Kopitiam Mengambil Alih Selera Anak Muda, Kafe Modern Mulai Terabaikan

by -28 Views
Kopitiam Mengambil Alih Selera Anak Muda, Kafe Modern Mulai Terabaikan

KabarDermayu.com – Di tengah menjamurnya kedai kopi modern, sebuah tren baru yang tak kalah menarik mulai mencuri perhatian, terutama di kalangan anak muda. Konsep kopitiam, yang mengusung nuansa klasik khas Asia Tenggara, kini bangkit dan menawarkan alternatif yang kian digemari di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya.

Data yang tercatat hingga November 2025 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 461 ribu kedai kopi. Kehadiran kopitiam di tengah pertumbuhan pesat ini menawarkan pendekatan yang berbeda. Konsep ini lebih sederhana, namun memiliki kekuatan yang signifikan dalam hal rasa dan pengalaman yang ditawarkan kepada konsumen.

Kopitiam sendiri bukanlah konsep yang sepenuhnya baru. Berakar dari budaya Malaysia dan Singapura sejak awal abad ke-20, tempat-tempat ini dikenal dengan sajian khasnya. Menu seperti kopi tarik, teh tarik, dan roti kaya toast telah menjadi ciri khas yang identik dengan kopitiam.

Namun, yang membuat kopitiam kembali relevan di era modern adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan selera generasi sekarang. Kopitiam berhasil mempertahankan identitas tradisionalnya sambil tetap menawarkan sesuatu yang menarik bagi konsumen masa kini. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuatnya semakin populer.

Menurut Doddy Samsura, perubahan preferensi konsumen menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kebangkitan tren kopitiam ini. Konsumen kini cenderung mencari minuman yang lebih mudah diterima, tidak terlalu rumit, namun tetap kaya rasa dan nyaman untuk dinikmati kapan saja.

“Pertumbuhan kopitiam di Indonesia tidak lepas dari perubahan preferensi konsumen yang kini cenderung mencari minuman yang lebih approachable, tidak terlalu kompleks, tetapi tetap kaya rasa dan nyaman dinikmati kapan saja,” ujar Doddy dalam keterangannya, dikutip Sabtu 25 April 2026.

Selain itu, faktor keakraban dengan selera lokal juga memainkan peran penting. Profil rasa yang ditawarkan kopitiam cenderung lebih dekat dengan lidah masyarakat Indonesia. Berbeda dengan konsep specialty coffee yang berfokus pada asal-usul biji kopi dan teknik penyeduhan yang spesifik, kopitiam justru lebih menekankan pada proses blending dan konsistensi rasa.

Di sinilah letak kompleksitas kopitiam, yaitu bagaimana menciptakan rasa yang stabil dan dapat diterima oleh berbagai segmen konsumen. Pendekatan ini menempatkan kopitiam pada posisi yang unik, berada di antara tradisi dan modernitas, sehingga mampu menjangkau audiens yang lebih luas.

Baca juga di sini: Tasya Farasya Bagikan Tips Hubungan Baik Pasca Perceraian

Selain rasa, pengalaman yang ditawarkan oleh kopitiam juga menjadi kunci kesuksesannya. Kopitiam tidak hanya menjual minuman, tetapi juga menawarkan suasana yang akrab dan membangkitkan nostalgia. Banyak tempat kini memadukan interior klasik dengan sentuhan modern, menciptakan ruang yang tidak hanya nyaman tetapi juga estetik.

Tampilan visual minuman juga menjadi perhatian penting bagi generasi muda yang aktif di media sosial. Sajian yang menarik secara visual, mulai dari kombinasi warna, tekstur yang creamy, hingga cara penyajian, semuanya menjadi bagian integral dalam membangun daya tarik sebuah produk.

Head of Marketing PT Etika Beverages Indonesia, Dodi Afandi, menilai bahwa tantangan ke depan bagi industri kopitiam bukan hanya sebatas mengikuti tren, tetapi juga menjaga keaslian rasa. Ia melihat masih ada kesenjangan yang cukup besar dalam hal autentisitas rasa, di mana banyak menu yang terlihat serupa namun belum sepenuhnya menghadirkan pengalaman khas seperti di negara asalnya.

“Tren kopitiam di Indonesia berkembang sangat cepat, namun kami melihat masih ada gap yang cukup besar dalam hal autentisitas rasa. Banyak menu yang terlihat serupa, tetapi belum menghadirkan pengalaman yang benar-benar khas seperti yang ditemukan di Malaysia. Ke depan, konsistensi dan karakter rasa mulai dari tekstur creamy hingga keseimbangan rasa akan menjadi kunci bagi pelaku usaha untuk membangun diferensiasi dan daya saing di pasar,” ujar Dodi.

Perkembangan tren ini juga turut mendorong perhatian pada penggunaan bahan baku. Salah satu bahan yang kerap digunakan dan berkontribusi dalam membentuk identitas rasa kopitiam adalah Dairy Champ, sebuah produk asal Malaysia yang dikenal memiliki karakter creamy dan konsisten.

Bahan ini dimanfaatkan oleh berbagai kopitiam untuk menghasilkan tekstur yang lembut dan rasa yang seimbang, baik pada minuman panas seperti kopi tarik maupun pada sajian dingin yang lebih modern. Pendekatan ini menunjukkan bahwa di balik kesederhanaannya, kopitiam tetap mengandalkan formulasi rasa yang presisi untuk menciptakan pengalaman yang autentik sekaligus relevan dengan selera masa kini.

Ke depan, kopitiam diprediksi akan terus mengalami pertumbuhan. Minat masyarakat terhadap konsep yang menggabungkan warisan budaya dengan gaya hidup modern terus meningkat. Dengan karakter rasa yang kuat dan pengalaman yang khas, kopitiam berpotensi menjadi salah satu segmen paling menjanjikan dalam industri kuliner di Indonesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.