total kebutuhan konsumsi 11 komoditas strategis. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Menurut Amran Sulaiman, definisi swasembada pangan yang telah disepakati adalah ketika angka impor tidak melebihi 10 persen dari total kebutuhan. Dengan capaian impor sebesar 5 persen, Indonesia dinilai telah melampaui standar tersebut.

Perhitungan ini didasarkan pada total produksi 11 komoditas pangan strategis yang mencapai 73 juta ton, sementara impor untuk kebutuhan konsumsi hanya sekitar 3,5 juta ton. Angka impor ini, jika dibandingkan dengan total produksi, hanya berkisar 4,8 persen.

Jika dibandingkan dengan total kebutuhan konsumsi 11 komoditas strategis yang mencapai 68 juta ton, angka impor 3,5 juta ton tersebut setara dengan lebih dari 5 persen. Namun, angka ini masih berada di bawah ambang batas 10 persen yang menjadi konsensus internasional menurut Food and Agriculture Organization (FAO).

Lebih lanjut, Amran Sulaiman merinci bahwa total impor 3,5 juta ton tersebut terdiri dari kedelai sebanyak 2,6 juta ton, bawang putih sebesar 600 ribu ton, dan daging ruminansia mencapai 350 ribu ton. Sementara itu, kebutuhan konsumsi tahunan untuk 11 komoditas pangan pokok ini adalah sebesar 68,7 juta ton.

Sebelas komoditas pangan pokok strategis yang dimaksud adalah beras, jagung pakan, cabai rawit, cabai besar, daging ayam, telur ayam, bawang merah, gula konsumsi, kedelai, bawang putih, serta daging sapi dan kerbau. Dari produksi dalam negeri saja, kesebelas komoditas ini mampu menghasilkan total 73,7 juta ton per tahun.

Amran Sulaiman menegaskan bahwa pencapaian ini menunjukkan bahwa Indonesia saat ini telah berada dalam kondisi swasembada pangan, ketahanan pangan, dan kemandirian pangan secara bersamaan. Keempat belas komoditas pangan yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2022 ini, dengan beras sebagai komoditas dengan porsi konsumsi terbesar, telah terpenuhi kebutuhan nasionalnya.

Porsi konsumsi beras dari total 68,7 juta ton kebutuhan 11 komoditas pangan pokok tersebut mencapai 45,2 persen, atau setara dengan 31,1 juta ton. Oleh karena itu, pemerintah memberikan prioritas tinggi untuk memastikan ketersediaan pasokan beras nasional yang kokoh.

Baca juga di sini: Viro ekspansi ke segmen bangunan modular prefabrikasi dengan Virocroft

Salah satu indikator keberhasilan dalam menjaga stok beras nasional adalah melalui peningkatan signifikan pada stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Data per 23 April 2026 menunjukkan stok beras Bulog telah mencapai lebih dari 5 juta ton.

Jumlah stok beras Bulog ini mengalami peningkatan yang sangat pesat, yaitu sebesar 264,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama dua tahun sebelumnya, di mana stoknya hanya berkisar 1,37 juta ton. Dibandingkan dengan stok pada 23 April 2025 yang mencapai 3,01 juta ton, stok per 23 April 2026 meningkat sebesar 65,8 persen.

Peningkatan stok yang signifikan ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras. Hal ini juga dapat dilihat dari realisasi penyerapan produksi dalam negeri untuk stok beras Bulog. Per 23 April 2026, realisasi penyerapan produksi dalam negeri telah mencapai 2,31 juta ton.

Tingkat penyerapan ini mengalami lonjakan drastis dalam dua tahun terakhir. Dibandingkan dengan periode Januari-April 2024, capaian kali ini meningkat hingga 790 persen, mengingat realisasi pada periode tersebut hanya 259,9 ribu ton. Sementara itu, dibandingkan dengan Januari-April 2025 yang mencapai 1,78 juta ton, terjadi peningkatan sebesar 29,4 persen.

Amran Sulaiman menjelaskan bahwa beras seringkali dianggap identik dengan pangan karena porsi konsumsinya yang sangat besar dalam pola makan masyarakat Indonesia, yang bisa mencapai 60 hingga 80 persen dari total konsumsi pangan. “Intinya di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo saat ini, satu, pangan beres. Dua, protein beres. Jadi yang dibutuhkan tubuh kita ini adalah karbohidrat dan protein, sudah terpenuhi,” tegasnya.

Menanggapi hal ini, Pengamat Ekonomi Politik Ichsanuddin Noorsy menilai bahwa pencapaian stok CBP yang melebihi 5 juta ton merupakan penanda kemandirian pangan bagi Indonesia. Ia sepakat bahwa Indonesia telah mendekati kemandirian dalam hal beras.

Pencapaian swasembada beras ini juga tercantum dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025. Untuk tahun 2025, diproyeksikan tidak akan ada impor beras karena produksi dalam negeri sepanjang tahun yang diperkirakan mencapai 34,69 juta ton telah mencukupi kebutuhan konsumsi tahunan sebesar 31,16 juta ton.

Implikasi positif dari capaian ini juga terlihat pada Nilai Tukar Petani (NTP) Tanpa Perikanan secara nasional. Sejak Juli 2024, NTP Tanpa Perikanan terus terjaga di atas angka 120. Indeks NTP Tanpa Perikanan tertinggi dalam tujuh tahun terakhir tercatat pada Desember 2025 dan Februari 2026, yang keduanya berada pada indeks 126,11.

No More Posts Available.

No more pages to load.