KabarDermayu.com – Pelatih Timnas Indonesia U-17, Kurniawan Dwi Yulianto, menyuarakan keprihatinannya yang mendalam terkait insiden kekerasan yang terjadi dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20. Kejadian tersebut melibatkan tendangan yang disebut “kungfu” oleh Fadly Alberto, seorang mantan pemain Timnas U-17, dalam pertandingan antara Dewa United U-20 melawan Bhayangkara FC U-20 di Stadion Citarum pada Minggu, 19 April 2026.
Insiden yang terekam dan viral di media sosial tersebut terjadi di tengah kericuhan yang melanda pertandingan. Kurniawan menilai bahwa peristiwa seperti ini sangat disayangkan, terutama karena terjadi di jenjang usia muda yang seharusnya menjadi ajang pembinaan pemain.
Ia menegaskan bahwa kontak fisik yang berlebihan dan tindakan kekerasan tidak seharusnya terjadi dalam sebuah kompetisi yang bertujuan untuk mengembangkan bakat-bakat sepak bola usia dini.
“Ya tentunya melihat kejadian kemarin cukup sedih ya. Artinya terlepas itu pemain nasional ataupun bukan, tapi di kelompok junior tidak boleh terjadi,” ujar Kurniawan saat ditemui awak media di Lapangan A, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 24 April 2026.
Baca juga di sini: Misi Cetak Atlet Kampus Berkelas Dunia Dimulai di Campus League
Kericuhan itu sendiri bermula ketika pertandingan berlangsung dengan tensi yang tinggi. Situasi memanas setelah Dewa United U-20 berhasil mencetak gol kedua yang mengubah skor menjadi 2-1. Gol tersebut diperselisihkan oleh tim Bhayangkara FC U-20 yang menganggap adanya pelanggaran offside, sehingga memicu ketegangan di lapangan.
Pergolakan di lapangan kemudian meluas menjadi keributan yang melibatkan banyak pemain. Dalam momen tersebut, Fadly Alberto terlihat melakukan tendangan kungfu ke arah wajah salah satu pemain Dewa United. Selain Fadly, dua pemain Bhayangkara FC U-20 lainnya juga terekam melakukan tindakan kekerasan. Bahkan, pelatih kiper tim tersebut, Ferdiansyah, juga terlihat ikut berada di tengah insiden.
Kurniawan menekankan bahwa tindakan semacam itu sangat mencederai nilai-nilai fair play yang seharusnya menjadi pegangan utama, apalagi bagi pemain muda yang masih memiliki karier panjang di dunia sepak bola.
“Karena karier mereka masih panjang, kemudian hal-hal tersebut kan mencederai fair play,” tambahnya.
Sebagai pelatih Timnas Indonesia U-17, Kurniawan mengaku selalu menekankan pentingnya disiplin dan sikap yang baik kepada seluruh pemainnya. Ia secara konsisten meminta anak asuhnya untuk menjaga perilaku mereka, baik saat berada di dalam maupun di luar lapangan pertandingan.
Menurutnya, aspek adab dan rasa hormat merupakan fundamental yang harus dimiliki oleh setiap pemain muda, selain kemampuan teknis dan taktik dalam bermain sepak bola.
“Terus untuk ke para pemain sendiri kita selalu mengingatkan dan kita memang selalu bikin aturan yang cukup ketat ya masalah disiplin, kemudian masalah attitude,” kata Kurniawan.
“Kemudian yang paling penting adalah adab bagaimana mereka respek kepada antar pemain, kepada official, dan orang-orang sekitar. Kita tekankan itu ke para pemain kita,” lanjutnya.
Adapun insiden yang melibatkan para pemain muda tersebut dilaporkan telah berhasil diselesaikan secara damai. Kedua tim, Dewa United dan Bhayangkara FC, telah mengadakan pertemuan dan sepakat untuk berdamai pada Rabu sebelumnya.
Fadly Alberto, yang menjadi sorotan utama dalam insiden tersebut, juga dilaporkan telah menyampaikan permintaan maafnya kepada pemain Dewa United, Rakha Nurkholis. Keduanya dikabarkan telah saling memaafkan dalam pertemuan tersebut, yang menandai berakhirnya konflik yang sempat mencoreng citra kompetisi usia muda di tingkat nasional.





