Pemerintah Didorong Perkuat Produksi Migas dan Industri Baterai Nikel

by -8 Views
Pemerintah Didorong Perkuat Produksi Migas dan Industri Baterai Nikel

KabarDermayu.com – Ikatan Alumni Geologi Institut Teknologi Bandung (IAGL ITB) mendesak pemerintah untuk memprioritaskan peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) di tengah ketegangan geopolitik global yang meningkat.

Selain itu, IAGL ITB juga mendorong agar batubara dan nikel dijadikan pilar energi nasional. Upaya ini diharapkan dapat diwujudkan melalui kolaborasi strategis antara akademisi, pemerintah, dan para pelaku industri demi mencapai kedaulatan dan kemandirian energi di Indonesia.

Ketua Umum IAGL ITB, Abdul Bari, menyatakan bahwa peningkatan produksi migas dapat dicapai dengan memberikan insentif fiskal yang kompetitif. Ia juga menekankan pentingnya penguatan supervisi dan tata kelola yang baik.

Penyederhanaan regulasi dan kontrak kerja sama, serta peningkatan koordinasi yang terpadu antar kementerian dan lembaga juga dinilai krusial untuk mempercepat realisasi produksi migas.

Abdul Bari memaparkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi defisit energi yang mengkhawatirkan. Kebutuhan minyak bumi nasional mencapai 1,7 juta barel per hari, sementara produksi harian hanya mampu memenuhi 605.000 barel per hari. Kondisi ini semakin diperparah oleh ketidakstabilan geopolitik global yang mengganggu rantai pasok minyak bumi internasional.

“Jika konflik geopolitik dunia terus berlanjut, defisit energi ini diprediksi akan semakin menggerus perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis dan memperkokoh kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri agar dapat menentukan arah kebijakan yang terfokus dan strategis menanggapi isu ketidakstabilan energi nasional,” ujar Bari dalam Seminar Nasional Dinamika Geopolitik di Gedung Antam pada Sabtu, 25 April 2026.

Untuk mengantisipasi kondisi siaga energi, IAGL ITB merekomendasikan pemerintah untuk mempercepat eksplorasi migas secara agresif dan efektif. Hal ini bertujuan untuk memperkuat cadangan energi nasional dan memastikan keberlanjutan produksi dalam jangka menengah hingga panjang.

“Rekomendasi dari kami adalah peningkatan lifting minyak melalui insentif fiskal bagi perusahaan minyak untuk melakukan eksplorasi secara agresif. Kedua, hilirisasi batubara sudah menjadi kewajiban karena kita harus beralih pada energi yang kita miliki sendiri. Demikian juga dengan nikel, yang penting sebagai penyimpan energi untuk kendaraan listrik (EV), sehingga menuju kemandirian dan kedaulatan energi akan lebih cepat tercapai,” jelas Bari.

Selain peningkatan produksi migas dan hilirisasi nikel untuk ekosistem industri baterai, pemerintah juga didorong untuk mengembangkan pembangkit listrik berbasis batubara yang lebih bersih.

Menurut Bari, di tengah ancaman defisit energi, batubara dan nikel memiliki peluang strategis sebagai pilar energi karena kekayaan sumber daya alam Indonesia yang melimpah.

Indonesia diperkirakan memiliki sumber daya batubara sebesar 97 miliar ton, dengan cadangan terbukti sekitar 32 miliar ton, menjadikannya salah satu negara dengan cadangan batubara terbesar di dunia.

Potensi batubara ini sangat penting sebagai sumber energi, khususnya untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat.

Pengembangan hilirisasi batubara juga menjadi fokus strategis, termasuk melalui gasifikasi menjadi dimethyl ether (DME), peningkatan kualitas batubara (coal upgrading), serta penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

“Upaya tersebut diarahkan untuk menghasilkan energi yang lebih bersih, meningkatkan nilai tambah, serta mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan,” papar Bari.

Sementara itu, nikel Indonesia memiliki potensi sumber daya dan cadangan yang dapat menghasilkan listrik sebesar 50 GWh per tahun, dengan potensi keseluruhan di atas 1 TWh.

Nikel merupakan bahan baku krusial dalam produksi baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi, menempatkan Indonesia sebagai pemain sentral dalam transisi energi global.

Rekomendasi lain yang disampaikan kepada pemerintah adalah percepatan transisi menuju ekosistem energi berbasis listrik untuk mengurangi ketergantungan pada energi berbasis minyak bumi secara bertahap.

Baca juga di sini: Bandara Internasional Imam Khomeini Buka Kembali Penerbangan Internasional

IAGL ITB juga menekankan pentingnya penguatan sinergi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri dalam merumuskan serta mengimplementasikan kebijakan energi nasional yang efektif, terarah, dan berorientasi pada pencapaian kedaulatan energi nasional.

“Melalui revitalisasi produksi migas sebagai langkah prioritas jangka pendek, yang dijalankan secara paralel dan sinergis dengan optimalisasi batubara dan nikel, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari ketergantungan energi dan memperkuat kedaulatan energi nasional,” katanya.

IAGL ITB berkomitmen untuk terus mendukung implementasi strategi tiga pilar ini melalui riset, advokasi kebijakan, serta kolaborasi erat dengan pemerintah dan pelaku industri demi memastikan respons yang cepat, terarah, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan energi.

“Dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya batubara dan nikel secara optimal, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari ketergantungan energi dan membangun kedaulatan energi nasional yang kuat. IAGL ITB berkomitmen untuk terus mendukung upaya ini melalui riset, advokasi kebijakan, dan kolaborasi strategis dengan seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menyatakan bahwa pemerintah berupaya maksimal untuk meningkatkan lifting migas, termasuk mengoptimalkan sumur minyak dan gas bumi yang sudah tidak aktif namun masih berpotensi diaktifkan kembali.

“Karena kita masih memiliki cekungan-cekungan yang belum dieksplorasi. Dari 128 cekungan yang ada, baru 60 cekungan yang tereksplorasi dan dieksploitasi, masih ada 68 cekungan yang belum tersentuh. Sebagian besar berada di laut dalam, dan temuan terkini selalu berupa gas. Indonesia memang kaya akan gas alam, bahkan ditemukan cadangan sebesar 5 TCF oleh ENI,” papar Sugeng.

Sugeng berharap para geolog mampu melakukan eksplorasi dan eksploitasi terhadap 68 cekungan tersebut untuk mengetahui apakah hanya berisi sedimen atau hidrokarbon.

“Itulah yang menjadi perhatian kami juga, sehingga cadangan nasional kita, khususnya di sektor migas, saat ini masih tergolong kecil, hanya 2,4 miliar barel,” ucap Sugeng.

Eksplorasi yang dilakukan oleh para geolog sangat penting untuk mengungkap akurasi cadangan geologis sektor migas.

Terkait hilirisasi nikel, Sugeng mengonfirmasi bahwa hal tersebut telah dilakukan oleh pemerintah. Hilirisasi merupakan bagian dari rantai industri di berbagai tingkatan.

“Memang hilirisasi terdepan adalah industri, salah satunya baterai. Saat ini kita sudah memproduksi nickel pig iron (NPI) untuk baja, stainless steel, dan produk lainnya. Dalam konteks industri, semua berjalan secara bertahap,” ungkapnya.

“Kita telah mendorong hilirisasi nikel, bahkan Presiden telah meresmikan Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan basis litium ion. Kita akan terus memproduksi baterai karena ujung dari persaingan energi adalah baterai energy storage system (BESS). Indonesia memiliki nikel dan kobalt yang besar, yang sangat mendukung produksi baterai litium ion,” sambung Sugeng.

Mengenai batubara, Sugeng menuturkan bahwa pasokan yang sangat mencukupi saat ini membuat harga listrik tetap terjangkau oleh masyarakat.

“Batubara kita memiliki kebijakan DMO (domestic market obligation) dan DPO (domestic price obligation). Harga batubara untuk kepentingan listrik hanya 70 dolar per ton untuk GAR tertinggi. Konsumsi PLN menggunakan GAR 4000 sehingga relatif murah, mengingat 67% listrik kita masih menggunakan PLTU batubara sebagai basis beban,” kata Sugeng.

No More Posts Available.

No more pages to load.