Kisah Nelayan Indonesia di Layar Lebar Dunia

oleh -4 Dilihat
Kisah Nelayan Indonesia di Layar Lebar Dunia

KabarDermayu.com – Isu keselamatan nelayan, yang kerap terabaikan dalam layar lebar, kini mendapat sorotan melalui film dokumenter internasional berjudul “All That Separates Us Is Distance”. Film ini tidak hanya mengangkat risiko profesi nelayan, tetapi juga sisi kemanusiaan di baliknya.

Film ini diputar di Indonesia dan diharapkan dapat memicu diskusi yang lebih luas, tidak hanya mengenai keselamatan kerja, tetapi juga isu kesetaraan dalam sektor perikanan. Produksi film ini merupakan inisiatif dari Lloyd’s Register Foundation.

Proses pengambilan gambar dilakukan di tiga negara, salah satunya adalah Indonesia, tepatnya di Pelabuhan Ratu. Kawasan ini dikenal sebagai pusat aktivitas nelayan dengan dinamika kehidupan laut yang kental.

Dalam versi Indonesia, fokus cerita tertuju pada sosok M. Nurafandi, yang akrab disapa Dede Sinar. Ia digambarkan sebagai nelayan yang tidak hanya berjuang di laut, tetapi juga menjadi pilar bagi keluarga dan komunitasnya.

Kisah Dede Sinar berjalan paralel dengan dua tokoh nelayan lainnya dari Ghana dan Inggris. Perbandingan ini menunjukkan bahwa meskipun berbeda negara, risiko dan tantangan yang dihadapi para nelayan memiliki banyak kesamaan.

Film dokumenter ini tidak hanya menampilkan aktivitas melaut semata. Lebih dari itu, film ini menyelami lebih dalam kehidupan keluarga nelayan, tekanan ekonomi yang mereka hadapi, hingga harapan yang mereka gantungkan pada laut.

Dengan pendekatan naratif yang mendalam, film ini berupaya mengubah persepsi publik. Dari yang semula hanya melihat nelayan sebagai pekerja berisiko tinggi, menjadi manusia utuh dengan cerita kehidupan yang kompleks.

Setyawati Fitrianggraeni, Head of Research on Maritime Law, Policy, and Governance Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia (GISLI), menilai film ini sangat relevan dengan upaya mendorong sistem maritim yang lebih aman dan berkelanjutan.

GISLI, menurut Setyawati, merupakan ajakan untuk bergerak bersama demi mewujudkan ekosistem maritim yang lebih selamat dan beretika. Ia menekankan bahwa kerangka hukum dan tata kelola akan mencapai efektivitas maksimal jika memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan semua pihak yang bergantung pada laut.

Dari sisi produksi, Olivia Swift, Head of Maritime Systems Lloyd’s Register Foundation, menyoroti pentingnya menghadirkan narasi yang lebih manusiawi saat membahas isu-isu terkait nelayan.

Olivia menjelaskan bahwa pemberitaan mengenai nelayan seringkali berfokus pada risiko pekerjaan mereka. Namun, di balik itu, terdapat manusia dengan harapan, keluarga, dan komunitas yang patut diceritakan.

Ia menambahkan, sangat penting untuk menceritakan kisah mereka dan membiarkan suara mereka didengar oleh publik secara luas.

Koordinator International Fund for Fishing Safety (IFFS), Alan McCulla, memiliki pandangan serupa. Ia berpendapat bahwa nelayan di berbagai belahan dunia memiliki keterikatan yang kuat, meskipun terpisah oleh jarak geografis yang jauh.

Alan menuturkan bahwa ada ikatan yang sama antara nelayan di Indonesia, Ghana, dan Inggris. Satu-satunya pemisah di antara mereka adalah jarak fisik semata.

Pada akhirnya, tujuan utama yang sama adalah menyelamatkan jiwa, melindungi keluarga, dan menjaga keberlangsungan komunitas mereka.

Di Indonesia, pemutaran film ini dianggap sangat tepat waktu. Hal ini sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap perlindungan hak-hak nelayan.

Country Lead Ocean Centres Indonesia, Randhi Satria, menyoroti relevansi film ini dengan perkembangan kebijakan nasional terkini.

Randhi menjelaskan bahwa pemutaran film ini hadir pada momentum yang sangat tepat, termasuk dengan adanya ratifikasi ILO C188. Ia menekankan bahwa keselamatan adalah fondasi krusial bagi ekonomi laut yang berkelanjutan.

Hal ini sejalan dengan prinsip “Safety at the Heart of Sustainability” dan target Sustainable Development Goals (SDG) ke-8 yang berfokus pada pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Kuota Khusus Rekrutmen Polri Akan Ditiadakan

Melalui pendekatan yang intim dan lintas negara, “All That Separates Us Is Distance” bukan sekadar sebuah tontonan. Film ini menjadi pengingat bahwa di balik luasnya lautan, terdapat kisah-kisah kemanusiaan yang seringkali terlewatkan.