KabarDermayu.com – Upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) saat ini belum dapat diimplementasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kendala utama yang dihadapi adalah absennya pertumbuhan awan konvektif yang menjadi syarat mutlak dalam proses penyemaian garam.
Operasi Modifikasi Cuaca sendiri merupakan teknik intervensi manusia untuk memicu atau meningkatkan curah hujan. Metode ini melibatkan penyemaian bahan kimia, umumnya Natrium Klorida (NaCl) atau garam, ke dalam gumpalan awan potensial menggunakan pesawat khusus. Proyek ini merupakan kolaborasi strategis yang melibatkan para pakar dari BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta dukungan teknis dari TNI Angkatan Udara.
Tri Handoko Seto, selaku Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, memberikan keterangan di Jakarta pada Senin, bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan intensif terhadap dinamika atmosfer. Berdasarkan analisis terbaru, pelaksanaan OMC kemungkinan besar belum bisa dilakukan dalam kurun waktu 10 hari ke depan. Hal ini sangat bergantung pada perkembangan pertumbuhan awan di masing-masing wilayah yang sedang dilanda kebakaran.
“Kondisi setiap daerah berbeda-beda, namun kami terus memantau setiap pergerakan awan hingga muncul potensi yang memungkinkan untuk dilakukan OMC,” jelasnya.
Keterangan dari pihak BMKG ini muncul di tengah meningkatnya laporan mengenai sebaran titik api di berbagai wilayah Indonesia selama periode 7 hingga 10 Agustus 2026. Data dari BNPB menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan telah meluas di sejumlah titik krusial, mulai dari Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Bangka Belitung, Sulawesi, Maluku Utara, hingga wilayah Papua Barat Daya.
Dampak karhutla yang paling disorot terjadi di Jawa Timur, khususnya di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, melaporkan bahwa hingga Minggu malam, 9 Agustus, luas area yang terdampak mencapai 520 hektare. Sebagai langkah antisipasi dan pelindungan, otoritas setempat telah memberlakukan penutupan total bagi seluruh akses masuk wisatawan sejak Sabtu, 8 Agustus, hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Selain di TNBTS, wilayah Jawa Timur juga mencatat kebakaran pada 6,5 hektare lahan milik Perhutani di Gunung Watangan, Kabupaten Jember. Di wilayah lainnya, kebakaran lahan juga terjadi di Jawa Barat (Subang) seluas dua hektare, serta di Jawa Tengah yang meliputi Jepara (dua hektare) dan Banyumas (tiga hektare). Salah satu pemicu yang dicatat otoritas adalah aktivitas pembakaran sampah yang tidak terkontrol.
Sementara itu, di Pulau Sulawesi, api melalap 72,4 hektare lahan di Pulau Bakalan, Banggai Kepulauan, serta tiga hektare di Gunung Batu Pongki, Sulawesi Tengah. Tim gabungan juga masih berupaya memadamkan api yang membakar 15 hektare lahan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Di luar wilayah tersebut, titik api juga terdeteksi di Aceh Besar, Bangka Belitung, Halmahera Timur, hingga Sorong.
Untuk menangani situasi darurat ini, Abdul Muhari menegaskan bahwa tim gabungan di lapangan tetap bersiaga penuh. Berbagai upaya mitigasi terus dilakukan, di antaranya:
- Penggunaan peralatan pemadaman darat yang intensif.
- Pengerahan truk tangki air di area yang dapat dijangkau kendaraan.
- Pembuatan sekat bakar sebagai langkah pencegahan perluasan api.
- Operasi pemadaman dari udara (waterbombing) menggunakan helikopter di lokasi yang sulit dijangkau.
BMKG dan instansi terkait terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api di tengah kondisi cuaca kering dan musim kemarau saat ini.





