Perang Iran vs Israel-AS Pengaruhi Ekonomi, Jepang Khawatir Harga Bensin Melonjak

by -15 Views
Perang Iran vs Israel-AS Pengaruhi Ekonomi, Jepang Khawatir Harga Bensin Melonjak

KabarDermayu.com – Eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran baru bagi perekonomian Jepang, khususnya terkait potensi lonjakan harga energi global. Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi inti di Jepang mengalami kenaikan untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir, yaitu pada bulan Maret 2026.

Berdasarkan catatan pemerintah, inflasi inti pada bulan Maret mencapai 1,8 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan 1,6 persen yang tercatat pada bulan Februari, dan sesuai dengan prediksi para ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Sementara itu, inflasi utama atau headline inflation tercatat sebesar 1,5 persen, mengalami peningkatan dari 1,3 persen pada bulan Februari. Meskipun menunjukkan kenaikan, angka ini masih berada di bawah target inflasi sebesar 2 persen yang ditetapkan oleh Bank of Japan (BOJ) selama dua bulan berturut-turut.

Menariknya, inflasi yang tidak memperhitungkan harga makanan segar dan energi justru mengalami penurunan. Angka ini tercatat sebesar 2,4 persen, turun dari sebelumnya 2,5 persen, dan merupakan level terendah sejak Oktober 2024.

Kenaikan tekanan inflasi ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran global mengenai potensi lonjakan harga minyak mentah akibat ketegangan geopolitik di Iran. Menyadari potensi dampaknya terhadap masyarakat, pemerintah Jepang mulai merancang berbagai langkah antisipasi.

Baca juga di sini: Penjelasan Henan Asset Mengenai Pengumuman MSCI di Semi-Annual Index Review Mei 2026

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, tengah mempertimbangkan sejumlah kebijakan strategis untuk meredam lonjakan biaya bahan bakar. Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah penerapan pembatasan harga bensin.

Selain itu, Tokyo juga telah mengambil langkah konkret dengan melepas cadangan minyak mentah dari stok nasional. Tujuannya adalah untuk meminimalisir potensi guncangan harga minyak di pasar global. Subsidi bahan bakar juga telah mulai disalurkan kepada masyarakat sejak bulan Maret.

Dalam rencananya, pemerintah berupaya membatasi harga bensin rata-rata nasional pada level 170 yen per liter. Nilai ini setara dengan sekitar US$1,07 atau sekitar Rp18.190 per liter, dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS. Pemerintah bahkan memberikan peringatan bahwa tanpa intervensi, harga bensin berpotensi melonjak hingga 200 yen per liter, atau sekitar Rp34.000 per liter.

Jika harga bensin benar-benar mendekati angka 200 yen dan kemudian dibatasi pada level 170 yen, estimasi biaya subsidi yang harus ditanggung pemerintah diperkirakan mencapai 300 miliar yen setiap bulannya. Berkat berbagai dukungan yang diberikan pemerintah, termasuk penghentian sementara pajak bensin, biaya energi di Jepang tercatat mengalami penurunan sebesar 5,7 persen pada bulan Maret.

Meskipun demikian, para analis dari Credit Agricole Corporate and Investment Bank (CACIB) memberikan pandangan yang lebih hati-hati. Mereka memperingatkan bahwa risiko inflasi belum sepenuhnya mereda. “Kenaikan harga minyak mentah yang didorong oleh risiko geopolitik diperkirakan akan memperumit pergerakan indikator harga,” ungkap seorang analis sebagaimana dikutip dari CNBC, Jumat, 24 April 2026.

Para analis menilai, jika harga minyak terus bertahan tinggi dan subsidi energi tidak diperluas, inflasi inti di Jepang berpotensi merangkak naik mendekati angka 3 persen pada akhir tahun fiskal 2026.

Di sisi lain, kenaikan biaya energi ini juga berpotensi menggerus daya beli rumah tangga. Hal ini kemungkinan akan membuat inflasi inti, yang lebih mencerminkan permintaan domestik, tetap tertahan di bawah angka 2 persen.

Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan oleh Bank of Japan pun kembali menguat. Sebuah survei yang dirilis oleh BOJ pada awal pekan ini menunjukkan bahwa lebih dari 83 persen responden memperkirakan harga-harga akan mengalami kenaikan dalam satu tahun ke depan.

Takayasu Kudo, seorang analis dari Bank of America, berpendapat bahwa dampak kenaikan harga energi akan semakin terasa kuat mulai memasuki musim panas. “Perkembangan ini seharusnya memperkuat alasan bagi BOJ untuk mempertahankan jalur kenaikan suku bunga secara bertahap. Kami masih melihat kemungkinan kuat bahwa BOJ akan mempertahankan kecenderungan menuju kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam jangka menengah,” ujarnya.

Pertemuan kebijakan moneter BOJ yang dijadwalkan pada tanggal 27–28 April mendatang diperkirakan akan memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 0,75 persen. Namun, banyak analis memprediksi bahwa keputusan tersebut akan memiliki nada yang lebih hawkish, mengingat kekhawatiran terhadap pelemahan nilai tukar yen dan risiko inflasi yang semakin meningkat.

Di tengah berbagai tekanan ekonomi ini, Jepang sebenarnya baru saja berhasil lolos tipis dari jurang resesi teknikal. Pada kuartal terakhir tahun 2025, ekonomi Jepang mencatat pertumbuhan sebesar 0,3 persen secara kuartalan dan 1,3 persen secara tahunan.

No More Posts Available.

No more pages to load.